Kelahiran dan Kematian Trem di Kota Malang

Oleh: Tony Firman - 22 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Trem pernah berjaya di kota Malang, menghubungkan satu manusia dengan manusia lain dan mengangkut hasil perkebunan. Mati pelan-pelan karena pergantian rezim dan maraknya kendaraan bermotor.
tirto.id - Hawa sejuk menjadikan kota Malang tempat pemukiman dan persinggahan favorit. Geliat kemajuan dan keramaian di kota ini dapat ditelusuri kembali di akhir abad ke-19.

Kala itu, Malang adalah sebuah kota kabupaten di pedalaman yang termasuk dalam teritori Karesidenan Pasuruan. Kota-kota kolonial di Jawa secara geografis dibagi menjadi kota pesisir dan kota pedalaman. Malang termasuk dalam kategori yang kedua. Dengan kondisi geografis yang diapit pegunungan tinggi, komoditas andalan Malang adalah hasil pertanian.

Posisinya jelas kontras dengan Surabaya yang lebih dulu ramai dan mengalami proses modernisasi layaknya Semarang dan Batavia. Pembangunan infrastruktur dan bisnis perkebunan di Malang mulai berlangsung sejak pemerintah Belanda memberlakukan Undang-Undang Agraria (Agrarischewet) tahun 1870 dan Undang-Undang Gula (Suikerwet).

Salah satu penanda kemajuan di era kolonial saat itu adalah keterhubungan satu daerah dengan daerah lainnya via jalur kereta api. Tak terkecuali Malang, yang sejak 1876 terhubung dengan Surabaya melalui rel kereta yang dibangun Staat Spoorwagen (SS) selaku perusahaan kereta api milik pemerintahan Hindia Belanda.

Menurut Handinoto dalam "Perkembangan Kota Malang pada Jaman Kolonial (1914-1940)" (1996) yang terbit di jurnal Dimensi, rel kereta api SS yang sejajar dengan jalan masuk ke Malang dan berakhir di stasiun Kota Lama itu sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan Kota Malang. Ada banyak rumah orang Eropa kelak dibangun di sekitar rel.


Jalan-jalan darat penghubung daerah perkebunan dan kota-kota lain seperti Blitar, Batu, dan Surabaya juga dibangun. Memasuki tahun 1900-an, orang tak lagi bisa menyebut Malang kota pedalaman yang terisolir.

Trem yang Menghidupkan Malang

Meningkatnya aktivitas lahan perkebunan diikuti oleh arus perpindahan penduduk ke Malang. Saat itu, alat transportasi seperti sepeda dirasa tak lagi cukup untuk mengakomodir mobilitas sehari-hari. Gerobak dan alat transportasi sejenisnya pun tak lagi mampu mengangkut hasil perkebunan.

Kebutuhan akan alat angkut komoditas dan transportasi massal diendus oleh pengusaha kereta api swasta yang lantas memutuskan untuk membuka jasa angkutan kereta api. Salah satunya, adalah Malang Stoomtram Mattschappij (MSM). Dalam penelitan bertajuk "Malang Stoomtram Mattschappij Pada Masa Kolonial di Malang Tahun 1901-1930" (2017), Galih Wahyu Tri Wicaksono menyebutkan, MSM berhasil mendapat izin konsensi dari pemerintah Hindia Belanda dan mendirikan kantor pusat di Jagalan pada 14 November 1897. Meski demikian, izin baru berlaku setelah MSM menerima surat keputusan pemerintah per 13 Juli 1901 No. 28. Saat itu posisi direktur pertama MSM dijabat oleh J. Bakker.

Sebagai perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa angkutan kereta api, MSM masih satu asosiasi dengan perusahaan trem Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) yang mengoperasikan trayek trem Kediri-Pare-Jombang dan sekitarnya.


Infografik Sejarah Trem


Pembangunan jalur trem sendiri dilakukan secara bertahap. Total ada delapan jalur yang dibangun antara 1897 dan 1908. Banyak jalur trem dibangun di wilayah Malang selatan yang tak lain adalah pusat penghasil tebu dan kopi terbesar pada masanya.

Resmi dibuka pada 14 November 1897, jalur pertama melintang sepanjang 11 km dan menghubungkan Malang dan Bululawang. Jalur kedua, penghubung Bululawang dan Gondanglegi, berjarak 12 kilometer dan resmi beroperasi pada 4 Februari 1898. Jalur ketiga antara Gondanglegi dan Talok yang berjarak tujuh kilometer, beroperasi pada 9 September 1898. Jalur keempat, antara Talok dan Dampit, berjarak delapan kilometer dan dibuka 14 Januari 1899. Jalur kelima, antara Gondanglegi dan Kepanjen, berjarak 17 kilometer dan diresmikan pada 10 Juni 1900.

Jalur keenam Tumpang dan Singasari dengan jarak terpanjang sejauh 23 kilometer, dibuka 27 April 1901. Jalur ketujuh antara Malang dan Blimbing berjarak enam kilometer, dibuka 15 Februari 1903. Terakhir, jalur Sedayu dan Turen dengan jarak terpendek sejauh satu kilometer, dibuka pada 25 September 1908.

Stasiun MSM pertama yang bernama stasiun Malang Jagalan dibangun pada 1900. Puluhan halte pemberhentian trem berdiri di puluhan jalur tersebut.

Jalur-jalur trem juga terhubung ke Pabrik Gula Krebet sehingga pengangkutan hasil tebu jadi lebih efisien. Ada pula jalur trem yang membelah alun-alun Kota Malang. Semua Lokomotif trem MSM dibeli dari perusahaan asal Jerman bernama Hohenzollern.



Trem uap MSM digerakkan oleh tenaga kayu bakar dari pohon jati yang padat keras sehingga awet dan tidak mudah menjadi abu saat dibakar.

Jalur trem juga terkoneksi dengan jalur kereta api Staatspoorwagen (SS) yang makin memudahkan penumpang untuk beralih dari kereta api SS ke kereta api trem dan sebaliknya. Ada tiga stasiun SS kala itu, yakni Malang SS, Singosari, dan Kepanjen.

Singkatnya, trem dan status kotamadya (gemeente) yang disandang Malang sejak 1914 hingga pertengahan abad membuat kota itu makin ramai. Wilayah sekitar halte pemberhentian dan stasiun trem berkembang menjadi pasar-pasar baru yang mempertemukan banyak orang.

Angkutan kereta di Hindia Belanda, baik kereta api jarak jauh maupun kereta trem, memang menjadi moda transportasi favorit bagi penduduk pribumi. Menurut Rudolf Mrazek dalam berjudul Engineer of Happyland (2006), orang-orang pribumi lebih suka bepergian dengan kereta. Sementara orang Eropa lebih suka tinggal di rumah.

Kini, trem di Kota Malang hanya menyisakan kenangan. Sisa-sisa kejayaannya masih dapat dilihat dari rel-rel di bahu jalan raya. Tak semuanya lengkap, karena sebagian besar sudah tertutup oleh trotoar dan aspal jalan.

Begitu pula dengan nasib bangunan stasiun dan halte-halte pemberhentian trem. Sebagian besar sudah hancur, tidak terawat ,dan berganti rupa menjadi bangunan baru. Yang bertahan hanyalah stasiun-stasiun besar yang melayani kereta jarak jauh SS, yakni stasiun Kota Lama, stasiun Singosari, dan stasiun Kepanjen.


Situasi serupa juga terjadi di kota-kota lain yang pernah memiliki jaringan trem. Pergantian kekuasaan dari pemerintahan Hindia Belanda ke pendudukan Jepang hingga Republik Indonesia turut mempengaruhi kejayaan trem sebagai moda transportasi modern yang kala itu memasuki senjakala. Kemunculan bus dan kendaraan bermotor lainnya pada masa kemerdekaan akhirnya membunuh trem.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Tony Firman
Editor: Tony Firman