Kami Dibunuh Pelan-Pelan kalau Dipindah, Kata Pedagang Pasar Senen

Oleh: Riyan Setiawan - 11 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Para pedagang baju bekas di Pasar Senen menolak direlokasi karena merasa tempat baru tidak terkenal.
tirto.id - Malam itu, di salah satu trotoar jalan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kajol (46) meratapi nasibnya dengan berselimut jaket kuning yang cukup tebal. Usaha pakaian bekas yang telah ia geluti sejak 30 tahun lalu digusur oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pada Senin 9 Desember 2019.

Ia bergeming di lokasi hingga saya temui, Senin (9/12/2019) kira-kira pukul 21.00 WIB, sebagai bentuk perlawanan. Kajol, juga sekitar 200an orang yang berprofesi sama sepertinya, menolak dipindah ke Pasar Kenari dan Pasar Metro Atom, Jakarta Pusat.

"Orang-orang sudah tahu kalau pakaian second itu di Pasar Senen sejak dulu. Ini sudah seperti tanah warisan kami," kata Kajol.

Menurutnya, Pasar Kenari kecil dan kurang terkenal. Sementara di Pasar Metro Atom sudah banyak pedagang pakaian bekas, mantan penjual dari Pasar Senen yang sejak dulu telah direlokasi. Ringkasnya, Kajol khawatir pendapatannya berkurang jika pindah tempat berdagang.

"Kalau tidak dagang, mau saya kasih makan apa anak-anak saya?" keluh dia dengan raut muka sedih.

Kajol harus mencari nafkah untuk empat anaknya. Sendirian. Tak ada lagi suami di sisinya sejak bertahun-tahun yang lalu.


Saat digusur Kajol sempat adu mulut dengan petugas. Tapi akhirnya dia mengalah dan membereskan dagangannya. Dagangannya itu dititipkan di gudang terdekat dengan biaya sewa Rp30 ribu. "Saya tunggu sampai mereka (petugas) pergi."

Penolakan itu bukan sekali dua kali Kajol lakukan bersama sesama pedagang. Ini sudah terjadi sejak tahun 2016, ketika Basuki Tjahaja purnama (BTP) masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Sepanjang 2016 hingga 2018 saja, Kajol mengaku barang dagangan sudah 15 kali disita Satpol PP. Tapi dia mengaku tak pernah meminta barangnya kembali. "Saya ikhlasin. Rugi kalau nominal bisa sampai Rp150 juta," katanya sambil melihat sinis ke arah Satpol PP yang tengah memarkir mobil di hadapannya.

Kajol mengaku para pedagang bahkan sampai terlibat bentrok fisik dengan Satpol PP saban penggusuran dilakukan. Hal ini terpaksa dilakukan karena menurutnya aparat kerap menggunakan cara-cara represif, dari mulai mengacak-acak dagangan hingga membuangnya--tentu saja tanpa ganti rugi--ke Bantargebang.

Kajol mendengar mereka tak akan digusur tapi direlokasi dua tahun lalu.

Mereka sempat bernegosiasi dengan Ahok. Hasilnya para PKL disediakan tempat di Blok V, dekat Terminal Senen. Tapi lokasi itu terlalu kecil untuk menampung semua pedagang. Sisanya terpaksa membuka lapak di trotoar persis di seberang Plaza Atrium.

Setelah mendapat informasi relokasi, para pedagang menggelar audiensi ke kecamatan pada Kamis (28/11/2019), dilanjutkan ke Wali Kota Jakarta Pusat, Ahad (1/1/2019).


Permintaan mereka tak muluk-muluk: berharap agar pemerintah mengizinkan dagang sampai Idul Fitri. Kemudian jika digusur, mereka meminta agar dipindahkan ke Pasar Senen Blok III yang kini menjadi Pasar Jaya.

"Alasan habis lebaran agar bisa mengumpulkan modal buat sewa tempat di Blok III. Sewa sekitar Rp3,5 juta-Rp5 juta," terangnya.

Penolakan juga dinyatakan Richard, pedagang pakaian bekas yang lain. Richard meminta Pemprov DKI merelokasi pedagang ke Pasar Senen Blok III. Kebetulan, kata dia, masih ada ribuan meter lahan yang belum terpakai dan rencananya bakal dijadikan taman.

"Bukan enggak ada lahan di sini, ada. Masak enggak bisa tampung kami?" katanya.

Saya mendatangi lahan yang Richard maksud. Tempatnya memang cukup luas, mungkin ribuan meter.

Richard mengaku telah menyurvei ke lokasi yang pemerintah rekomendasikan. Namun ia menilai tempat itu kurang cocok untuk berdagang pakaian bekas. Selain itu, Richard juga keberatan karena harus membayar sewa gedung tiap bulan.

"Kami buat kontrakan saja susah. Kalau kami pindah ke Pasar Kenari atau Atom, sama saja kami dibunuh pelan-pelan."

Ia mengaku tak pernah merusak fasilitas publik selama berdagang di trotoar, juga tak bikin macet. "Sebenarnya masalah macet itu tidak terlalu macet. Kami buka jam 4 sore," jelas dia.


Ratusan aparat yang terdiri dari Satpol PP, TNI, dan Polri, berjaga di sepanjang jalan sejak sore. Puluhan mobil Satpol PP dan motor polisi parkir di samping trotoar.

Terdapat sebuah spanduk di sebelah Pasar Jaya bertuliskan: "Pedagang pakaian bekas akan direlokasi ke Pasar Baru Metro Atom lantai 4, Jalan Samanhudi Kelurahan Pasar Baru."

Dalam spanduk yang sama tertulis pedagang diminta untuk mendaftar mulai 7 sampai 9 Desember, bertempat di Kantor Kelurahan Senen. Terhitung mulai 9 Desember, mereka tidak diperkenankan lagi untuk berdagang di bahu jalan.

Klaim Humanis

Kasatpol PP Jakarta Pusat Bernard Tambunan mengklaim mereka menggusur dengan cara-cara yang humanis selama berinteraksi dengan pedagang. Tapi dia tidak memungkiri kalau di lapangan ada gesekan, adu mulut misalnya.

Menurutnya ini terjadi karena "sebagian besar dari mereka tidak mau pindah."

Dia juga mengaku menyiapkan bus untuk membantu para pedagang memindahkan barang dagangan.

Bernard mengatakan ada 600 personel gabungan yang ditugaskan untuk memastikan tak ada PKL kembali setelah digusur. Mereka mengisi 10 pos dan berjaga hingga pukul 22.00.

Wakil Wali Kota Jakarta Pusat Irwandi mengklaim Pemprov DKI telah sosialisasi dengan sejumlah PKL. Dalam tiap-tiap pertemuan itu dia selalu mengatakan kalau ada lokasi berdagang yang layak di Pasar Baru Atom. Di sana tersedia 110 lapak.


"Kami pengin ini clear, orang bisa lewat, bisa lebih aman dan juga lebih tertib di jalan. Ini kan harus kami relokasi," katanya.

Camat Senen Ronny Japriko mengatakan para PKL itu bakal diberi sewa gratis tempat di Pasar Metro Atom selama enam bulan. Kawasan tersebut dilengkapi dengan fasilitas pendingin ruangan sehingga penjual dan pembeli terasa nyaman.

"Dari segi ekonomi bagus, tidak mati. Banyak juga yang jualan baju bekas di sana [Pasar Metro Atom]," jelas dia.

Sementara Dewan Kota Kecamatan Senen Sanusi mengatakan para pedagang yang direlokasi ke Pasar Metro Atom tak perlu khawatir sepi pengunjung. Pemerintah bakal membantu mempromosikan dagangan mereka, Sanusi berjanji.

"Kami dorong camat dan lurah agar woro-woro kalau pedagang Pasar Senen pindah ke Pasar Metro Atom," katanya.

Baca juga artikel terkait PEDAGANG PASAR SENEN atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Rio Apinino
DarkLight