Sejumlah warga yang terdampak penggusuran masih bertahan dengan mendirikan pondokan-pondokan dari barang sisa penggusuran tepat di depan puing-puing rumah mereka.
Sebuah manekin dari sisa-sisa penggusuran yang berlangsung minggu lalu, Kamis (14/11/19) di kawasan Jl. Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/11/19). Warga menolak direlokasi ke kawasan Rumah Susun Marunda dengan alasan terlalu jauh dari aktivitas keseharian mereka sebagai pengepul barang bekas serta biaya sewa yang terlalu tinggi di rusun tersebut. tirto.id/Hafitz Maulana
Sejumlah alat berat masih terus beraktifitas menghancurkan puing-puing bangunan semipermanen yang digusur sejak minggu lalu, Kamis (14/11/19) di kawasan Jl. Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/11/19). tirto.id/Hafitz MaulanaTumpukan sampah dan sisa puing-puing bangunan semipermanen akibat penggusuran oleh Pemprov DKI Jakarta yang dilakukan minggu lalu, Kamis (14/11/2019) masih nampak di Jalan Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Kamis (21/10/19). Sejumlah warga yang terdampak penggusuran masih bertahan dan menolak direlokasi ke kawasan Rumah Susun Marunda dengan alasan terlalu jauh dari aktivitas keseharian mereka sebagai pengepul barang bekas serta biaya sewa yang terlalu tinggi di rusun tersebut. tirto.id/Hafitz MaulanaPuing-puing bangunan pemukiman semipermanen yang digusur oleh dinas Pemprov DKI Jakarta di Jl Agung Perkasa, Blok K, kawasan Sunter Jakarta Utara (21/10/19). Pemukiman padat tersebut dihuni oleh warga yang mayoritas berprofesi sebagai pengepul barang bekas. tirto.id/Hafitz MaulanaWarga bersama keluarganya yang terdampak penggusuran masih tetap bertahan dengan mendirikan pondokan dari sisa-sisa penggusuran tepat di depan puing-puing rumah mereka di kawasan Jl. Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/11/19). Warga menolak direlokasi ke kawasan Rumah Susun Marunda dengan alasan terlalu jauh dari aktivitas keseharian mereka sebagai pengepul barang bekas serta biaya sewa yang terlalu tinggi di rusun tersebut. tirto.id/Hafitz MaulanaSeorang warga yang terdampak penggusuran dengan luka di kakinya akibat terkena pecahan kaca ketika bentrok saat peristiwa penggusuran yang berlangsung minggu lalu, Kamis (14/11/19) masih tetap bertahan dengan mendirikan pondokan dari sisa-sisa penggusuran tepat di depan puing-puing rumah mereka di kawasan Jl. Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/11/19). Warga menolak direlokasi ke kawasan Rumah Susun Marunda dengan alasan terlalu jauh dari aktivitas keseharian mereka sebagai pengepul barang bekas serta biaya sewa yang terlalu tinggi di rusun tersebut. tirto.id/Hafitz MaulanaSebuah manekin dari sisa-sisa penggusuran yang berlangsung minggu lalu, Kamis (14/11/19) di kawasan Jl. Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/11/19). Warga menolak direlokasi ke kawasan Rumah Susun Marunda dengan alasan terlalu jauh dari aktivitas keseharian mereka sebagai pengepul barang bekas serta biaya sewa yang terlalu tinggi di rusun tersebut. tirto.id/Hafitz MaulanaPetugas Satpol PP bersama petugas kebersihan DKI Jakarta berjalan menyusuri kawasan bangunan semipermanen yang telah digusur sejak minggu lalu di kawasan Jl. Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/11/19). Sejumlah warga yang terdampak penggusuran masih bertahan dan menolak direlokasi ke kawasan Rumah Susun Marunda dengan alasan terlalu jauh dari aktivitas keseharian mereka sebagai pengepul barang bekas serta biaya sewa yang terlalu tinggi di rusun tersebut. tirto.id/Hafitz Maulana
Petugas menggunakan alat berat masih beroperasi setelah seminggu lalu (14/11/19) melakukan penggusuran terhadap bangunan semipermanen di kawasan Jl. Sunter Agung Perkasa VIII, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/11/19). Di sisi lain, sejumlah warga yang terdampak penggusuran masih bertahan dengan mendirikan pondokan-pondokan dari barang sisa penggusuran tepat di depan puing-puing rumah mereka. Warga menolak direlokasi ke kawasan Rumah Susun Marunda dengan alasan terlalu jauh dari aktivitas keseharian mereka sebagai pengepul barang bekas serta biaya sewa yang terlalu tinggi di rusun tersebut. tirto.id/Hafitz Maulana
Baca juga artikel terkait PENGGUSURAN atau tulisan lainnya
Kami menggunakan cookie untuk mengumpulkan dan menyimpan informasi tentang interaksi Anda dengan situs web Kami. Kami juga membagikan informasi penggunaan situs Kami oleh Anda dengan mitra iklan dan analitik. Data interaksi tersebut akan Kami gunakan sebagai bahan analisa untuk membuat produk/layanan terbaik sesuai preferensi pengguna.