Jejak Pertama Lesbianisme dalam Film Indonesia

Ilustrasi pasangan lesbian. FOTO/iStockphoto
Oleh: Indira Ardanareswari - 6 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dua film bertema lesbian muncul hampir berbarengan pada 1971. Badan Sensor Film memperlakukan keduanya dengan cara berbeda.
tirto.id - Nana (Tuty Suprapto) adalah seorang pebisnis sukses. Dia dan kedua anaknya bergelimang harta dan tidak kekurangan suatu apapun. Yang tak mereka miliki: figur suami bagi Nana dan ayah bagi anak-anaknya.

Lantaran merasa kesepian, Nana pun menjadi lalai. Ketimbang memperhatikan kedua anaknya yang beranjak dewasa, Nana lebih suka menyibukkan diri dengan bisnisnya sembari melakukan petualangan asmara.

Di lain waktu Nana juga terlibat hubungan lesbian dengan sekretaris perempuannya (Noertje Supandi). Singkat cerita, sang sekretaris bersekongkol dengan seorang pemuda untuk menggasak semua harta sang nyonya. Nana pun hidup melarat dan ditinggalkan anak-anaknya.

Petualangan asmara Nana adalah tema utama film bertajuk Tiada Maaf Bagimu. Ulasan film itu dimuat dalam majalah Tempo edisi 10 Juli 1971. Melalui artikel tersebut, Tiada Maaf Bagimu dikritik habis-habisan karena penokohannya dianggap tidak jelas akibat terpengaruh gaya bertutur film India. Di samping itu, akting para pemainnya dalam membawakan adegan semi-seks lesbian dinilai cukup mengganggu.

“Sebelum tangan Tuty memulai adegan lesbian, Noertje sudah bagaikan orang jang segera orgasme. Tuty tidak bermain terlalu djelek, meskipun ia pasti lebih sukses untuk adegan-adegan tempat tidur,” tulis Tempo.


Menurut J.B. Kristanto dalam Katalog Film Indonesia 1926-2005 (2005: 89), Tiada Maaf Bagimu merupakan film Indonesia pertama yang berani membawakan adegan lesbian. Film itu seolah-olah menjadi awal sebuah tren. Kristanto juga memuat judul lain yang membawakan tema serupa berjudul Jang Djatuh di Kaki Lelaki. Entah ada unsur kesengajaan atau tidak, keduanya dirilis pada saat yang berdekatan, yakni pertengahan 1971.

Semenjak Orde Baru resmi berkuasa pada 1968, perfilman Indonesia sempat mengalami fase yang menggembirakan. Industri yang tadinya lesu mendadak kembali berenergi. Kecenderungan tema yang semula diisi film-film pembangunan lantas lebih berorientasi kepada kisah-kisah perkotaan yang diwarnai segala bentuk eksperimen adegan semi-seks, salah satunya seks lesbian.

Adegan lesbian merupakan hal baru dalam perfilman kala itu. Akibatnya, Tiada Maaf Bagimu harus melalui jalan terjal ketika harus berhadapan dengan gunting sensor Orde Baru yang terkenal tajam tetapi juga labil saat menghadapi adegan ranjang. Lain halnya dengan Jang Djatuh di Kaki Lelaki yang lolos kriteria sensor tetapi sempat dicekal di luar negeri.


Jalan Terjal Menuju Layar Perak

Tiada Maaf Bagimu merupakan film pertama yang diproduksi perusahaan Tuty Jaya Pictures milik aktris Tuty Suprapto. Perusahaan itu baru dibentuk sekitar Februari 1971, bertepatan dengan hari ulang tahun Tuty yang ke-35.

Tuty Suprapto memang punya sikap apresiasi tersendiri terhadap adegan erotis dalam film Indonesia sepanjang 1970-an. Jauh sebelum era boom seks dimulai, Tuty sudah memulai tren adegan telanjang bulat (hanya berbalut kain tipis) dalam film Dibalik Pintu Dosa (1970) buatan rumah produksi Agora Film.

Terguran pemerintah terhadap Dibalik Pintu Dosa akibat adegan erotis yang berlebihan tampaknya tidak cukup untuk menggertak Tuty. Produksi film perdananya malah disulap menjadi film lesbian atas bantuan penulis Motinggo Boesje yang piawai mengolah cerita panas. Motinggo Boesje pulalah yang bertanggung jawab di balik kadar erotis Dibalik Pintu Dosa.


Menurut laporan Tempo (10/7/1971), Dibalik Pintu Dosa dan Tiada Maaf Bagimu menjadi dua dari tiga film yang ditegur langsung oleh Badan Sensor Film (BSF) pada Juli 1971. Tak hanya ditegur, Ketua Badan Sensor R.M. Sutarto juga memanggil pihak yang berwewenang di balik layar.

Sebagai direktur Tuty Jaya Pictures, mau tak mau Tuty harus hadir. Dia menghadap Sutarto sekitar awal Juli 1971. Kepada Sutarto, Tuty meyakinkan bahwa tokoh yang dibawakannya dalam Tiada Maaf Bagimu membawa pembelajaran tentang keretakan hubungan keluarga.

“Meskipun anak itu hidup mewah, mereka pada tidak betah, berantakan, sementara ibunjapun tidak keruan,” kata Tuty, seperti dikutip Tempo.

Sutarto tampaknya bukan orang yang lembek dalam perkara seks. Orang lama dalam kepengurusan Perusahaan Film Negara (PFN) sejak era Sukarno itu tidak berhasil diyakinkan Tuty. Bahkan dikabarkan, Tuty hampir menangis karena adegan ciuman lidah dalam filmnya dipotong habis oleh sensor.

Yang Jatuh Dicekal Singapura

Film Jang Djatuh di Kaki Lelaki punya kisah lain lagi saat harus berhadapan dengan reaksi masyarakat film. Seniman-seniman berduyun-duyun memuji film lesbian kedua itu karena digarap dengan mempertimbangkan teori psikologi tentang perilaku sadisme dan lesbianisme. Pujian ini salah satunya dilayangkan Asrul Sani, penulis sekaligus sutradara film, sebagaimana diwartakan dalam Ekspres (15/9/1972).

Ketimbang film lesbian pendahulunya, film garapan sutradara muda Nico Pelamonia itu cenderung lebih miskin berita miring. Nico memang mengungkapkan bahwa filmnya tidak porno sehingga tidak ada yang perlu diperkarakan.

“Saja tidak ingin membuat film porno. Djalan lain mengkomersilkan film ini masih ada jaitu membuat film itu dengan se-baik2-nja. Bahan-bahan itu keluar dari kreatifitas seorang sutradara,” tutur Nico seperti dikutip Purnama (25/7/1971).

Kumpulan ulasan film yang dikumpulkan Kristanto sejalan dengan klaim Nico itu. Jika dibandingkan dengan film serupa di tahun yang sama, Jang Djatuh di Kaki Lelaki berhasil digarap dengan cukup halus.

Kisahnya dihidupkan di sekitar konflik cinta segitiga perempuan-perempuan yang menjadi lesbian akibat ulah sadis dan pengalaman traumatis berhubungan intim dengan para lelaki. Tampaknya kepiawaian Sjuman Djaya mengadaptasi tulisan Abdullah Harahap menjadi naskah film berperan besar dalam keberhasilan cerita ini.




Kendati dipuji di dalam negeri, Jang Djatuh di Kaki Lelaki tidak mendapat reaksi serupa di luar negeri. Majalah Ekspres kembali melaporkan bahwa film produksi perusahaan milik aktris dan pengusaha Tuty Mutia tersebut dilarang beredar di Singapura, meskipun sudah disensor sebanyak 10% dari keseluruhan film.

Menurut sumber yang sama, unsur lesbianisme secara moral bertentangan dengan tata hidup masyarakat Melayu yang berlaku di Singapura pada 1970-an. Aparat sensor Singapura menganggap serangkaian dialog yang terjadi di antara para perempuan lesbian dalam film tersebut terdengar agak sugestif.

Lain halnya dengan badan sensor di Singapura, BSF menganggap adaptasi tema lesbianisme ke dalam media film cukup beralasan. Ketua BSF Sutarto menyambut baik selama tema lesbianisme yang diutarakan secara konsisten bertutur tentang keadaan aktual masyarakat. Dia mengungkapkan kejadian serupa memang kerap terjadi di Jakarta pada dasawarsa 1970-an dengan berbagai latar belakang masalah.

“Mungkin karena sang suami impoten. Atau kesibukan sang suami jang tidak sempat bergaul dengan isterinja. Jang mengakibatkan si-isteri megadakan hubungan sex sedjenisnya. Si-isteri melakukan hubungan sedjenis, karena mentjegah adanya kehamilan atau tidak menginginkan keguguran,” kata Sutarto dalam wawancara dengan Ekspres.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Film)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight