9 Januari 1926

Jalan Dakwah Frans van Lith: Katolik dan Jawa Saling Membaur

Infografik Mozaik Romo Van Lith
Fransiscus Georgius Josephus van Lith. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 9 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Frans van Lith adalah sosok sentral di balik berkembangnya Katolik di Jawa. Ia membaurkan ajaran Kristus dengan tradisi lokal.
tirto.id - Jika ada pertanyaan dari mana muara penyebaran agama Katolik di Jawa, maka Muntilan boleh jadi adalah jawabannya. Di kota inilah Katolik mulai bertumbuh serta menyebar lebih deras. Fransiscus Georgius Josephus van Lith, atau dikenal dengan Frans van Lith, SJ merupakan salah satu tokoh utama di baliknya.

Lahir pada 17 Mei 1863 di Oirschot, sebuah desa di Brabant, Belanda, van Lith kecil tumbuh di lingkungan Katolik yang cukup kuat. Pada usia 12 ia kemudian mengungkapkan keinginannya menjadi seorang imam. Tiga tahun pendidikan teologi ia lalui dan pada 8 Desember 1894 van Lith resmi ditahbiskan menjadi imam.

Indonesia sesungguhnya bukanlah tempat yang ingin ia tuju sebagai misionaris. Seperti ditulis Gregorius Budi Subanar, SJ dalam Kilasan Kisah Soegijapranata (2012), van Lith muda sesungguhnya lebih ingin untuk diutus di benua Eropa.

Harapan tinggal harapan. Kongregasinya memutuskan untuk mengutus van Lith ke Jawa Tengah bersama rekannya, Petrus Hoevenaars. Van Lith memegang wilayah misi di Muntilan, sementara Hoevenaars ditugaskan untuk melakukan misi di Yogyakarta. Tugas pertama mereka satu: mempelajari bahasa dan budaya setempat.

Dalam A History of Christianity in Indonesia (2008) karya Jan Sihar Aritonang dan Karel Steenbrink, van Lith tercatat tiba di Hindia Belanda pada 4 Oktober 1896 untuk kemudian belajar bahasa Jawa di Semarang, Jawa Tengah.

Itulah awal mula perjalanan van Lith mengenal kebudayaan Jawa dan tak butuh waktu lama baginya untuk mengagumi kebudayaan tersebut. Pada 1897 barulah ia pindah ke Muntilan. Kecintaannya pada budaya Jawa membuat ia fasih berbicara bahasa Jawa.

Sekolah Guru yang Membumi

Yang dilakukan van Lith bersama Hoevenaars pertama-tama adalah mendirikan sekolah. Hoevenaars waktu itu belum dapat memasuki Yogyakarta dan menetap di Mendut. Sekolah itu diberi nama Xaverius dengan sistem pendidikan kolese (college) dan secara resmi didirikan pada 1904.

Pendekatan yang ia pakai kala itu mungkin jarang ditemui di sekolah-sekolah masa kini yang lebih menekankan pada identitas keagamaan ataupun model-model pendidikan yang hanya mengacu pada dunia Barat. Masih dari tulisan Jan Sihar dan Karel, van Lith ingin agar sekolahnya tetap dekat dengan kultur Jawa, namun pada saat yang bersamaan juga memasukkan pendekatan bahasa Belanda serta pendidikan modern ala Barat yang makin terlihat penting menjelang abad ke-21.

Budi menuliskan pendekatan van Lith ini dengan ungkapan manjing ajur ajer yang berarti “menyatu dan tidak berjarak, sepenuhnya memahami pola pikir dan menghayatinya dalam perilaku sebagaimana orang-orang yang dilayaninya.”

Dalam pembelajaran, misalnya, seperti dilansir Kompas, van Lith memasukkan unsur-unsur kearifan lokal seperti bahasa Jawa dan gamelan kepada para murid sekolah tersebut.

Kendati nyata bahwa van Lith memang membawa misi Katolik melalui Kolese Xaverius, sekolah itu tidak pernah meminta murid-muridnya untuk menjadi Katolik. Tujuan utama van Lith, menurut Jan Sihar dan Karel, memang ingin mendidik masyarakat Jawa untuk menjadi guru, meski mereka juga memberi kesempatan kepada para muridnya untuk mengambil kursus ajaran Katolik.

Intensi van Lith untuk mendirikan sekolah ini tertuang dalam salah satu suratnya yang ditulis pada 1904. Dalam surat itu ia menyebutkan: “Usaha misi di antara bangsa Jawa mulai dengan metoda yang salah: Mewartakan Injil kepada individu. Kita harus insaf bahwa karya kita bergantung dari pendidikan pemimpin dan guru.”

Sekolah yang dibangun van Lith itu—kemudian dikelola para Jesuit—memang menawarkan kurikulum pendidikan untuk guru. Jan Sihar dan Karel menuliskan bahwa upaya van Lith untuk mendirikan sekolah tersebut bahkan kemudian mendapat pengakuan dari pemerintahan Belanda.

Tak hanya di ranah pendidikan, van Lith juga kerap berada dalam garda depan pembela rakyat. Budi menuliskan bahwa van Lith pernah memberikan komentar keras kepada golongan Kristen Belanda terkait perlakuan tidak adil mereka pada rakyat Jawa ketika menjadi anggota heerzening committee (komite yang bertugas meninjau kembali pembentukan pemerintahan baru Belanda di wilayah kependudukan).

“Keinginan untuk mendominasi orang Jawa, hanya karena ia seorang Jawa, sama halnya dengan bermain api. Hargailah hak-hak orang pribumi kalau kamu juga menginginkan hak-hakmu diakui,” sebut van Lith.

Sikap pro-rakyat inilah yang kemudian diturunkan pada murid-murid di sekolah yang didirikannya.

Daniel Dhakidae dalam Cendikiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003) menyebutkan bahwa sekolah ini akhirnya menjadi “ajang kesadaran nasionalis.” Dari Kolese Xaverius itu memang kemudian muncul tokoh-tokoh nasional yang memiliki peran besar dalam kemerdekaan Indonesia, seperti Ignatius Joseph Kasimo dan Albertus Soegijapranata.

Kasimo menjadi pemimpin dan salah seorang pendiri partai Katolik yang mendukung Republik Indonesia setelah kekalahan Jepang. Soegijapranata, sementara itu, kelak menjadi uskup Indonesia pertama yang berkedudukan di Semarang. Terkenal dengan jargon “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia,” ia pernah terlibat penyelesaian damai dari Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Selain itu, berkat upaya Soegjia yang selalu memberikan laporan-laporan mengenai Indonesia ke Vatikan, negara tersebut menjadi satu dari beberapa negara pertama yang mendukung kemerdekaan Indonesia.


Mengalir dari Sendangsono

Langkah lain untuk membuat Katolik menjadi lebih pribumi juga dilakukan van Lith ketika ia mengubah Sendangsono, Kalibawang, Jawa Tengah menjadi tempat ziarah bagi umat Katolik.

Herman L. Beck dalam studinya berjudul “Back to Sendangsono: A Marian Pilgrimage Site as a Lens on Central Javanes Cultural Values” menuliskan, sebelum kedatangan van Lith, Sendangsono yang merupakan satu dari banyak mata air di pegunungan Menoreh merupakan tempat yang lekat dengan cerita rakyat tentang Dewi Lantamsari. Dalam bahasa Jawa, sendang memang berarti mata air, dan sono merupakan sebuah jenis pohon.

Dikisahkan bahwa Dewi ini memiliki putera bernama Raden Bagus Samijo meski ia merupakan seorang perawan. Keduanya dipercaya masyarakat setempat menjadi penjaga dan pelindung mata air tersebut.

Masyarakat Kalibawang yang mayoritas Muslim percaya bahwa mata air tersebut memiliki kekuatan gaib dan membawa keberuntungan. Banyak pula orang yang menjadikan tempat ini sebagai tempat pengajaran ilmu gaib, selain menjadi tempat peristirahatan bagi biarawan Buddha.

Di daerah tersebut, agama kristen juga turut berkembang melalui masuknya misionaris Protestan Belanda. Dari sana, muncullah tokoh lokal bernama Sadrach, seorang Muslim yang menjadi pemeluk Kristen, yang merasa bahwa ajaran Kristen dan adat Jawa dapat berjalan beriringan.


Herman menuliskan bahwa pandangan ini kemudian diadopsi masyarakat Jawa, sementara misionaris Belanda cenderung tidak dapat menerimanya. Alhasil, timbullah konflik di antara mereka. Dari Sadrach lah van Lith kemudian belajar mengenai praktik inkulturasi dalam Kristen.

Ada dua langkah yang dilakukan van Lith di Sendangsono. Pertama, ia menggunakan prinsip-prinsip adaptasi. Kedua, bersama dengan Sadrach serta pendukungnya, ia menggaet sejumlah pemimpin masyarakat dalam upaya menyebarkan ajaran Katolik di Kalibawang.

Terdapat dua tokoh setempat yang lahir dari upaya van Lith itu dan kemudian memiliki peran vital bagi perkembangan Katolik di Kalibawang: Barnabas Sarikromo dan Dawud Tadikromo. Keduanya menjadi penasihat bagi van Lith mengenai adat dan kebiasaan penduduk setempat sehingga van Lith dapat menghindari perilaku yang dapat menyinggung mereka.

Terkait inkulturasi, van Lith, misalnya, melihat banyak kesamaan dari kisah Dewi Sri, Dewi Lantamsari, dan Maria. Menggunakan kesamaan tersebut, ia secara bertahap membuat masyarakat Kalibawang familier dengan ajaran Katolik.





Contoh lainnya, van Lith, melalui nasihat dari Sarikromo, juga menggelar selawatan (pembacaan salawat) ala Katolik yang didasarkan pada kisah-kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru di Alkitab.

Sarikromo memang bercerita pada van Lith bahwa masyarakat setempat senang mendengarkan musik gamelan dan menggelar selawatan. Tak hanya itu, ia juga melakukan riset untuk melihat apakah ada seni dan musik Jawa lain yang cocok untuk mengajarkan agama Katolik.

Van Lith meninggal pada 9 Januari 1926, tepat hari ini 93 tahun lalu. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Kerkoff, Muntilan, dekat dengan sekolah yang ia dirikan. Kini sekolah tersebut tak lagi dikenal sebagai Kolese Xaverius, namun Sekolah Menengah Atas (SMA) Pangudi Luhur van Lith.

Pada 2016, pemerintah Indonesia memberikan penghargaan Satyalencana Kebudayaan kepada van Lith. Penghargaan itu diberikan padanya sebagai apresiasi atas perjuangannya memajukan sistem pendidikan di Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight