Irwan Mussry dan Gurita Bisnis Mewahnya

Oleh: Joan Aurelia - 31 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Irwan Mussry ialah pemimpin Time International, grup retail yang menaungi distribusi beragam lini jam tangan premium.
tirto.id - Irwan Danny Mussry memulai bisnis 29 tahun lalu. Hal itu berawal dari sebuah pengalaman buruk saat membeli jam tangan. Prestige mengisahkan bahwa pada tahun 1980-an, Irwan hendak membeli jam tangan Gucci. Sayangnya, ia tidak mendapat pelayanan yang baik dan merasa citra serta karakter Gucci tidak direpresentasikan dengan tepat oleh distributor produk tersebut.

Dari sana ia melihat peluang bisnis. Irwan lantas mengontak tim Gucci untuk mempresentasikan konsep pemasaran baru. Untungnya Irwan sudah terlebih dulu berjumpa dan mengenal tim Gucci Timepieces sehingga ia tak perlu susah payah menyusun cara untuk membuka relasi. Tim Gucci menyukai ide Irwan.

“Dari sanalah Time International muncul,” katanya.

Ia rasanya percaya pada ungkapan pembeli adalah raja. Kepada The Jakarta Post pria ini mengungkap bahwa dalam memperdagangkan barang mewah, servis adalah segalanya. Ia melatih tim untuk bisa memanjakan pembeli dengan menjadikan mereka teman bicara sekaligus sosok yang mampu mengarahkan pembeli pada produk yang sesuai karakter.

Kepada Luxina, Irwan berkata, “Merek yang kami jual sudah berusia ratusan tahun. Jadi kami bukan bertindak sebagai trader melainkan sebagai brand builder. Saya tidak pernah mendapat layanan yang baik dan tepat, sehingga saya ingin kustomer saya bisa mendapat penjelasan detail mengenai produk mulai dari alasan dibentuknya kemasan produk sampai cara kerja komponen dalam produk.”

Cara ini berhasil. Bisnis Irwan terus berkembang. Jumlah lini jam tangan dalam naungan perusahaan pria asal Surabaya ini terus bertambah. Majalah Daman menulis bahwa pada 1999 ia membuka Time Place, butik yang menjual beberapa merek jam tangan premium, di antaranya Rolex, Tag Heuer, Audemars Piguet, IWC, dan Panerai. Tahun 2011, Irwan membuka butik Rolex di Marina Bay Sands, Singapura. Beberapa tahun kemudian, ia baru membuka Rolex di Indonesia.


Sejak itu, Irwan mengalami masa kejayaan. Kepada Prestige, ia berkisah bahwa minat orang terhadap jam tangan mewah bertambah signifikan pada tahun 2011-2014 seiring tingkat konsumsi barang mewah yang makin meningkat di Indonesia. Menurut dia, hal itu bisa dilihat dari gerai-gerai yang muncul di mal kelas atas Plaza Indonesia dan Plaza Senayan. Pria lulusan California State University, Los Angeles ini juga melihat potensi pasar barang mewah di Surabaya dan Bali. Kelak, Time International membuka sejumlah gerai tokonya di dua daerah tersebut.

Tahun 2014 bisa dikatakan sebagai tahun puncak bisnis Time International. Grup retail itu membuka cabang kedua butik Cartier dan INTime; menjalin kerjasama dengan HYT, lini jam tangan asal Swiss; dan membuka gerai pertama merek fesyen Tory Burch di Jakarta.

“Kami melebihi target. Kami juga mulai merambah ke pelanggan muda,” ujarnya.

Infografik Irwan Mussry


Seiring waktu, perkembangan yang terjadi di Time International turut jadi simbol kemampuan konsumer di Indonesia. Kini perusahaan ini jadi distributor lebih dari 30 lini jam tangan premium. Ia memegang lisensi produk fesyen Chanel, Fendi, Tory Burch, Berluti, dan Diesel. The New York Times pernah menjadikan perusahaan ini sebagai contoh kasus ketika membuat berita tentang pasar barang mewah di Asia Tenggara.

Artikel menyinggung hasil riset Bain & Company yang menyebut Asia Tenggara mengalami perkembangan 11 persen dari sektor penjualan barang mewah. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding persentase global penjualan barang premium. Indonesia masuk dalam Asian tiger cubs, istilah yang digunakan untuk menyebut negara-negara yang berpotensi memegang peran penting dalam bisnis barang mewah.

Salah satu tantangan dalam memaksimalkan potensi tersebut ialah infrastruktur yang kurang menunjang. Bagi Irwan, tantangan itu ditambah dengan kebijakan impor dan sistem perpajakan barang premium. Tantangan-tantangan tersebut tidak mematikan harapan Irwan untuk tetap memperluas bisnis.

Pada tahun 2016, Time International membuka gerai kecantikan pertama, Chanel Beauty. Setelah itu, mereka membuka gerai tunggal Innisfree dan Laneige, dua lini produk perawatan kecantikan dan kosmetik asal Korea Selatan. Sekitar dua tahun belakangan, produk tersebut laris di kalangan wanita muda pemerhati kecantikan. Hal itu didukung pula dengan tren K- beauty yang muncul selama beberapa tahun terakhir.

Laneige dan Innisfree dimiliki Amore Pacific, perusahaan retail kecantikan yang punya fokus untuk mengembangkan bisnis di kawasan ASEAN. Dua merek ini bukan merek kelas atas seperti barang asuhan Time International lain. Produk tersebut ditujukan bagi kaum muda kelas menengah yang baru ingin menggeluti ragam produk kecantikan. Irwan sepertinya tidak hanya tertarik untuk memperluas pasar yang lebih muda, melainkan juga merambah ke segmen usaha yang berbeda.

Baca juga artikel terkait PENGUSAHA atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live