Inreyen Mobil atau Motor Baru, Masih Perlukah?

Oleh: Dio Dananjaya - 4 April 2019
Dibaca Normal 2 menit
Masa Inreyen atau engine break-in pada kendaraan jadi periode krusial bagi kendaraan baru.
tirto.id - Ada pertanyaan mendasar saat kali pertama mengendarai kendaraan yang baru keluar dari pabrikan, apakah bisa langsung digeber?

Pada periode awal, kendaraan memang masih butuh tahap adaptasi atau yang biasa disebut "inreyen". Inreyen atau ‘ngreyen’ merupakan kata serapan dari Bahasa Belanda, ‘inrijden’. Sementara dalam Bahasa Inggris, inreyen lebih dikenal dengan istilah break-in atau run-in.

Inreyen adalah prosedur untuk mengkondisikan komponen di dalam mesin yang baru bergerak dan mendapat beban. Proses adaptasi ini berguna agar antar komponen mesin saling menyesuaikan satu sama yang lain.

Di era kemajuan teknologi mesin kendaraan, apakah inreyen pada kendaraan baru masih perlu?

Pentingnya Inreyen


Hampir setiap produsen kendaraan telah menerbitkan buku manual yang berisi cara pengoperasian kendaraan sejak pertama kali diterima. Meski teknologi mengalami peningkatan pesat, dalam hal desain, teknik, dan manufaktur, inreyen masih penting dilakukan. Salah satu yang membuat hal ini harus dilakukan adalah soal "investasi" usia mesin kendaraan. Intinya untuk mendapat kinerja terbaik dan umur layanan yang panjang dari motor maupun mobil, inreyen harus dilakukan sesuai prosedur yang tepat.



Dilansir dari cnet.com, engine break-in patut dilakukan, baik itu pada kendaraan mesin bensin maupun diesel. Sebab ini adalah cara agar komponen di dalam mesin bisa saling bergesekan secara halus. Dengan begitu, risiko kebocoran dan benturan kasar antar komponen saat mesin masih baru bisa dihindari.

Dengan inreyen, pemilik kendaraan mendapat efek jangka panjang yang menguntungkan pada kendaraan. Seperti misalnya mendapat penghematan bahan bakar yang lebih baik, penggunaan oli yang lebih sedikit tanpa penguapan berarti, transfer tenaga yang lebih maksimal, serta daya tahan mesin yang lebih awet.

Inreyen jadi penting karena menentukan biaya perawatan kendaraan ke depannya. Usia komponen mesin yang lebih panjang, membuat biaya pengeluaran untuk penggantian sparepart bisa dipakai untuk keperluan lain.

Bagaimana cara melakukan inreyen yang benar?

Saat pemakaian pertama, hindari berkendara pada kecepatan tinggi dan melakukan RPM tinggi. Hal ini bertujuan agar komponen di dalam mesin bisa menyesuaikan satu dengan yang lain serta bekerja dengan baik ke depannya.

“Ketika Anda melakukan inreyen, hindarilah melakukan akselerasi dengan gas penuh. Jangan melakukan akselerasi berlebihan saat start maupun saat berkendara,” sebut Rudi Ganefia, Service Head Auto 2000 Krida, Cilandak, Jakarta Selatan kepada Tirto.

Khusus pada kendaraan bertransmisi manual, upayakan melakukan perpindahan gigi secara perlahan dan halus, serta hindari melakukannya pada RPM tinggi. Di samping itu penting juga untuk tidak berjalan pada posisi gigi yang sama secara terus menerus, baik saat kecepatan tinggi maupun rendah.

“Berjalanlah seperti biasa dengan posisi gigi berubah-ubah,” jelasnya. Segera ganti oli jika jarak tempuh kendaraan telah mencapai 1.000 km, hal ini perlu dilakukan agar sisa atau ampas besi di dalam ruang mesin dapat rontok dan terbuang bersama oli.

“Penggantian oli saat inreyen itu berdasarkan km atau waktu, jika mobil jarang dipakai, usahakan tetap diganti saat mencapai 3 bulan,” ingat Rudi.



Selain mesin, inreyen juga harus dilakukan pada sistem pengereman dan ban. Ban yang masih baru belum cukup elastis untuk menempel pada permukaan jalan. Sedangkan pada rem, daya gigit kampas juga belum cukup maksimal. Sehingga upaya membiasakan pada dua komponen tersebut juga tak kalah penting.

Infografik Inreyen
Infografik Inreyen. tirto.id/Fuad

Bagian Paling Rentan Saat Inreyen


Robert Reichman, pembuat mesin untuk tim balap pabrikan Honda, sekaligus mantan pemegang dealer serta teknisi sebuah bengkel privat, pernah melakukan tes terkait proses inreyen. Dalam uji cobanya, Robert menghidupkan beberapa motor balap supercross secara bersamaan selama beberapa menit.

Semua motor tes dipasangkan sensor untuk mengetahui campuran bahan bakar, suhu, tekanan oli, putaran mesin, dan lainnya. Motor-motor ini coba digeber di beberapa rentang RPM, mulai dari 4.700 rpm, naik ke 8.000 rpm, lalu turun ke sekitar 5.000 rpm. Sistem transmisi juga coba dipindah-pindah, hingga mesin dibiarkan idle dan suhunya menjadi dingin sampai dimatikan.

“Meski beberapa mesin mendapat prosedur inreyen yang berbeda-beda, dengan pengaturan RPM yang berbeda, bagian paling kritis selama proses inreyen adalah piston dan ring piston dengan dinding silinder,” ujar Robert kepada Ride Apart.

Ia juga mengatakan jika tiap mesin punya variasi jarak kelonggaran antar komponen yang terjadi selama proses perakitan. Alasan inilah yang membuat inreyen perlu dilakukan agar komponen mesin bisa saling bersandar dengan baik satu sama lain.



Hal menarik lainnya juga ditemukan lewat percobaan ini, salah satunya yaitu ditemukannya potongan kecil logam pada filter oli. Beberapa muncul dari roda gigi, sistem transmisi, dan bagian mesin lainnya. “Inilah sebabnya servis di awal sangat penting,” terang Robert.

Bayangkan saja jika gram atau ampas besi ini dibiarkan menumpuk di dalam, kerja mesin pasti bakal terganggu. Dan efek yang lebih seram, mesin bisa jebol lantaran tak dapat bekerja dengan maksimal.

Baca juga artikel terkait MOBIL atau tulisan menarik lainnya Dio Dananjaya
(tirto.id - Otomotif)


Penulis: Dio Dananjaya
Editor: Suhendra