Imlek 2020: Sejarah Angpau dan Tradisi Memberi Uang Saat Hari Besar

Oleh: Yulaika Ramadhani - 24 Januari 2020
Dibaca Normal 1 menit
Bagaimana asal mula tradisi memberi angpau?
tirto.id - Perayaan Imlek jatuh pada Sabtu, 25 Januari 2020. Tahun baru Cina ini selalu disambut meriah, baik bagi umat yang merayakan atau juga masyarakat yang lain.

Selain promo dan diskon tahun baru di tanggal merah tersebut, biasanya sejumlah wihara punya tradisi membagikan angpau ke warga di sekitarnya.
Satu di antaranya adalah di Wihara Dharma Bakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat yang tahun lalu ramai dikunjungi ratusan warga dari berbagai wilayah.

Mereka rela mengantre angpau di depan wihara, bahkan sejak pukul 5 pagi. Warga mengaku bisa mengumpulkan uang hingga Rp60 ribu dari derma para jamaah.
Memberikan uang dalam amplop atau yang disebut angpau ini memang telah menjadi tradisi di masyarakat Indonesia, khususnya ketika acara-acara besar.

Bagaimana asal mula tradisi memberi angpau?

Di Cina, angpau ditemukan kali pertama pada masa Dinasti Han. Pada masa itu sebagian besar angpau menggunakan uang tembaga yang memiliki lubang bundar dan lubang segi empat di bagian tengah.

Biasanya pada bagian depan, terdapat kalimat keberuntungan “fu shan shou hai” yang artinya semoga berbahagia dan panjang usia, ada juga yang bertuliskan “qiang shen jian ti” yang artinya semoga sehat selalu.

Sedangkan di bagian belakang terdapat lambang keberuntungan seperti harimau, kura-kura, dan sebagainya.

Warna merah sendiri melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Cina, yang menunjukkan kegembiraan dan harapan nasib baik bagi penerimanya.

Dalam tradisi orang Tionghoa, seseorang wajib memberikan angpau terutama orang yang telah menikah, pernikahan merupakan batas antara masa anak-anak dengan usia dewasa. Harapannya pemberian angpau dari orang yang telah menikah bisa memberikan nasib baik kepada orang yang menerima.

Selain di masyarakat Tionghoa, pemberian hadiah seperti angpau juga berlaku di Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Majalah Living World pernah mengulas soal tradisi ‘duit raya’ saat hari raya idul Fitri di Malaysia. Tradisi ini juga sering disebut green envelope, karena uang sebagai hadiah tersimpan dalam amplop berwarna hijau. Warna hijau melambangkan warna yang melekat bagi umat Muslim. Tradisi ini merupakan bagian dari konsep zakat, yang mengatur kaum muslim menyisihkan 2,5 persen dari kekayaan untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Selain di Indonesia, tradisi semacam ini juga berlangsung di Jepang, Tiongkok, Nigeria, dan Polandia.

Uang jadi hadiah yang sangat umum dalam sebuah perayaan pernikahan di Jepang. Orang tua mempelai pria secara tradisional memberikan uang kepada keluarga pengantin wanita dalam amplop khusus yang disebut ashugi-bukuro. Amplop itu dihiasi dengan hiasan emas dan perak yang dipilin dan diikat menjadi simpul dekoratif.





Baca juga artikel terkait IMLEK 2020 atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight