Grup Salim: Kehilangan BCA, Kini Punya Bank Mega & Bank Ina

Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 13 Januari 2021
Dibaca Normal 6 menit
Grup Salim pernah melegenda dengan BCA, yang kini menjadi bank swasta terbesar di tanah air.
tirto.id - Keluarga Salim kembali memasuki bisnis perbankan. Setelah kehilangan BCA beberapa tahun silam, keluarga Salim masuk bisnis perbankan dengan membeli saham PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA). Kini, Salim menambah lagi kepemilikannya di bisnis perbankan dengan membeli 6,07% saham Bank Mega.

Menurut laporan Bank Mega kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 11 Januari 2021, Salim membeli saham Bank Mega melalui Indolife Pensiontama. Pemegang saham mayoritas lainnya di Bank Mega adalah Mega Corpora 58,018% dan sisanya masyarakat.

Melalui Indolife Pensiontama juga Salim memiliki 22,47% saham Bank Ina Perdana.

Jauh sebelum memiliki Bank Ina Perdana dan Bank Mega, keluarga Salim pernah berjaya melalui PT Bank Central Asia Tbk (BCA). BCA merupakan salah satu aset berharga milik Salim, sebelum akhirnya diambil alih pemerintah karena kolaps akibat krisis.

Liem Merintis BCA dari Nol

Liem Sioe Liong atau Sudono Salim membangun BCA setelah membeli perusahaan konveksi bernama NV Semarang Knitting Factory. Uniknya, Anggaran Dasar perusahaan saat itu memungkinkannya melakukan aktivitas perbankan.

Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group, Pilar Bisnis Soeharto (2016: 213) menuliskan, pada 1957, Liem Sioe Liong dan kawannya bernama Tan Lip Soin membeli izin perusahaan itu. Bukan karena tertarik pada usaha konveksinya, melainkan karena memungkinkan untuk melakukan aktivitas perbankan.

Liem kemudian mengubah nama perusahaan menjadi Bank Asia N.V, sebelum akhirnya diubah lagi menjadi BCA. Kantor pusatnya dipindah dari Semarang ke Jakarta. Liem menunjuk sahabatnya, Hasan Din, untuk menjadi direktur karena saat itu ia belum menjadi WNI sehingga tidak bisa menjabat direktur. Hasan Din merupakan ibu dari Fatmawati Soekarno atau kakek dari Megawati Soekarnoputri.

Bisnis Liem terus bertambah. Kedekatannya dengan Soeharto yang belum menjadi orang nomor satu di Indonesia turut memberikan andil. Pada 1954, Liem mendirikan Bank Windu Kencana, dengan bantuan Soeharto. Saat itu, Soeharto menugaskan Liem untuk bekerjasama dengan para jenderal di Yayasan Dharma Putra Kostrad.

Pada 1967, ketika Soeharto sudah menjadi orang nomor satu, Liem merombak ulang Bank Windu Kencana. Menurut Borsuk dan Chng (hlm. 214), Soeharto memasukkan sejumlah jenderalnya ke dalam jajaran direksi. Liem dan dua saudaranya tercatat dalam daftar pemegang saham.

Liem memberikan “imbalan” atas hal tersebut. Namun, Soeharto tidak mau namanya masuk dalam jajaran pemilik BCA. Jatah 30% saham pun akhirnya jatuh ke tangan anak-anaknya. Awalnya, sebanyak 20% diberikan kepada Sigit Haryoyudanto, dan 10% kepada mbak Tutut. Di kemudian hari, persentasenya diubah menjadi 16,7% untuk Sigit dan 13,3% untuk mbak Tutut.

Duet Maut Liem-Mochtar Riady

Babak baru BCA dimulai saat Liem bertemu dengan Mochtar Riady dalam sebuah penerbangan ke Hong Kong pada tahun 1975. Mochtar saat itu baru saja mundur dari Bank Panin yang sudah dibesarkannya. Ia terkenal dengan reputasi sebagai “Dokter Perbankan”. Setidaknya ada tiga bank yang nyaris mati, tapi bisa hidup kembali berkat ditangani oleh Mochtar yakni Bank Kemakmuran, Bank Buana, dan Bank Panin.

Mochtar Riady dalam otobiografinya Manusia Ide (2016: 67) menuliskan, setelah berbincang-bincang, Liem langsung mengajaknya bergabung ke salah satu bank yang dimilikinya. Saat itu, Liem memiliki Bank Windu Kencana, yang dipimpin adiknya Liem Sioe Kong, Bank Dewa Ruci, yang dipimpin adik sepupunya, Liem Ban Tiong, dan BCA yang dalam kondisi tidak lancar.

“Anda mau membesarkan bank saya?” tanya Liem kepada Mochtar, seperti ditulis Borsuk dan Chng (hlm. 215).

Mochtar menyatakan ketertarikannya, akan tetapi tidak dibahas lebih lanjut. Sebulan setelah pertemuan itu, Mochtar menyatakan bersedia bergabung dengan Liem. Ia memilih BCA dengan alasan ingin memulai dari nol.

Saat itu, kondisi BCA memang masih sangat kecil hanya memiliki dua cabang, dengan jumlah aset berada di peringkat ke-23 dari 58 bank niaga swasta.

Mochtar mengakui bahwa kondisi BCA saat itu, “sudah berada di tepi jurang kebangkrutan”. BCA hanya punya aset senilai 1 juta dolar AS, dengan 27 pegawai. Di antara mereka, tak ada satu pun yang mengerti perbankan. Tidak ada anggota keluarga Liem yang terlibat dalam urusan sehari-hari.

Meski kondisi BCA masih sangat kecil, Mochtar merasa yakin BCA bisa besar. Menurut Borsuk dan Chang (hlm. 2018), Liem sempat bertanya kepada Mochtar mengapa ia sedemikian percaya diri bisa membesarkan BCA, Mochtar menjawab karena Liem memiliki tiga “Kunci Emas” untuk membuka pintu-pintu menuju kesuksesan.

Liem merupakan pemilik satu-satunya perusahaan pengimpor cengkeh di Indonesia yang mendapatkan izin khusus dari pemerintahan Soeharto. Hal itu menjadi kunci emas pertama yang bisa digunakan untuk membuka pintu industri rokok kretek dengan monopoli cengkeh. Bisnis cengkeh merupakan salah satu pilar penting bagi BCA, sehingga di kemudian hari logonya menggunakan lambang daun cengkeh.

Kunci kedua, untuk membuka pintu konsumen pabrik tepung melalui Bogasari. Kunci ketiga untuk membuka pintu konsumen semen dan bahan bangunan.

Mochtar bergabung, dengan imbalan 17,5% saham BCA. Mochtar kemudian melakukan berbagai pembenahan awal untuk menata BCA. Ia memulainya dengan memperbaiki SOP, dilanjutkan dengan merancang sistem akunting dan membuat pengarsipan.

Ekspansi besar-besaran dilakukan tahun 1988, setelah pemerintah mengeluarkan Pakto 88, yang intinya memberikan keleluasaan bagi bank untuk tumbuh. BCA pun memanfaatkan momen ini untuk ekspansi besar-besaran: membuka 150 cabang, yang menyerap 6.000 karyawan.

Duet maut Liem dan Mochtar di kemudian hari memang membuat BCA bisa tumbuh dengan pesat. Kunci kesuksesan dari duet ini adalah saling percaya. Liem tidak pernah mencampuri keputusan yang diambil Mochtar.

“Selama 15 tahun kami bekerjasama di BCA, beliau tidak pernah mencari-cari kesalahan atau mendiskreditkan orang lain,” kata Mochtar soal Liem dalam otobiografinya (hlm. 107):

Tahun 1991, Mochtar mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Sebelum menjalani operasi bypass jantung, Mochtar menyelesaikan semua permasalahan terkait tanggung jawabnya di BCA. Mochtar dan Liem menyetujui surat kesepakatan tentang pembagian aset, hanya dalam perundingan selama 2 jam. Termasuk dalam kesepakatan itu adalah tukar guling saham di BCA dan LippoBank tanpa syarat.

“Tahun 1991, kami berpisah tanpa resah, berpisah dalam suasana santun, rukun, dan penuh pengertian,” kata Mochtar.

Di bawah penanganan Mochtar, BCA memang tumbuh pesat. Tentu saja karena ada bisnis-bisnis Liem lain yang juga membesar ditopang oleh rezim Soeharto.

Pada 1974 aset BCA hanya Rp998 juta. Setahun kemudian jumlahnya mencapai Rp12,8 miliar. Dalam dua tahun, angkanya melonjak dua kali lipat menjadi Rp24,8 miliar. Memasuki 1980, asetnya bahkan sudah lebih dari Rp100 miliar. Tahun 1986, aset BCA menembus Rp1 triliun.

Pada 1990, saat Mochtar keluar dari BCA, aset sudah mencapai Rp7,5 triliun. Tercapailah target Mochtar agar BCA bisa menjadi bank swasta terbesar melampaui Bank Panin.

Dihantam Badai Krisis

Memasuki medio tahun 1997, krisis di Thailand. Borsuk dan Chng (hlm. 362) menuliskan, Salim dan juga banyak pihak di Jakarta mula-mula menyangka krisis ini tidak akan sampai ke Indonesia. Masalahnya, semua indikator ekonomi tidak menunjukkan tanda-tanda krisis.

Semua asumsi tersebut ternyata salah. Krisis keuangan Thailand secara cepat menular ke Indonesia. Perusahaan-perusahaan bertumbangan karena pelemahan rupiah yang sedemikian cepat dan drastis.

Pada 14 November 1997, beredar rumor di Medan bahwa Liem meninggal dunia dan BCA cabang Singapura ditutup. Padahal, BCA tidak punya cabang di Singapura. Rumor kemudian menyebar dengan cepat hingga Jakarta. Nasabah mulai menarik dananya dari cabang-cabang BCA.

Menurut Borsuk dan Chng, Liem yang sedang berada di Singapura bergegas pulang ke Jakarta. Ia berniat muncul ke publik melalui siaran televisi acara peluncuran sepeda motor Indomobil. Agenda tersebut sebelumnya tidak dijadwalkan. Pada acara itu, Liem muncul dan menyatakan, “Lihatlah, saya baik-baik saja.”

Presiden Direktur BCA saat itu, Abdullah Ali mengungkapkan, rumor tersebut memicu penarikan dana hingga Rp500 miliar.

Memasuki 1998, kondisi ekonomi Indonesia kian memburuk. Pada 12 Mei 1998, terjadi kerusuhan di Jakarta. Rumah Liem di wilayah Utara Jakarta diamuk massa. Liem sendiri sedang berada di Amerika untuk operasi mata saat peristiwa itu terjadi.

BCA termasuk salah satu korban amuk massa kerusuhan. Secara keseluruhan 122 cabang dilaporkan rusak karena api dan vandalisme. Keterangan terperinci menyebutkan, 17 kantor cabang habis terbakar, 26 cabang rusak dan dijarah, 75 cabang rusak tapi tidak dijarah. Setidaknya ada 150 ATM dijebol dan isinya dicuri. Total kerugian finansial akibat penjarahan ATM mencapai Rp3 miliar.

Senin, 18 Mei, sejumlah aktivitas bisnis mulai kembali, termasuk BCA. Di beberapa kantor cabang BCA, terlihat antrean nasabah. BCA membatasi penarikan dana Rp500.000 untuk nasabah biasa, dan Rp1 juta untuk nasbah kartu ATM premium.

Kamis, 21 Mei, Soeharto mengundurkan diri. Empat hari kemudian, muncul rumor Liem meninggal dunia. Presdir BCA Abdullah Ali membantah rumor itu sekaligus menegaskan Anthony Salim akan menambah modal hingga Rp1 triliun.

Nasabah terus menarik dananya. Melihat situasi tersebut, Gubernur BI saat itu, Sjahril Sabirin menyatakan bahwa bank sentral akan menyuntikkan dana ke BCA “hingga batas tertentu”.

Kamis, 28 Mei, penarikan dana BCA sudah sedemikian hebat. Pemerintah akhirnya mengumumkan BPPN akan mengambil alih BCA. Langkah ini terjadi karena bank sentral sudah menyuntikkan sekurangnya 200 persen modal BCA.

Dengan demikian, kendali Salim dan juga putra-putri Soeharto di BCA berakhir.

Setelah BCA lepas, nama Anthony Salim sempat dikait-kaitkan dengan Bank Mega. Borsuk dan Chng (hlm. 431) menuliskan, beberapa media sempat berspekulasi bahwa Anthony setelah kehilangan BCA, berinvestasi di Bank Mega, menggunakan Chairul Tanjung sebagai proksi. Namun, Anthony dan Chairul yang memang berteman baik, membantahnya.

Infografik Perjalanan Kepemilikan BCA
Infografik Perjalanan Kepemilikan BCA, tirto.id/Fuad

Pergantian Kepemilikan

Pemerintah melalui BPPN akhirnya menjadi pemilik BCA. Tahun 1999, setelah rekapitalisasi selesai, BPPN menguasai 92,8%. Keluarga Salim masih memiliki saham, tapi dalam porsi yang sangat kecil. Menurut laporan keuangan BCA tahun 1999 seperti dikutip Borsuk dan Chng (hlm. 428), Anthony Salim memiliki 2,894%, Soedono Salim (2,147%), Andree Halim (2,147%), dan Albert Halim (0,005%).

Sesuai mandatnya, BPPN memang bertugas untuk menyehatkan perbankan, untuk kemudian melepasnya lagi, untuk mendapatkan dana sebagai pengganti biaya rekapitalisasi yang sudah dikeluarkan pemerintah.

Proses pelepasan saham BCA terjadi beberapa kali. Pada tahap awal, BPPN melepas sahamnya kepada publik. Pada 11 Mei 2000, BPPN melepas saham BCA ke publik. Total yang dilepas adalah 22,5% dengan harga Rp1.400 per lembar. Setahun kemudian dilanjutkan dengan secondary offering 10% saham BCA.

Proses divestasi sedianya dilanjutkan dengan penjualan blok kepada investor strategis. Namun, penjualan tidak kunjung terjadi karena rumitnya proses penjualan di tengah kondisi politik yang belum stabil. Pada akhir tahun 2000, IMF bahkan sampai menunda pembayaran pinjaman sebesar 400 juta dolar karena tertundanya penjualan saham BCA.

Babak baru BCA terjadi pada tahun 2001, saat BPPN memulai divestasi 51% sahamnya. Namun, divestasi selalu mengalami kendala. Juli 2001, Mar’ie Muhammad sebagai Ketua Komite Pengawas Pelaksana Tugas BPPN memutuskan untuk menghentikan sementara proses penunjukan mitra strategis BCA dengan alasan pemilihan mitra tidak transparan. BPPN selanjutnya menetapkan kembali kriteria mitra strategisnya.

Divestasi bukan hal yang mudah karena penawaran yang masuk selalu lebih rendah dari harga yang ditetapkan BPPN. Pada awalnya, harga yang masuk hanya Rp900, sementara targetnya adalah Rp1.300.

Pada Juli 2003, konsorsium Farallon Capital yang dipimpin oleh Farindo Holdings (Mauritius) Ltd dinyatakan sebagai pemenang divestasi 51% saham BCA. Konsorsium beranggotakan Alearka Investment Ltd, yang sahamnya dimiliki oleh pemegang saham Djarum. Farallon menawar harga Rp1.775 per lembar, mengalahkan konsorsium Standard Chartered Bank yang menawar di harga Rp1.800. Farallon total membayar Rp5,3 triliun untuk 51% saham BCA.

Bagi Farallon, Rp5,3 triliun yang dikeluarkan adalah investasi kecil jika dibandingkan dengan laba yang dipetik dari BCA pada tahun-tahun berikutnya. BCA merupakan salah satu bank yang konsisten mencetak laba. Pada tahun 2019 saja, BCA meraup laba hingga Rp28,6 triliun, sekaligus menjadi bank swasta dengan laba terbesar di Indonesia.

Harga saham BCA juga terus melesat. Jika pada 1 Juni 2004 hanya Rp937,500 per lembar, maka pada 1 Maret 2013, harganya melesat menjadi Rp11.400. Tertinggi dicapai pada 1 Desember 2019 pada harga Rp33.425 per lembar. Per 8 Januari 2021, harga saham BBCA berada di level Rp35.250.

Pemegang saham BCA per 10 Desember 2020, menurut data Bursa Efek Indonesia: PT Dwimuria Investama (Grup Djarum) 54,94%, masyarakat 45,06%. Tidak ada lagi nama keluarga Salim. Nama Grup Salim kini tertera di daftar pemegang saham Bank Mega dan Bank Ina Perdana.



Baca juga artikel terkait BANK BCA atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Windu Jusuf
DarkLight