Terkait pertemuan dengan co-founder media Hong Kong, Asia Sentinel, Lin Neumann, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta kepada semua pihak untuk jangan terburu-buru mempolitisasi hal tersebut.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa, mengatakan pada Mei 2018 KSP mengagendakan acara pertemuan dengan American Chamber.

Sebelumnya, Partai Demokrat menilai salah satu artikel Asia Sentinel menyudutkan Partai Demokrat dan presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono.

"Bahwa saya di situ ada Asia Sentinel‎, ada co-foundernya Asia Sentinel, saya juga enggak ngerti, jadi jangan buru-buru baper, menduga begitu kan, dilihat dulu latar belakangnya seperti apa, menduga-menduga bagaimana. Kalau saya sebagai orang yang akan mengendalikan operasi intelijen kan, itu kira-kira kan operasi intelijen, bodoh banget saya terbuka begitu," kata Moeldoko.

Sebagai mantan Panglima TNI, ia mengaku paham agar operasi intelijen tidak tampak atau klandestin.

Ia pun menegaskan pertemuannya dengan American Chamber termasuk dengan co-founder Media Hongkong, Asia Sentinel, Lin Neumann tidak ada kaitannya dengan pergerakan politik maupun intervensi pemberitaan Asia Sentinel.

Oleh karena itu, Moeldoko mengimbau agar tidak ada prasangka buruk, yang turut pula dikaitkan dengan pergerakan politik.

"Jadi enggak ada kaitannya, enggak ada move politik apapun‎, itu hanya kepentingan KSP untuk bisa memberikan kejelasan kepada investor, para pengusaha luar yang sudah menanamkan uangnya di dalam negeri. Dan kita ingin menarik investasi lain yang ingin tahu situasi negara," katanya.

Moeldoko mengatakan dirinya dan Lin Neumann saling tidak mengenal sebelumnya. Ia juga mengatakan pemberitaan Asia Sentinel tidak ada hubungannya dengan istana.

"Saya ketemunya juga di situ, saya hanya sebagai undangan‎ penyampai materi. Itu, jadi konteksnya itu, jangan nanti diubah-ubah konteksnya, wah istana ada di belakang, istana mana lagi itu, enggak ada kaitannya dengan istana, enggak ada kaitannya dengan KSP, saya hanya diundang. Enggak ada yang lain," jelasnya.


Moeldoko mengaku sama sekali tidak tahu jika Lin Neumann yang menjabat sebagai Ketua American Chamber juga merupakan co-founder Asia Sentinel.

Ia menegaskan pada kesempatan pertemuan itu tidak ada komunikasi secara khusus dengan Neumann terlebih pertemuan itu berlangsung sangat singkat sekitar 45 menit.

Moeldoko sekaligus membantah dalam pertemuan itu ada pembahasan mengenai hal lain termasuk kasus Bank Century.

"Waktu itu saya juga masih Panglima TNI yah, jadi saya kurang paham Century itu, jadi enggak adalah upaya-upaya untuk yang di balik itu semuanya," katanya.

Moeldoko menyatakan tuduhan Istana terlibat dalam pemberitaan di Asia Sentinel terkait SBY merupakan tuduhan yang tidak masuk akal.

"Itu kan tuduhan yang enggak masuk akal, masa saya tentara, mantan Panglina TNI melakukan sesuatu yang bodoh begitu, kan enggak mungkin kalau saya melakukan sesuatu enggak perlu foto-foto dong, ngapain. Saya berdua saja sama Bapak itu ngomong sesuatu," katanya.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada semua kalangan untuk bisa menganalisis situasi dengan baik.

"Imbauannya adalah jangan baperlah, jangan bawa perasaan, nanti bisa salah menganalisis situasi, biasa aja kali," katanya.

Dalam laporan berjudul "Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy" yang ditulis John Berthelsen laman berita Asia Sentinel menyebutkan adanya konspirasi pencurian uang negara sebesar 12 miliar dolar AS yang melibatkan 30 pejabat negara dan mencucinya melalui perbankan internasional.