Drag Queen sebagai Seni dan Profesi

Oleh: Aulia Adam - 3 Januari 2019
Dibaca Normal 5 menit
Drag queen bukanlah identitas gender. Dan skena drag queen bukanlah ranah populer.
tirto.id - “Aduh, aku tadi ada meeting dadakan,” katanya. Ia setengah berlari menuju backstage, ruangan kecil di bawah panggung kabaret di lantai 3 Hamzah Batik, toko oleh-oleh di Malioboro, pusat Kota Yogyakarta.

Ia segera bergabung dengan 15 drag queen di tempat itu. Mereka sedang berdandan. Pertunjukan akan dimulai 1,5 jam lagi.

Ia buru-buru meletakkan tasnya, membuka kemeja, mengeluarkan seperangkat alat tata rias. Ia duduk di sudut ruangan di depan cermin besar. Setelah memupur bedak, memasang bulu mata palsu, mengoles pelupuk mata dengan pewarna hijau muda dan gincu merah muda, memakai wig keriting-pendek-hitam dan enam lapis stoking serta satu setel baju seragam biru, ia bertransformasi menjadi Kelly Rowland, salah satu anggota grup vokal Destiny’s Child.

Tampilannya jauh dari citra “pria kantoran” yang sejam lalu berlari panik. Gestur tubuhnya berubah jadi lebih feminin.

Sorry, boleh nanya personal?” kata saya saat ia lebih santai menunggu pentas. Ia mengangguk.

“Itu dilipat, ya?” Saya menanyakan kabar genitalianya di balik kostum—sebuah jumpsuit berlengan panjang tanpa celana.

“Iya. Dijepong,” sahut Suzzara Vina, drag queen lain di dekatnya.

Dijepong? Apa tuh?”

“Dijepit,” sahut Kelly Rowland, yang punya nama panggung Acipta Sasmi. Ia lalu tertawa.

Demi totalitas, para drag queen ini memang tak cuma bisa dandan atau membuat kostum, tapi harus detail menciptakan ilusi perempuan yang ingin ditampilkan. Termasuk melakukan trik tucking atau mengikuti istilah Suzzara Vina: jepong. Ini teknik memplester genitalia sendiri demi mengepaskan badan dengan kostum perempuan.

Wig atau sumpalan bra adalah contoh teknik lain menciptakan ilusi itu. Sebagian drag queen itu juga melakukan padding: mengisi bantalan busa yang sudah diukir sedemikian rupa ke dalam stoking agar membentuk siluet pinggul atau bokong yang diinginkan.

“Kalau aku biasanya enggak terlalu besar ke belakang (bokong). Paling buat pinggul. Soalnya, (bokong) Celine emang enggak yang wow kayak Nicky Minaj, kan,” kata Suzzara Vina, impersonator Celine Dion.

Acipta Sasmi, karena lebih sering meniru penyanyi Aggun, biasanya memakai sumpalan busa sekadaranya di pinggul. “Badan Anggun juga bukan tipikal yang siluetnya melekuk-lekuk banget,” tambahnya.

“Dijepit gitu enggak sakit?” tanya saya, penasaran.

You can only imagine,” jawab Suzzara Vina dengan aksen Jawa yang kental, dengan mimik muka serius.

Saat mereka tampil di pentas beberapa menit kemudian, seperti kata Suzzara Vina, saya memang cuma bisa membayangkan apa rasanya: lip sync, menari, berinteraksi dengan penonton, dan dijepong—di bawah lampu sorot yang panas selama 1,5 jam.


Profesi Drag di tengah Minim Skena

Di Raminten Cabaret Show, ada sekitar 15–20 drag queen yang tampil reguler setiap Jumat-Sabtu. Sebulan sekali, mereka mengajukan empat dan kadang lima lagu pada pihak manajemen dan produksi. Masing-masing lagu akan dibawakan dua kali setiap minggu. Ketika menyerahkan daftar itu, seorang drag queen harus turut memikirkan konsep penampilannya, termasuk kostum.

Drag queen impersonator macam Suzzara Vina dan Acipta Sasmi biasanya punya lagu-lagu andalan. Koleksi kostum mereka pun lumayan banyak. Terutama Acipta Sasmi yang memulai karier sebagai drag queen sejak 2011. Dan demi totalitas, mereka harus memperbarui koleksinya.

Wig cokelat emas sepanjang bahu, biasa dipakai Suzzara Vina ketika meniru Celine Dion, seharga Rp700 ribu. Vina juga punya kostum berbiaya lebih dari sejuta rupiah. Belum lagi belanja make-up dan sepatu. Untuk item terakhir, tak jarang para drag queen ini harus menempah khusus karena jarang ada sepatu perempuan dengan ukuran kaki laki-laki.

Selayaknya profesi lain di dunia hiburan, menjadi drag queen ternyata butuh modal yang lumayan.

Lalu, apakah profesi ini cukup menghasilkan?

Jawabannya bisa berbeda-beda bagi setiap drag queen. Dan mayoritas yang tampil reguler di Raminten Cabaret Show punya pekerjaan tetap di luar.

Acipta Sasmi, misalnya, bekerja di sebuah maskapai penerbangan dengan jam kantoran. Ada pula yang bekerja sebagai kepala personalia restoran, aktor teater, dosen dan mahasiswa pascasarjana, penyiar radio, wedding organizer, dan lain-lain.

“Sebenarnya (pendapatan dari kabaret) lumayan,” kata Babam, salah satu drag queen, juga aktor teater dan penari yang sering tampil dalam pertunjukan seni.

“Ada kok yang bisa menabung untuk bayar kos. Tapi, ada juga yang duitnya langsung habis setelah show,” tambah Bambam sambil tertawa.

Di Raminten Cabaret, semua hasil dari tiket pertunjukan diberikan untuk para penampil, termasuk drag queen dan penari latar. Semua dibagi rata. Saban sekali pentas, paling banyak bisa sampai 250 penonton, dengan harga tiket antara Rp50 ribu sampai Rp115 ribu.

Semua biaya produksi dan perawatan panggung dibiayai oleh Hamzah Sulaiman, pemilik Hamzah Batik lewat bisnis restoran dan oleh-olehnya.

“Status kita semua freelancer. Jadi bisa ambil job di luar,” kata Babam, yang punya nama panggung Luna Kamarie.

Acipta Sasmi berkata kepada saya bahwa upah panggilan tampil di luar kabaret bisa lebih tinggi. “Kami punya standar masing-masing sih. Tapi, kalau aku bisa satu juta sampai di atas itu,” ungkapnya.

Yang dimaksud job di luar adalah ajakan tampil di acara-acara kenduri untuk lip sync. “Acara gathering kantor, nikahan, malam tahun baruan,” Suzzara Vina mencontohkan.

Seni drag queen di Indonesia memang belum masuk jenis hiburan arus utama. Skenanya terhitung kecil. Selain di Raminten Yogyakarta, nyaris tak ada pertunjukan drag queen yang tayang reguler di Indonesia, kecuali acara khusus yang dimiliki kelab-kelab malam.

Penggiatnya juga terhitung sedikit. Jika dipisah per provinsi, mungkin tiga daerah dengan skena paling besar adalah Yogyakarta, Jakarta, dan Bali.

Drag Queen Raminten
Susan, mahasiswa S2 dan pengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, menjadi penari latar Asoka Reja untuk lagu Chandelier, di Raminten Cabaret Show, Desember 2018. tirto.id/Aulia Adam

Asal Mula Drag, Menghayati Karakter di Panggung

Drag sebenarnya bukan seni yang langka di Indonesia. Dalam banyak kebudayaan lokal, sebutannya berbeda-beda, seperti Arjen Weni di Bali, Ludruk dan Lengger di Jawa, atau Landai di Sumatera.

Drag sudah ada di banyak budaya sejak lama. Misalnya, dalam seni Kabuki di Jepang, performer pria yang memakai kostum perempuan disebut Konagata.

Drag adalah singkatan dressed resembling as girl, dipakai sastrawan William Shakespeare untuk menggambarkan para pria yang memakai kostum wanita di panggung teater. Dulu, saat hak-hak perempuan masih terbatas termasuk tampil di atas panggung, para pria diperkenankan memerankan karakter di atas panggung asalkan memakai kostum dan wig.

Berdasarkan kamus Oxford, kata drag sudah ada sejak 1388, tapi baru pada abad 19 digunakan untuk mendefinisikan “berpakaian atau menjadi persona yang berbeda dari gender sendiri”. Sejak awal, drag memang lekat dengan dunia seni pertunjukan.

Lewat drag, Babam terus mengasah kemampuannya mendalami karakter.

Ia bukan impersonator karakter tunggal macam Suzzara Vina atau Acipta Sasmi. Pada medio Desember 2018 saat saya datang ke Raminten Cabaret Show, Babam yang punya nama panggung Luna Kamarie sedang menjadi Michelle Williams dari Destiny’s Child. Ia juga pernah jadi Candil, eks vokalis Serius Band. Di minggu terakhir pengujung tahun 2018, ia juga menjadi Sia, tampil dengan kostum kado berwarna hijau-merah ala Natal, bikinan sendiri.

“Di dalam drag itu sebenarnya ada banyak sekali yang harus dipelajari. Bukan cuma belajar lagu yang mau di-lipsync-kan. Kayak Kak Suz atau Acipta Sasmi, yang punya spesialisasi karakter, kan benar-benar-benar ngikutin banget Celine dan Anggun," ujar Babam.

"Mesti benar-benar didalami karakternya. Gestur, cara nyanyi, semua kan benar-benar harus mirip,” tambah Babam. “Kalau enggak, penonton enggak bisa ngerti pas kita tampil.”

Lain lagi dengan Acipta Sasmi. Buatnya, drag adalah eskapisme yang ingin terus dipertahankan. “Rutinitas kerja nine to five itu membosankan. Kabaret dan lingkungannya itu yang biasanya bikin aku lepas dari stres,” katanya. “Enggak munafik juga, ini tuh sumber pemasukan yang lumayan juga.”

Sementara Suzzara Vina lebih serius. Ia tak tahu ke depannya, meski tengah menimbang menekuni dunia drag sebagai profesi tunggal. “Dulu aku memang cuma iseng. Tapi, makin ke sini aku melihat ini bisa jadi profesi.”

“Pasarnya ada, walaupun enggak besar. Lumayan,” ujar Vina.

Namun, ketiganya menyadari bahwa skena drag queen memang bukan ranah populer.

Salah satu tantangan skena drag queen adalah asosiasi profesi ini dengan dunia prostitusi yang sudah jadi stigma. Bahkan, masih banyak orang yang tak bisa membedakan drag queen dan transgender (orang yang mengidentifikasi gendernya tidak sesuai dengan identitas gender ketika lahir).

Acipta Sasmi, Suzzara Vina, dan Babam mengaku punya 'penggemar' yang suka menggoda, bahkan berperilaku nakal pada mereka. Misalnya mengajak kencan atau mengirim foto tak senonoh lewat media sosial.

"Masih banyak yang enggak ngerti. Jadi, lebih baik enggak usah ditanggapi," kata Vina.

Mereka tak pernah mengidentifikasi diri sebagai perempuan. Ketiganya menganggap drag sebagai seni mengekspresikan diri. Meski mereka juga tak menampik skena ini memang dekat dengan kelompok LGBT.

“Ada kok teman-teman waria yang juga drag queen, tapi ada banyak juga yang memang drag queen aja. Pakai baju perempuan kalau lipsync aja, setelah itu ya jadi kayak laki-laki biasa,” kata Babam.

Memang, tak banyak yang paham bahwa drag tidak sama dengan identitas gender.

Dibayangi Persekusi

Persekusi anti-LGBT yang meningkat dalam dua tahun terakhir di Indonesia, terutama lewat histeria moral oleh pejabat negara, berdampak pada profesi drag queen yang terekspos ke publik. Salah satu yang paling ekstrem adalah aturan Komisi Penyiaran Indonesia yang melarang cross-dresser di televisi.

Situasi ini sangat berbeda dari skena drag queen di ranah global. Dua tahun terakhir, drag queen mulai dilahap media arus utama. RuPaul’s Drag Race, sebuah kompetisi khusus para drag queen yang tayang di televisi dan bisa diakses streaming, berhasil membawa profesi ini jadi diskusi di permukaan.

Pada 2017, tarung lip sync antara Sasha Velour dan Shea Couleé pada musim ke-9 Drag Race berhasil masuk daftar 10 episode televisi Amerika terbaik versi Time. Sejak itu, drag queen makin berjaya di media arus utama.


Lagu-lagu mereka makin sering masuk Billboard, penonton RuPaul’s Drag Race makin banyak. Tahun 2018, Thailand bahkan mengadopsi acara tersebut. Disusul Inggris tahun ini.

RuPaul, sang penggagas sekaligus pembawa acaranya, dirayakan media sebagai orang yang berhasil membawa drag queen jadi panggung hiburan arus utama. Ia membawa nama para drag queen alumni acaranya sejajar dengan selebritas lain. Mereka tak lagi cuma tampil di bar-bar malam dengan bayaran seadanya, tapi punya pertunjukan dan tur keliling dunia (tiketnya berkisar antara 108-128 dolar Singapura).

Salah satu pemenang Drag Race adalah Raja, drag queen kelahiran Amerika Serikat keturunan Indonesia. Ia sempat tinggal dan sekolah di sini.

“Empat tahun di Bali, kemudian pindah ke Jakarta selama dua tahun,” kata drag queen bernama asli Sutan Amrull ini kepada Queerty.

Raja paham skena drag queen di Indonesia memang sempit, sehingga bersyukur atas keputusan orangtuanya pindah ke AS. Sebelum dikenal sebagai salah satu drag queen paling populer di Kerajaan RuPaul, Raja bekerja sebagai penata gaya dan rias buat Tyra Banks, Iggy Azalea, dan Adam Lambert.

Jika tak jadi pindah, karier Raja mungkin tak akan secemerlang sekarang.

Baca juga artikel terkait LGBT atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight