Didemo Kelompok Kiri & Agamawan, Mengapa Netanyahu Didesak Mundur?

Polisi menyiramkan meriam air kepada demonstran yang memprotes Benjamin Netanyahu di Yerusalem (18/7/2020). (REUTERS/ Ammar Awad TPX IMAGES OF THE DAY/ANTARAFOTO)
Oleh: Tony Firman - 2 September 2020
Dibaca Normal 4 menit
Benjamin Netanyahu didemo besar-besaran karena tuduhan korupsi dan merusak demokrasi. Kelompok kiri jadi motornya.
Dalam beberapa bulan terakhir, aksi demo jalanan di Israel menentang Perdana Menteri Netanyahu terus terjadi. Eskalasinya meningkat hingga Sabtu (1/8/2020). Sekitar 10 ribu orang, yang semuanya mengenakan masker, berkumpul di depan kediaman resmi Netanyahu. Poster-poster bertuliskan “Perdana Menteri Kejahatan” dan “Bibi (panggilan Netanyahu) pulanglah” mewarnai aksi demonstrasi yang diklaim terbesar sejak 2011. Jalanan di pusat kota Yerusalem dipadati demonstran. Pertemuan-pertemuan kecil terjadi di Tel Aviv dan di beberapa persimpangan yang sibuk.

Di Alun-Alun Paris Yerusalem, kepolisian mengizinkan para demonstran hingga sekitar pukul satu pagi, tetapi setelahnya diusir dengan cara menyeret mereka dan menyemprotkan water canon. Belasan orang ditangkap termasuk kelompok pro-Netanyahu yang terlibat bentrok dengan massa anti-Netanyahu.

Netanyahu diprotes lantaran dinilai gagal menangani krisis corona serta tuduhan melakukan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan (breach of trust) yang semuanya mengarah untuk tujuan memperkuat kekuasaannya. Proses peradilan memang sedang berlangsung, tetapi itu tak membuat massa puas karena Netanyahu masih duduk dan menjalankan roda pemerintahan. Selain itu kepala polisi dan jaksa agung yang menangani dakwaan adalah orang yang dipilih Netanyahu. Para sekutunya turut menginginkan undang-undang yang akan memberikan kekebalan bagi perdana menteri dari tuntutan hukum.

Krisis corona yang ditangani dengan pembatasan dan penutupan pusat-pusat perekonomian hampir total antara Maret sampai akhir April menyebabkan lonjakan angka pengangguran mendekati 28 persen dari semula hanya 3,4 persen. Bloomberg mencatat, saat kembali bekerja, tingkat pengangguran hanya turun 6 persen. Sementara ada 88 persen pengangguran yang selama cuti corona tidak dibayar. Pemerintah sudah berusaha membuat para pemilik usaha memanggil kembali pekerjanya yang cuti dan menawarkan stimulus ekonomi.

Amy Katz, penduduk Yerusalem, mengatakan Netanyahu mengikis demokrasi Israel. “Kami memiliki perdana menteri yang tertarik untuk memajukan urusan pribadinya dan tidak dapat memimpin negara,” katanya seperti dilansir Times of Israel. “Jika Bibi tidak mundur, suatu hari kita tidak akan menjadi negara demokrasi.”

Netanyahu menolak tuduhan korupsi dan balik menuding itu sebagai ulah lawan politiknya untuk menjatuhkannya. Ia bersumpah untuk terus menjabat perdana menteri dan menyebut aksi protes jalanan dipelopori kelompok kiri dan anarkis. Partainya, Likud, menuduh media lebih condong berpihak pada kepentingan massa aksi.

Para pendemo terdiri dari beragam latar belakang: seniman, pekerja sosial, wiraswasta, dan para muda-mudi. Beberapa aktivis muda berasal dari partai kiri-jauh Hadash yang tampak mengibarkan bendera merah, gerakan pemuda sekuler HaShomer HaTzair, dan Black Flag—gerakan pro-demokrasi yang baru terbentuk pada Maret 2020 untuk menentang pemerintahan Netanyahu.


Kelompok Religius dan Arab Tak Antusias

Meski protes dihadiri orang-orang dari beragam latar belakang, keberadaan pemuka agama dalam protes anti-Netanyahu adalah pemandangan yang tak biasa. Terlebih demonstrasi dilakukan di hari Sabat, waktu ketika para pemeluk Yahudi yang taat berhenti beraktivitas. Tetapi pengecualian berlaku bagi Rabi Avidan Freedman. Seperti diwartakan Haaretz, Freedman berada di depan rumah Netanyahu sambil membawa poster bertuliskan “Masyarakat religius: Tempat Anda ada di sini.”

Freedman, yang juga aktif berkampanye mengakhiri penjualan senjata Israel ke rezim-rezim korup, bilang bahwa orang-orang religius Israel menjauhi protes karena tidak percaya protes benar-benar tentang korupsi Netanyahu atau tentang krisis corona. Sama seperti narasi yang dilontarkan Netanyahu, orang-orang religius ini percaya aksi protes adalah bagian dari upaya elite kelompok kiri untuk menggulingkan Likud. “Jika Anda membaca buletin-buletin religius, Anda akan melihat bahwa ini adalah tema utama dalam liputan mereka tentang aksi protes,” ujar Freedman.

Ini turut dibenarkan Rabi David Stav, ketua Tzohar, asosiasi rabi ortodoks yang berpikiran progresif. “Komunitas ultra-ortodoks hanya berpartisipasi dalam protes yang berkaitan dengan masalah agama, dan komunitas Zionis religius hanya memprotes ketika datang masalah yang berhubungan dengan tanah Israel,” katanya.

Kelompok Zionis di partai sayap kanan Yamina diketahui ikut berdemo karena tidak berada di lingkaran puncak kekuasaan. Bahkan jajak pendapat terbaru yang diselenggarakan sebuah stasiun televisi pada Kamis (6/8/2020) menyebut suara dukungan ke partai Likud menyusut dan diperkirakan berpindah ke Yamina.

Kehadiran komunitas Arab Israel dalam demo juga segelintir. Hanya terlihat penyanyi Esam Kadri dan beberapa artis Arab lainnya yang bergabung dalam protes anti-Netanyahu di kesempatan sebelumnya. Jumlahnya terlalu kecil untuk urusan yang menyangkut semua lapisan masyarakat. Selama bertahun-tahun, warga Arab Israel baru turun ke jalan hanya jika masalah yang dihadapi merupakan serangan langsung terhadap komunitas atau kepentingan mereka.

Alasannya tidak tunggal. Afif Abu Much, aktivis Arab Israel yang getol menyuarakan komunitasnya, dalam laporannya untuk Al-Monitor berpendapat dalam beberapa tahun belakangan taktik yang dianggap terbaik oleh kelompok kiri-tengah Yahudi dalam merebut kekuasaan dari pemerintahan sayap kanan Likud adalah dengan meninggalkan identitas Arab dalam tiap gerakan. Karena alasan itulah kehadiran orang Arab dirahasiakan. Ini semata agar tidak memberi Netanyahu kesempatan untuk mengecilkan gerakan hanya sebagai “kolaborator Arab” yang membangkitkan sentimen. Namun konsekuensinya bisa jadi membuat orang Arab Israel merasa bahwa mereka tidak diinginkan dalam aksi protes besar semacam ini atau, lebih jauh, tidak diinginkan dalam konstelasi politik yang lebih besar.




Kepemimpinan Populis

Pada awal Maret 2020 Netanyahu memastikan kemenangan Likud, dengan sekutu sayap kanan, dalam pemilu legislatif. Meski tidak menyapu kursi mayoritas di parlemen, ia mengklaim sebagai kemenangan terbesar dalam hidupnya. Kemenangan Netanyahu di tengah tuduhan korupsi yang sudah mengemuka sejak tahun lalu membuat publik yang kontra kian heran, tetapi tidak bagi para pendukungnya.

Peta pemilih yang mendukung Netanyahu menunjukkan sebagian besar berlatar belakang sosial ekonomi yang lebih rendah, pernah mengalami ketidaksetaraan, dan mempertahankan tradisi Yahudi yang kuat terutama di kota Beer Sheba dan Tiberius. Sementara di Tel Aviv dan pinggiran kota sekitarnya adalah basis dari pemilih politik kiri-tengah. Mereka yang menyukai Netanyahu membenci kelompok elite yang kerap dilekatkan kepada kaum Yahudi Ashkenazi serta pengacara dan hakim kiri-liberal yang kuliah di kampus ternama dan tumbuh besar di keluarga kaya.

Ayelet Gundar-Goshen, novelis dan aktivis sosial Israel, dalam paparannya untuk Time juga menjelaskan sebagian besar masyarakat Israel meragukan sistem peradilan negara karena adanya tendensi dikuasai oleh kaum elite kiri. Jika mereka ditanya gambaran seorang hakim Israel, mereka langsung merujuk pada seorang pria kelas atas, sekuler, dan kekiri-kirian.


Alhasil ketika Netanyahu bilang bahwa tuduhan korupsi adalah manuver politik kaum kiri untuk menggulingkan pemerintahannya, maka tidak sulit bagi para pendukungnya untuk setuju. Para pendukung fanatiknya sampai tak segan memberi ancaman pembunuhan kepada pengacara dan profesional lain yang terlibat mengusut kasus junjungan mereka.

Dalam seri artikel tentang sosok pemimpin, Economist menyatakan Netanyahu sebagai politikus paling berbakat Israel dalam satu generasi sekaligus yang paling merusak dan menimbulkan perpecahan. “[Netanyahu] penting karena dia mewujudkan politik nasionalisme yang kuat, sauvinisme, dan kebencian kepada para elite jauh sebelum populisme semacam itu menjadi kekuatan global,” tulis majalah tersebut.

Kecapakannya memimpin selama menjadi perdana menteri dalam satu dekade terakhir telah melahirkan pertumbuhan ekonomi yang gemilang terutama di bidang rintisan teknologi. Dengan diplomasi dan penggunaan kekuatan militer yang hati-hati, ia mampu menjaga keamanan dan tidak terseret dalam perang brutal yang menghancurkan negaranya sendiri. Hubungan mesranya dengan para penguasa Arab dianggap yang terbaik dalam sejarah Israel.

Kini, di tengah tuduhan korupsi, pengambilan kebijakan yang kontra-demokrasi untuk menguatkan kekuasaan, dan krisis ekonomi dampak pandemi, akankah Netanyahu memenuhi permintaan massa untuk mundur dari jabatannya? Beberapa pengamat dan akademisi menyebut gelombang protes kali ini bisa menjadi semacam “Musim Semi Arab” di Israel.

Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Penulis: Tony Firman
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight