Perang Dagang AS-Cina

Defisit Neraca Dagang Indonesia Tertinggi Sepanjang Sejarah

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 22 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
INDEF menyebutkan, kondisi defisit neraca dagang Indonesia pada 2018 lalu tidak jauh dari keputusan impor barang-barang dari China yang dilakukan Indonesia dan akibat perang dagang Cina dan AS.
tirto.id - Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik J Rachbini menjelaskan, kondisi defisit neraca dagang Indonesia pada 2018 lalu tidak jauh dari keputusan impor barang-barang dari China yang dilakukan Indonesia dan perang dagang.

"Kita baru mendengar dari lembaga pemerintah sendiri BPS (Badan Pusat Statistik) bahwa defisit neraca berjalan merupakan yang terbesar sepanjang sejarah 20 tahun terakhir ini. Ini apa artinya, sektor luar negeri kita lemah, kedodoran, kehilangan strategi ekonomi dan dagang. Inilah saya bahas sebagai masalah kita yang perlu mendapat perhatian," jelasnya ketika berdiskusi dengan media di Jakarta, Jumat (22/2/2019).

Ia menjelaskan, akar masalah Indonesia dan apa kontribusi Cina dalam persoalan tersebut sama artinya dengan defisit perdagangan RI-Cina yang tekor besar. Ia menggunakan peribahasa 'menganga' dalam mengartikan defisit yang saat ini melemahkan perekonomian RI.

"Ini adalah faktor penting di mana dalam satu aspek perdagangan Indonesia yang berada pada pihak yang kalah, dirugikan, terdesak. Tetapi pemerintah tidak terlihat mempunyai strategi diplomasi dagang, setidaknya untuk menguranginya," jelas dia.


Sebagai informasi,neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2018 kembali mengalami defisit. Badan Pusat Stasitik (BPS) mencatat, angkanya mencapai sebesar 1,1 miliar dolar AS.

Jika dibandingkan bulan yang sama tahun 2017 dengan defisit sebesar 240 juta dolar AS, maka ini adalah yang paling parah.

Dengan demikian, kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto, defisit neraca perdagangan sepanjang 2018 tercatat sebesar 8,57 miliar dolar AS.

Ia menjelaskan, sebagai perbandingan, defisit perdagangan Cina dengan Amerika sekitar 375 milyar dolar. Didik mengatakan defisit yang sangat besar membuat Amerika marah dengan tidak hanya mengultimatum. Namun langsung memukul bendera perang dagang.

"Dalam satu bulan defisit kira- kira 30 sampai 40 miliar dolar AS. Sekarang perang itu sedang berlangsung dan mempengaruhi ekonomi global. Indonesia defisit dagang cuma nerimo saja, padahal ini melamahkan ekonomi ke depan," papar dia.


Baca juga artikel terkait NERACA PERDAGANGAN atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno