tirto.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel) memicu lonjakan drastis pada sektor kesehatan. Dinas Kesehatan Sumsel mencatat tambahan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih bertahan di angka ribuan pasien per hari.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat sebanyak 1.227 kasus baru ISPA pada 28 Oktober 2026. Pada hari sebelumnya, tercatat 1.748 kasus baru. Sementara tambahan pasien ISPA pada 26 Oktober 2026 berjumlah 1.865 kasus.
Kasus ISPA harian tertinggi berada di Palembang, yakni tercatat 435 kasus. Disusul Kabupaten Musi Banyuasin 125 kasus dan Muara Enim sebanyak 121 kasus. Selain itu, penderita ISPA di Ogan Komering Ilir berjumlah 53 kasus dan Ogan Ilir 60 kasus.
"Dari grafik yang ada, penderita ISPA di Sumsel masih tinggi, mencapai ribuan kasus. Pada 28 Oktober 2026 ada tambahan 1.227 kasus dan Palembang menjadi daerah tertinggi penderita," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, Kamis (29/10/2026).
Dari data di empat posko kesehatan yang didirikan Dinkes Sumsel di Palambang, total kunjungan pada 28 Oktober 2026 berjumlah sebanyak 27 orang. Dari pemeriksaan, 18 orang di antaranya positif mengidap ISPA.
"Dari 27 kunjungan di empat posko kami, ada 18 orang positif ISPA atau 66 persen dari total kunjungan kemarin," kata dia.
Sementara secara kumulatif, penderita ISPA di Sumsel pada Oktober 2026 cenderung menurun dibanding bulan lalu. Bulan ini tercatat 46.102 kasus, sedangkan pada September 2026 sebanyak 52.483 kasus atau tertinggi sepanjang tahun ini.
Ira mengungkap, Palembang jadi penyumbang terbanyak penderita ISPA yakni berjumlah 15.057 kasus. Selanjutnya adalah Musi Banyuasin 5.253 kasus dan Muara Enim berjumlah 3.976 kasus.
Ira turut mengungkap, daerah yang minim kejadian karhutla seperti Empat Lawang pun turut melaporkan 301 kasus ISPA. Pagaralam bahkan mencapai 715 kasus.
"Kami imbau warga tetap beraktivitas di luar ruangan memakai masker karena kualitas udara mayoritas daerah di Sumsel, seperti Palembang, masih kategori tidak sehat," tandasnya.
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































