Menuju konten utama
Edusains

Clerodendrum ismaili, Spesies Baru dari Semeru yang Terancam

Spesies baru dari Semeru ini dinamai demikian untuk mengenang Ismail, pegiat konservasi. Populasinya sekitar 12 individu dan diusulkan berstatus Kritis.

Clerodendrum ismaili, Spesies Baru dari Semeru yang Terancam
Bunga Clorodendrum Ismaili H.Sant.&Sudarmono yang ditemukan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau di Ranu Darungan, Lereng Selatan Gunung Semeru. ANTARA/HO-Balai Besar TNBTS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di Ranu Darungan, lereng selatan Gunung Semeru, mendiang Ismail menghabiskan sebagian besar masa kerjanya untuk merawat taman anggrek dan membantu kegiatan konservasi. Pekerja harian di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini dikenal memiliki pengetahuan luas tentang keanekaragaman tumbuhan di Semeru.

Ismail pernah masuk hutan untuk mencari anggrek liar dan menjualnya. Bersama rekannya, Samian, ia menyusuri kawasan hutan untuk mengambil tanaman yang bernilai jual. Pencarian itu bahkan membawanya hingga ke Sulawesi dan Kalimantan.

Namun, hidupnya berubah setelah bertemu Toni Artaka, Kepala Resor Ranu Darungan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Pada 2017, Toni mengajak keduanya memahami dampak pengambilan anggrek dari hutan. Jika terus diburu, anggrek yang tumbuh liar bisa semakin sulit ditemukan dan hilang dari habitatnya.

"Tidak mungkin menjaga hutan tanpa melibatkan warga sekitar. Tidak mungkin pula setiap saat petugas TNBTS harus kejar-kejaran dengan warga yang selama ini hidup dari hutan," ujar Toni.

Pendekatan itu mengubah peran warga Desa Pronojiwo, Kabupaten Lumajang itu. Ia yang semula mengambil anggrek untuk dijual kemudian ikut merawat dan menjaga tanaman tersebut. Bersama Samian dan petugas lainnya, Ismail dipercaya merawat Orchidarium Ranu Darungan, taman anggrek seluas sekitar 3.600 meter persegi.

Pada 2023, sekitar 800 bibit hasil perbanyakan disiapkan untuk ditanam kembali di habitatnya. Salah satu upaya konservasi itu menyasar anggrek jamrud (Dendrobium macrophyllum).

Pengalaman Ismail mengenali tumbuhan Semeru tumbuh dari pekerjaannya di hutan. Kini, nama dan dedikasinya dalam konservasi diabadikan pada Clerodendrum ismaili, spesies tumbuhan berbunga putih yang ditemukan di Ranu Darungan.

Clerodendrum ismaili Ditetapkan sebagai Spesies Baru

Clerodendrum ismaili telah dikenal secara lokal sebelum identitas ilmiahnya didokumentasikan. Tumbuhan yang dikenal warga belum tentu telah diidentifikasi sebagai spesies tersendiri oleh ilmu pengetahuan.

Untuk memastikan statusnya, peneliti membandingkan ciri tumbuhan tersebut dengan spesies yang telah dikenal. Hasil penelitian oleh Heri Santoso, Toni Artaka, Hoirul Ismy, dan Sudarmono itu diterbitkan dalam jurnal Phytotaxa pada 15 September 2026.

Penelitian lapangan berlangsung sejak Februari 2026. Pengamatan lanjutan pada Mei–Juli tahun yang sama mencakup habitat, sebaran, jumlah individu, serta masa berbunga dan berbuah. Peneliti membandingkan tumbuhan hidup dan spesimen yang dikumpulkan dengan koleksi Herbarium Bogoriense serta literatur botani.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tumbuhan ini paling mirip dengan Clerodendrum calamitosum. Keduanya termasuk genus Clerodendrum dalam kelompok tumbuhan Lamiaceae. Namun, sejumlah ciri fisiknya membedakan kedua spesies tersebut.

Clerodendrum ismaili tumbuh sebagai perdu setinggi 1,7–2,4 meter. Daunnya berukuran panjang 8–30 sentimeter dan lebar 4,3–13 sentimeter. Helaian daunnya berbentuk lonjong memanjang hingga bulat telur terbalik, dengan ujung meruncing dan pangkal membulat atau rata. Tepi daun umumnya rata, meski terkadang sedikit bergerigi.

Tumbuhan Clorodendrum Ismaili

Bunga Clorodendrum Ismaili H.Sant.&Sudarmono yang ditemukan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau di Ranu Darungan, Lereng Selatan Gunung Semeru. (Instagram/@bbtnbromotenggersemeru)

Bunganya berwarna putih krem dan tersusun dalam kelompok tegak di ujung ranting. Mahkota bunganya ditutupi rambut halus yang cukup panjang. Kelopaknya memiliki cuping yang cenderung berbentuk bulat telur.

Sebagai pembanding, C. calamitosum umumnya tumbuh setinggi 0,5–1,5 meter. Daunnya lebih kecil, dengan panjang 5–12 sentimeter. Tepi daun bergerigi hingga menyerupai gigi, sedangkan pangkalnya meruncing. Bunganya tersusun dalam kelompok di ketiak daun. Mahkotanya memiliki rambut yang lebih pendek dibandingkan C. ismaili.

Gabungan perbedaan pada perawakan, daun, susunan bunga, dan rambut mahkota menjadi dasar peneliti mengakui C. ismaili sebagai spesies tersendiri. Pihak Balai Besar TNBTS menyambut temuan ini sebagai tambahan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati Semeru.

"Semakin kita mengenal kekayaan hayati yang ada, semakin besar pula tanggung jawab dan kesempatan kita untuk menjaganya bersama-sama," ujar Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, dikutip detikjatim.

Clerodendrum ismaili Diusulkan Berstatus Kritis

Penemuan C. ismaili menambah catatan keanekaragaman hayati Semeru. Namun, penelitian ini juga mengungkap persoalan konservasi. Spesies tersebut sejauh ini hanya diketahui dari satu lokasi dengan populasi sekitar 12 individu. Angka tersebut merujuk pada individu yang diketahui di lokasi penelitian, sehingga belum menggambarkan jumlah keseluruhan populasi C. ismaili di Semeru atau kawasan sekitarnya.

Peneliti memperkirakan luas wilayah yang ditempati C. ismaili atau Area of Occupancy (AOO) hanya 4 kilometer persegi. Berdasarkan data tersebut, peneliti mengusulkan kategori Critically Endangered (CR) atau Kritis menurut kriteria Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Penilaian awal ini menggunakan kriteria B2ab(iii), yang mempertimbangkan wilayah hunian sangat sempit, keberadaan spesies di satu lokasi, dan kemungkinan penurunan kualitas habitat. Peneliti menegaskan bahwa kondisi habitat perlu terus dipantau.

C. ismaili tumbuh di hutan subpegunungan pada ketinggian 825–950 meter di atas permukaan laut. Tumbuhan ini hidup di bawah tajuk hutan yang rapat, pada lingkungan teduh dan relatif lembap. Di habitat tersebut, tumbuhan ini tumbuh bersama sejumlah spesies lain, antara lain Mycetia cauliflora, Rungia smeruensis, Zingiber macrocephalum, Lithocarpus sundaicus, Ixora smeruensis, Curculigo capitulata, dan Pinanga coronata.

Peneliti mencatat C. ismaili berbunga pada Juni dan mulai berbuah pada Juli. Pengamatan pada periode berikutnya diperlukan untuk mengetahui konsistensi pola tersebut serta memahami keberhasilan pembentukan buahnya.

Kondisi habitat menjadi perhatian karena peneliti menilai populasi yang kecil dan sebaran terbatas membuat spesies ini rentan terhadap kejadian acak dan kemungkinan penurunan kualitas lingkungan. Namun, penelitian tersebut tidak merinci kejadian tertentu yang telah merusak habitatnya. Karena itu, dampak pohon tumbang, longsor, atau kemarau ekstrem tidak dapat dinyatakan sebagai ancaman yang sudah terbukti terjadi pada populasi ini.

Tumbuhan Clorodendrum Ismaili

Bunga Clorodendrum Ismaili H.Sant.&Sudarmono yang ditemukan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau di Ranu Darungan, Lereng Selatan Gunung Semeru. (Instagram/@bbtnbromotenggersemeru)

Peneliti juga menemukan persoalan lain saat mengamati reproduksinya. Beberapa individu C. ismaili menggugurkan bunga tanpa menghasilkan buah. Penyebabnya belum diketahui. Pengamatan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa spesies ini mengalami gangguan reproduksi atau kesulitan melakukan penyerbukan.

Para peneliti lalu merekomendasikan pengamatan terhadap serangga pengunjung bunga, perpindahan serbuk sari, pembentukan buah, dan sistem reproduksi tumbuhan tersebut. Survei lanjutan juga diperlukan untuk mengetahui apakah ada populasi lain di Semeru atau kawasan sekitarnya. Informasi ini dapat membantu menjelaskan kondisi populasi dan menentukan langkah konservasi yang sesuai.

Ragam Tumbuhan Ranu Darungan

Kawasan Ranu Darungan, tempat spesies ini ditemukan, juga menjadi lokasi penelitian berbagai kelompok flora, termasuk anggrek. Pada 2021, Reza Khoirun Nisa dan koleganya menerbitkan penelitian tentang keanekaragaman anggrek di Ranu Darungan dalam jurnal LenteraBio. Mereka mencatat 44 spesies anggrek dari 28 marga melalui survei lapangan dengan metode penjelajahan dan jalur pengamatan.

Dari jumlah tersebut, 25 spesies merupakan anggrek tanah atau terestrial, sedangkan 18 spesies tumbuh menempel pada tumbuhan lain atau epifit. Satu spesies lainnya termasuk kelompok yang dalam penelitian disebut saprofit.

Dalam survei tersebut, anggrek dari genus Appendicula memiliki proporsi temuan tertinggi, sebesar 12,64 persen. Delapan spesies lainnya masing-masing mencatat proporsi terendah, yakni 0,09 persen. Angka tersebut menggambarkan proporsi temuan dalam penelitian, bukan bukti langsung bahwa spesies-spesies itu terancam punah.

Penelitian lain oleh Luthfinia Farah Dina dan koleganya pada 2022 mengamati tumbuhan herba di zona pemanfaatan Ranu Darungan. Mereka mencatat 180 individu dari 15 marga dan 13 famili. Indeks keanekaragaman tumbuhan herba di lokasi penelitian mencapai 2,39, yang tergolong sedang. Hasil ini memberi gambaran tambahan tentang keragaman tumbuhan di Ranu Darungan, di luar kelompok anggrek.

Kedua penelitian tersebut memberi gambaran tentang keragaman tumbuhan Ranu Darungan, mulai dari anggrek hingga tumbuhan herba. Namun, masing-masing kajian terbatas pada kelompok tumbuhan dan lokasi pengamatan tertentu. Data tersebut belum mewakili seluruh flora di kawasan itu, termasuk lumut, paku-pakuan, perdu, dan pohon.

Penemuan C. ismaili menambah catatan keanekaragaman tumbuhan di Ranu Darungan. Survei lanjutan terhadap kelompok tumbuhan lain dan pencarian populasi C. ismaili di lokasi berbeda diperlukan untuk melengkapi data flora sekaligus memahami sebaran spesies baru tersebut. Meski begitu, temuan yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh flora Ranu Darungan terancam atau semua jenis tumbuhannya telah terdata.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Edusains
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi