tirto.id - Enam puluh enam juta tahun yang lalu, sebuah batu dari luar angkasa selebar kira-kira 10 kilometer menghantam wilayah yang kini dikenal sebagai Semenanjung Yucatán di Meksiko. Benturannya melepaskan energi setara miliaran bom nuklir, seraya mengirimkan gelombang panas, abu, dan jelaga ke seluruh atmosfer Bumi. Langit menjadi gelap, tumbuhan berhenti berfotosintesis, hewan yang bergantung pada tumbuhan mati, dan rantai makanan pun runtuh.
Bagi dinosaurus, terutama yang berukuran besar, peristiwa itu menjadi akhir dari eksistensi mereka di muka Bumi. Mereka kehilangan sumber makanan dan akhirnya punah. Akan tetapi, momen kepunahan massal itu tidak terjadi pada semua makhluk.
Jawaban tersebut merupakan hasil penelitian yang dipimpin oleh Dr. Alfio Alessandro Chiarenza dari University College London (UCL) dan diterbitkan di jurnal Science Advances. Dr. Chiarenza dan timnya menganalisis lebih dari 7.000 catatan fosil dari lebih dari 400 spesies, baik yang masih hidup maupun yang sudah punah, lalu memadukan data itu dengan model komputer yang merekonstruksi iklim dan geografi Bumi selama 245 juta tahun.
Hasilnya mengungkap satu pola yang konsisten selama seperempat miliar tahun. Yakni, betapa cintanya buaya dan para leluhurnya terhadap iklim hangat.
Para ilmuwan menyebut sifat ini climatic niche conservatism, atau konservativisme relung iklim. Artinya, suatu kelompok cenderung mempertahankan preferensi iklim leluhurnya dari waktu ke waktu, alih-alih beradaptasi ke kondisi yang sepenuhnya baru. Dalam kasus buaya dan kerabatnya, pola ini berlangsung konsisten selama ratusan juta tahun.
Model yang dibangun tim UCL memperkirakan bahwa suhu optimal leluhur pseudosuchia adalah sekitar 23 derajat Celsius. Pseudosuchia adalah nama ilmiah untuk kelompok besar yang mencakup semua buaya dan kerabat evolusionernya. Adapun, buaya yang hidup hari ini lebih menyukai suhu antara 26 hingga 30 derajat Celsius. Ketika Bumi memanas, mereka bergerak ke wilayah yang lebih jauh dari khatulistiwa; ketika bumi mendingin, mereka kembali ke kawasan tropis.
Kira-kira 50 juta tahun lalu, pada masa yang disebut Eosen Awal, suhu global rata-rata sekitar 10 derajat Celsius lebih tinggi dari hari ini. Kutub-kutub Bumi tidak memiliki es permanen. Pada masa itu, kerabat buaya hidup sejauh Amerika Utara bagian utara, Eropa, bahkan Antarktika. Ketika suhu perlahan turun dalam jutaan tahun berikutnya, jangkauan geografis mereka menyempit kembali ke kawasan tropis dan subtropis yang kita kenal hari ini.
Lalu apa yang terjadi ketika asteroid pemusnah dinosaurus tadi menghantam?
Bertahan dari Kepunahan Massal
Tim UCL menjalankan sejumlah simulasi untuk menjawab pertanyaan itu. Mereka mensimulasikan berbagai skenario pascabenturan. Sinar matahari yang terhalang abu dan debu dalam berbagai tingkat keparahan, lapisan jelaga yang menutupi langit Amerika Utara, serta peningkatan karbon dioksida akibat letusan gunung berapi Deccan yang berlangsung bersamaan.
Dalam hampir semua skenario, daerah tropis dan subtropis tetap cukup hangat untuk mendukung kehidupan buaya. Hanya pada skenario paling ekstrem, yaitu pengurangan sinar matahari sebesar 15 persen, semua kantong iklim hangat itu hilang. Namun, para peneliti mencatat bahwa skenario itu dianggap tidak mungkin terjadi berdasarkan perkiraan ilmiah terkini.

Sebaliknya, dinosaurus non-aves, yaitu dinosaurus yang tidak berkerabat dengan burung, tidak seberuntung itu. Penelitian terdahulu oleh sebagian anggota tim yang sama menunjukkan bahwa habitat yang cocok bagi dinosaurus non-aves menyusut jauh lebih drastis dalam skenario yang sama.
"Asteroid itu tidak membuat seluruh planet sama-sama tidak bersahabat bagi setiap kelompok," jelas Dr. Chiarenza.
Kecintaan pada iklim hangat tentu bukan satu-satunya alasan buaya selamat. Sebagai hewan ektoterm alias berdarah dingin, buaya tidak perlu membakar banyak energi untuk mempertahankan suhu tubuhnya dari dalam. Mereka bisa bertahan lebih lama dengan sedikit makanan. Gaya hidup semi-akuatik juga memberi mereka akses ke rantai makanan di perairan yang jauh lebih stabil dibanding daratan yang hancur produktivitasnya setelah langit menjadi gelap. Diet yang fleksibel dan ukuran tubuh yang relatif kecil ikut membantu.
Adapun, momen kepunahan massal dinosaurus tadi bukanlah momen kepunahan massal pertama yang sukses dilalui buaya.
Yang Bertahan adalah Mereka yang Fleksibel soal Makanan
Sekitar 201 juta tahun lalu, pada akhir Periode Trias, Bumi mengalami kepunahan massal yang diperkirakan memusnahkan sekitar 76 persen dari seluruh spesies. Penyebabnya kemungkinan besar adalah letusan gunung berapi besar-besaran yang memicu perubahan iklim drastis.
Pada masa itu, pseudosuchia sebenarnya adalah kelompok yang mendominasi daratan. Mereka jauh lebih beragam, lebih banyak, dan menduduki berbagai ceruk ekologis. Namun, ketika momen kepunahan akhir Trias menghantam, hampir semua dari mereka lenyap.
Menariknya, pseudosuchia yang selamat justru bukan yang paling dominan. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Palaeontology pada April 2025 oleh Keegan Melstrom dari University of Central Oklahoma dan timnya menemukan bahwa leluhur buaya yang berhasil melewati kepunahan akhir Trias adalah yang paling "fleksibel" dalam soal makan. Mereka adalah makhluk-makhluk berukuran kecil hingga sedang yang bisa mengonsumsi hampir apa saja. Ketika rantai makanan kacau balau, kemampuan inilah yang menyelamatkan mereka.

Begitu kepunahan Trias berlalu, keturunan para penyintas itu berkembang menjadi aneka ragam bentuk yang sulit dibayangkan jika patokannya adalah buaya masa kini. Ada pemangsa darat dengan kaki panjang, ada herbivora berlapis baja, ada pula yang berenang di laut. Contohnya, ada Sarcosuchus, yang dijuluki "super croc" atau "buaya super", dengan panjang mencapai 12 meter dan diduga bisa melahap seekor Tyrannosaurus rex muda. Ada Postosuchus, pemburu darat yang bisa berjalan dengan dua kaki atau empat kaki, sama sekali tidak menyerupai buaya yang kita kenal hari ini.
Menjelang kepunahan akhir Kapur-Paleogen yang memusnahkan dinosaurus tadi, sesuatu berubah dalam ekologi kelompok ini. Spesies-spesies dengan ekologi yang lebih terspesialisasi menghilang satu per satu, bahkan sejak sebelum asteroid Chicxulub tadi datang. Akhirnya, yang tersisa pada saat benturan besar itu terjadi adalah para generalis semi-akuatik, tepatnya leluhur langsung dari buaya yang kita kenal hari ini. Dari 26 spesies buaya yang hidup sekarang, hampir semuanya masuk dalam kategori generalis semi-akuatik itu.
Tantangan Kini: Akankah Buaya Segera Punah?
Buaya bukan satu-satunya makhluk yang selamat dari kepunahan 66 juta tahun lalu. Sejumlah kelompok lain juga berhasil melewatinya. Burung, sebagai keturunan dinosaurus avian, adalah satu-satunya dinosaurus yang benar-benar bertahan. American Museum of Natural History memperkirakan ada lebih dari 18.000 spesies burung yang hidup hari ini sebagai buah dari ketahanan nenek moyang mereka.
Katak, salamander, kadal, ular, dan mamalia kecil berukuran seperti oposum juga lolos. Kura-kura bahkan lebih tangguh, di mana lebih dari 80 persen spesies kura-kura yang ada pada masa dinosaurus berhasil bertahan hingga kini. Semua makhluk yang berhasil bertahan ini punya beberapa kesamaan. Tubuh mereka relatif kecil, mereka mampu bertahan dengan sedikit makanan, dan tidak terlalu bergantung pada ekosistem darat yang hancur akibat impak asteroid.
Ironisnya, bagi buaya, kecintaan mereka pada iklim hangat yang menyelamatkan mereka dulu, kini malah menjadi ancaman. Dulu, ketika iklim berubah, buaya bisa pindah mengikuti zona hangat yang bergeser. Namun sekarang, kawasan yang dulu bisa menjadi jalur migrasi sudah dipenuhi jalan raya, lahan pertanian, dan kota. Bahkan, dari 26 spesies buaya yang masih hidup, 11 di antaranya sudah masuk dalam daftar spesies terancam.
Sebenarnya, dalam penelitian tadi terungkap pula dua pengecualian dalam konservatisme iklim buaya. Sekitar 94 juta tahun lalu, pada salah satu episode panas terhebat di era dinosaurus, satu cabang keluarga buaya berevolusi untuk menoleransi suhu yang lebih tinggi dari biasanya, yakni sekitar 35 derajat Celsius. Lalu, sekitar 34 juta tahun lalu, satu kelompok kerabat buaya yang sudah punah di Australia beradaptasi pada kondisi yang semakin kering seiring benua itu mengalami aridifikasi (perubahan dari lembap atau semi-kering menjadi kering secara permanen).
Meski demikian, pengecualian bukanlah norma. Dari sekian banyak cabang keluarga buaya, cuma dua yang beradaptasi. Sementara, sisanya bermigrasi mengikuti preferensi iklim mereka yang konservatif itu tadi. Selama seperempat miliar tahun, strategi itu berhasil. Akan tetapi, ada satu syarat penting, yaitu mereka punya tempat tujuan dan jalur migrasi yang jelas. Hal itu semakin sulit mereka temukan pada masa sekarang.
Pertanyaannya sekarang, setelah melewati dua momen kepunahan massal dalam ratusan juta tahun, apakah kepunahan buaya kini semakin dekat akibat perubahan muka Bumi yang diakibatkan oleh aktivitas manusia? Semoga saja tidak. Sebab, buaya dan kerabatnya punya peranan yang amat besar dalam ekosistem.
Penelitian yang dipimpin Phoebe Griffith dari ZSL (Zoological Society of London) dan diterbitkan di jurnal Functional Ecology menemukan bahwa masing-masing spesies buaya punya peran yang berbeda dan sering kali mengejutkan bagi ekosistemnya. Aligator Tiongkok yang berukuran kecil menggali sistem terowongan kompleks yang menjadi tempat berlindung bagi spesies lain. Buaya Filipina memangsa siput apel invasif yang merusak lahan pertanian. Adapun buaya air asin, buaya terbesar di dunia, menempuh ratusan kilometer melintasi lautan dan mendistribusikan nutrisi antara ekosistem darat, air tawar, dan laut sekaligus.
Jika buaya lenyap, peran ekologis yang mereka emban turut musnah. Penelitian tadi memperkirakan bahwa kini, sekitar 38 persen dari seluruh fungsi ekologis yang dijalankan buaya dan kerabatnya terancam hilang selamanya. Yang lebih memprihatinkan, spesies yang paling unik secara ekologis justru sering kali yang paling terancam punah. Dari sepuluh spesies dengan fungsi ekologis paling khas, enam di antaranya berstatus Kritis. Gharial, buaya berhidung panjang asal Asia Selatan yang hanya memakan ikan, adalah salah satu contohnya. Kehadirannya di sungai adalah pertanda bahwa air di tempat itu masih bersih dan sehat.
Pada akhirnya, masa depan buaya, serta peran ekologis mereka, kini berada di tangan kita. Buaya dan kerabatnya sudah melewati dua momen kepunahan massal. Selama seperempat miliar tahun mereka bertahan. Jangan sampai kita, manusia, jadi penyebab mereka mengalami kepunahan.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id





































