Menuju konten utama

Bolt from The Blue, Kala Petir Menyambar Saat Langit Masih Biru

Petir bisa menyambar saat langit cerah tanpa hujan. Kenali fenomena bolt from the blue, penyebab, bahaya, dan cara menghindarinya

Bolt from The Blue, Kala Petir Menyambar Saat Langit Masih Biru
Ilustrasi Sambaran Petir. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Petir bisa menyambar tanah meski langit di atasnya tampak cerah dan tidak turun hujan. Fenomena ini dikenal sebagai bolt from the blue dan terjadi ketika sambaran petir awan badai menjangkau sampai wilayah yang jauh dari awan induknya.

National Weather Service (NWS)pernah merekam kejadian macam ini di Melbourne, Florida, Amerika Serikat. Sebuah kilat bergerak sekitar 40 kilometer ke arah timur dalam waktu kurang dari satu detik. Kilat akhirnya menyambar tanah di dekat kantor NWS, saat langit di wilayah itu didominasi cuaca cerah.

Badai yang memicu sambaran petir tersebut berada sekitar 35 kilometer di arah barat. Meski tampak jatuh dari langit biru, petir tersebut tetap berasal dari awan badai.

Ilustrasi Petir

Ilustrasi Petir. foto/istockphoto

ESS Earth Sciences, perusahaan instrumen kebumian asal Australia menjelaskan, sambaran jenis petir ini bukan lahir dari langit biru. Kejadiannya jarang, sulit diduga, dan bisa mematikan. Secara jenis, petir tersebut termasuk sambaran awan-ke-tanah (cloud to ground), sama seperti petir yang biasa menyertai badai.

Alasan Petir Menyambar Meski Tidak Hujan

Ada beberapa penjelasan mengapa petir bisa menyambar ketika langit tampak biru bersih. Fenomena ini terkait dengan kondisi atmosfer, jarak sambaran awan badai, dan muatan listrik di dalam awan.

Berdasarkan keterangan Hong Kong Observatory (HKO), badai kering sebagai petir dan guntur yang tidak disertai hujan di permukaan tanah. Awan sebenarnya menghasilkan hujan, tetapi butir-butirnya menguap di udara sebelum sampai ke bawah. Itu terjadi bila awan cukup tinggi, sementara udara di antara awan dan tanah kering.

Contohnya kilat bagian puncak awan cumulonimbus yang melebar, atau awan landasan (anvil). Bagian itu berada jauh dari badan utama badai tempat hujan turun deras. Awan landasan begitu tinggi sehingga hujannya habis menguap di jalan. Meski begitu, kilat tetap bisa menjalar melalui udara kering sampai ke tanah.

Awan Cumulonimbus

Awan Cumulonimbus. foto/istockphoto

Selain itu, awan badai punya ketinggian dan struktur sangat besar. Menurut NWS, bolt from the blue biasanya keluar dari sisi belakang awan badai.

Petir lalu menempuh jarak relatif jauh di udara cerah, sebelum menekuk ke bawah dan menyambar tanah. Pengamatan NWS mencatat sambaran seperti ini bisa menjangkau lebih dari 25 mil (sekitar 40 kilometer) dari awan induknya.

Selain kasus di Florida, AS, NWS juga mencatat fenomena sambaran petir di dekat Kennedy Space Center yang menempuh sekitar 6 km di udara bersih sebelum menyentuh tanah. Singkatnya, petir bisa mencapai wilayah yang tidak berada tepat di bawah awan badai.

Angka jangkauan tersebut beragam menurut sumber dan kasusnya. Meteorolog stasiun televisi KPRC, Anthony Yanez, di Click2Houston (2024) menyebut sambaran bagian depan awan badai mampu melaju hingga sekitar 10 mil di depan area hujan. Jadi, jarak sambaran bisa mencapai beberapa kilometer sampai puluhan kilometer.

Menurut ESS, teori muatan listrik paling banyak dipakai untuk menjelaskan asal listrik di awan badai. Arus udara naik membawa partikel ke bagian atas awan, tempat partikel itu mendingin lalu membentuk kristal es seperti hujan es.

Saat kristal membesar dan jatuh, ia memindah elektron dari partikel lain. Kristal es yang bermuatan negatif berkumpul di bagian bawah awan, sementara partikel kecil bermuatan positif bertahan di bagian atas. Namun, ESS mengakui penyebab pelepasan muatan tersebut belum sepenuhnya terbukti.

Sambaran yang lazim terlihat saat badai yakni petir negatif. Muatan negatif dari dasar awan bergerak menuju tanah atau benda di permukaan yang bermuatan positif.

Bolt from the blue berbeda. Menurut ESS, sambaran bolt from the blue umumnya bermula dari bagian atas awan yang bermuatan positif, sehingga muatan positif mengalir menuju tanah.

Pelepasan ini terjadi ketika muatan positif di puncak awan berlebih dan perlu dilepaskan untuk menyeimbangkan awan. Click2Houston juga menyebut sambaran ini sebagai petir positif yang datang dari bagian atas awan badai.

Apakah Bolt from The Blue Berbahaya?

NWS menyebut bolt from the blue sebagai salah satu jenis petir awan-ke-tanah paling berbahaya. Sambaran ini seolah keluar dari langit yang bersih sehingga orang yang berada di wilayah tersebut bisa tidak menyadari ancaman di sekitarnya.

"Petir positif hanya mencakup kurang dari 5 persen dari seluruh sambaran. Namun, meski jarang terjadi, petir positif sangat berbahaya... muatan puncak dan potensialnya bisa mencapai sepuluh kali lipat petir negatif; sampai 300.000 ampere dan satu miliar volt!" terang Badan Kelautan dan Atmosfer AS, NOAA.

Ilustrasi Sambaran Petir

Ilustrasi Sambaran Petir. foto/istockphoto

Bahaya itu punya dua sisi, yakni kekuatan dan ketidakterdugaan. Dari sisi kekuatan, ESS menyatakan petir positif bisa menghasilkan sambaran lebih kuat dari petir negatif. Sambaran bisa menjangkau jarak lebih jauh serta menghasilkan panas tinggi, sehingga kerusakan yang ditimbulkan berpotensi lebih parah.

Click2Houston memberi angka pembanding. Arus puncak petir positif sekitar 100 kiloampere (kA), sementara petir negatif sekitar 20 kA.

Adapun petir positif bisa berlangsung lebih lama dan kilatan lebih terang dan panas. Namun, ESS mencatat petir positif diperkirakan hanya 5-10 persen dari seluruh sambaran petir.

Dari sisi ketidakterdugaan, ESS menjelaskan bahwa sambaran jenis petir ini bisa jatuh sampai 40 kilometer dari awan badai terdekat. Orang yang berada di ruang terbuka bisa merasa tidak terancam karena langit di atasnya cerah.

Ancaman lain adalah kebakaran. HKO mencatat badai kering sebagai salah satu pemicu kebakaran hutan. Tanpa hujan yang membasahi rumput dan pohon, api lebih mudah untuk menyala lalu menjalar.

ESS menambahkan, bagi pemadam kebakaran hutan, awan badai bisa berarti dua hal. Awan membawa harapan hujan, tapi sambaran petir juga berpotensi memicu kebakaran baru, terutama saat kondisi vegetasi sedang kering.

Ilustrasi Sambaran Petir

Ilustrasi Sambaran Petir. foto/istockphoto

NWS menegaskan, berada di luar ruangan saat badai petir masih terjadi di wilayah sekitar terbilang berisiko. Sebab, petir bisa menyambar jauh dari awan induknya.

Karena itu, disarankan agar menunggu setidaknya 30 menit setelah guntur terakhir terdengar, sebelum melanjutkan aktivitas di luar ruangan.

Jika kilat terlihat atau guntur terdengar, badai sudah cukup dekat untuk menimbulkan bahaya. Tempat paling aman yakni di dalam bangunan tertutup, seperti rumah, kantor, atau sekolah, maupun di dalam mobil dengan atap keras.

Adapun teknologi juga bisa membantu meningkatkan kewaspadaan. Ada sensor yang bisa mendeteksi perubahan muatan listrik atmosfer di sekitarnya. Sensor bisa dihubungkan ke sistem peringatan yang mengirim email atau pesan teks otomatis, bahkan sebelum sambaran pertama terjadi.

Akhirnya, langit biru bukan jaminan keselamatan, karena petir bisa terjadi tanpa hujan, sementara kilat guntur bisa menempuh jarak jauh dari awan induknya. Selama guntur masih terdengar, anggaplah badai masih cukup dekat dan berbahaya, sehingga hindari aktivitas di luar ruangan, walaupun langit terlihat biru.

Baca juga artikel terkait PETIR atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid