Berbahayanya Proposal Perubahan Aturan Main dari van Basten

Marco van Basten. (Foto Philipp Schmidli/Getty Images)
Oleh: Ahmad Khadafi - 22 Januari 2017
Dibaca Normal 3 menit
Marco van Basten mengusulkan peraturan offside dihapus dan adu penalti diubah dengan cara lain. Usulan yang justru berbahaya dan diskriminatif.
tirto.id - Sebagai seorang pemain, meragukan kualitas Marco Van Basten adalah dosa besar. Tarian balet, gesture tubuh, ketenangan, serta efisiensi yang begitu dahsyat di depan gawang berbaur menjadi satu dengan keangkuhan yang luar biasa. Membenci sosok Van Basten akan sikap arogannya barangkali masih bisa dimaklumi, namun jangan sekali-kali mempertanyakan sanad dan nasab kualitasnya mengolah si kulit bundar.

Zegar van Herwaarden, dalam Marco van Baste: De Jaren in Italic en Oranye menyebut bahwa Van Basten bukan hanya versi Johan Cryuff yang lebih ofensif, namun juga versi yang lebih efisien untuk meraih gelar juara.

Masalahnya, dalam posisinya sebagai seorang Direktur Teknik FIFA, proposal yang diajukan Van Basten untuk merevolusi beberapa aturan dalam sepak bola benar-benar mengejutkan untuk ukuran sosok dengan kualitas pemahaman sepak bola seperti dirinya. Terutama mengingat kalau Van Basten pernah dilatih salah satu pelatih terbaik dalam dunia sepakbola: Arrigo Sacchi, saat masih memperkuat AC Milan.

“Saya pikir akan sangat menarik menonton pertandingan tanpa offside,” kata mantan pelatih Belanda pada Piala Eropa 2008 ini.

Salah satu dari tujuh usulan kontroversial Van Basten adalah menghilangkan aturan offside. Van Basten seperti amnesia karena AC Milan-nya, bersama Rudd Gullit dan Frank Rijkard, di akhir dekade 80-an adalah gabungan antara dahsyatnya cara menyerang sekaligus agresifnya cara bertahan dengan mengandalkan aturan ini.

Sacchi, yang disebut Sir Alex Ferguson sebagai sosok yang bertanggung jawab akan berubahnya tren sepakbola Italia, menyertakan Van Basten sebagai kepingan bagaimana aturan offside menjadi salah satu “pelindung” gawang Milan saat digdaya pada 1989 dan 1990.

Meniru cara bertahan Total Football Rinus Michels pada Piala Dunia 1974, Sacchi adalah salah satu pelatih yang memopulerkan cara bertahan tanpa perlu menumpuk pemain di dalam kotak penalti sendiri. Dengan agresif, pemain-pemain Sacchi akan memburu pemain lawan dengan meninggalkan area sepertiga lapangan.

Aturan yang bisa berjalan efisien karena perspektif offside pada era itu masih menghitung posisi offside dari kontak pertama pemain yang menerima umpan di belakang garis terakhir pemain bertahan lawan. Tidak seperti sekarang yang menghitung offside dari kontak terakhir bola si pengumpan. Pada akhirnya, seperti hampir mustahil membobol gawang Milan saat itu, karena segala macam umpan terobosan akan dinilai offside.

Membaca dari hal tersebut, usulan Van Basten ini berbanding terbalik dengan motifnya yang menginginkan, “Sepak bola lebih atraktif, penyerang lebih banyak mendapat peluang, dan akhirnya tercipta gol.”

Dengan tidak adanya aturan offside, mustahil tim akan menggunakan garis pertahanan yang tinggi karena risikonya terlalu besar. Pressing pemain bertahan sejak di tengah lapangan akan hilang, dan akhirnya menumpuk pemain di kotak penalti justru jadi opsi yang paling masuk akal.

Selain usulan menghilangkan aturan offside, usulan kontroversial Van Basten yang lain adalah mengganti tendangan adu penalti menjadi “take-on challenge”. Aturan penalti yang dipakai dalam olahraga hoki ini disinyalir bisa membuat pertandingan jadi lebih spektakuler.

Tidak seperti penalti konvensional yang menendang bola dari titik 12 pas, “penalti Van Basten” ini dimulai dari jarak 25 meter di depan gawang. Eksekutor diberi waktu 5 sampai 8 detik untuk mengonversinya menjadi gol. Entah dengan melewati kiper, mencungkil bola, atau langsung ditendang dari jarak jauh.

“Maka, para pemain akan dituntut untuk memiliki keterampilan yang lebih,” jelas Van Basten.

Sebagai seorang mantan penyerang terhebat di eranya, aturan ini justru lebih terlihat merupakan bentuk diskriminasi akan posisi yang disesuaikan dengan keunggulan pemain. “Keterampilan lebih” yang dimaksud Van Basten kemudian hanya merujuk pada pemain yang punya kemampuan di atas rata-rata dalam mengocek bola dan mencetak gol.

Padahal dalam sepak bola, setiap pemain punya porsi keunggulan masing-masing. Anda tidak bisa mengharapkan Andrea Pirlo bisa menggiring bola secepat Lionel Messi, atau mengharapkan Manuel Neuer bisa menendang bola sehebat Cristiano Ronaldo.

Sistem ini hanya mengakomodasi pemain yang lebih punya pengalaman menghadapi situasi one on one dengan kiper di waktu normal. Sedangkan pemain bertahan, sekalipun punya kemampuan menggiring bola yang bagus—misalnya, tidak akan punya porsi pengalaman yang sama dengan seorang penyerang dalam situasi berhadap-hadapan dengan kiper, karena dalam kondisi waktu normal 90 menit sang pemain bertahan akan sangat jarang menemui situasi demikian.



Jika ditelisik kembali, dua usulan aturan baru ini malah justru berbahaya bagi perkembangan sepak bola ke depan. Kita tidak akan lagi bisa melihat Denmark yang menjuarai Piala Eropa 1992, Yunani juara Piala Eropa 2004, Liverpool juara Liga Champions 2005, atau Chelsea juara Liga Champions 2012.

Tim-tim yang di atas kertas kalah secara kualitas pemain jelas akan semakin kesulitan menghadapi tim yang punya materi pemain bagus. Dalam konteks sepak bola sekarang, pada akhirnya aturan ini hanya akan semakin menguntungkan tim yang punya materi bagus—yang sebagian besar adalah tim yang secara finansial begitu kuat atau yang punya duit saja.

Justru adu penalti adalah bentuk apresiasi terhadap tim yang di atas kertas lebih lemah untuk bisa berada di situasi yang “sama kuat” karena pertarungan adu penalti bukan lagi soal kekuatan finansial klub atau tim yang bertanding, namun soal ujian kualitas mental pemain.

Pilihan tim-tim yang secara finansial tidak kuat dan tidak punya cukup dana menggaet pemain bintang akan semakin tertutup untuk memberi kejutan. Tanpa aturan offside, pilihan yang tersedia hanyalah bertahan total dengan semua pemain yang ada. Begitu juga dengan aturan adu penalti ala olahraga hoki yang akan memperbesar peluang tim yang di atas kertas punya materi pemain dengan kualitas lebih baik daripada tim dengan dana pas-pasan dan materi pemain pas-pasan.

Belum lagi usulan aturan baru lainnya seperti Sin-Bin, yang mengeluarkan pemain untuk sementara (bisa 10-15 menit) yang justru bisa membahayakan karier pemain yang sering dilanggar.

Satu hal yang bisa dibaca dari aturan-aturan baru ini adalah Van Basten ingin tim yang punya kualitas pemain lebih baik dari lawannya diperbesar peluang menjadi juara.

Van Basten mungkin jengah, karena tim yang hampir selalu punya pemain berkualitas di tiap ada gelaran Piala Dunia, jadi runner-up di tiga final Piala Dunia, punya taktik brilian yang di atas kertas mampu mengalahkan tim manapun di dunia, malah justru sama sekali belum pernah berada di puncak dunia.

Dan tim itu adalah Timnas Belanda.

Baca juga artikel terkait MARCO VAN BASTEN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Khadafi
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Zen RS
DarkLight