Bedak Johnson&Johnson Berhenti Dijual: Imbas Bisnis Kotor 70 Tahun

Penulis: Aditya Widya Putri, tirto.id - 20 Agu 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Laporan kontaminasi karsinogenik pada produk bedak Johnson&Johnson sebenarnya telah ada sejak 1957 dan 1958. Namun, Johnson&Johnson menyembunyikannya.
tirto.id - Johnson&Johnson (J&J), sebuah perusahaan farmasi raksasa dunia memutuskan untuk menghentikan produksi bedak talk andalan mereka tahun depan. Ini bukan keputusan mendadak, melainkan “keterpaksaan” setelah menghadapi pergulatan dan kontroversi panjang soal keamanan produk.

Kabar tentang bedak talk J&J yang memicu kanker sudah lama berhembus, tapi timbul tenggelam seiring gugur dan tumbuhnya para penggugat-korban dari bedak J&J. Jika meringkas runutan kontroversi tersebut, J&J memang menjalankan bisnis “licik” karena telah menyembunyikan sebagian kecil hasil riset mereka yang buruk.

“Kami telah membuat keputusan bisnis untuk beralih ke bedak bayi berbasis tepung jagung. Bedak bayi Johnson yang berbahan dasar talk tak lagi dipasarkan secara global pada tahun 2023,” demikian keterangan J&J sebagaimana dikutip The Guardian.


Perusahaan farmasi tersebut telah mendapat hampir 40 ribu gugatan dari konsumen akibat kanker yang mereka alami. Para penggugat meyakini bedak talk J&J terkontaminasi asbes, zat kimia yang memicu kanker.

Namun hingga memutuskan menghentikan produknya, J&J tetap bersikeras mengelak tuduhan tersebut.

J&J melalui pengacaranya menyatakan bahwa posisinya terkait keamanan bedak tidak berubah. J&J yakin terhadap analisis yang dilakukan para ahli dunia selama puluhan tahun bahwa bedaknya aman, tidak mengandung asbes, dan tidak menyebabkan kanker.

Investigasi oleh Reuters mengatakan sebaliknya—J&J telah bermain bisnis licik sekitar setengah abad lamanya.

Sejak 1971, sebagian bedak talk J&J terbukti tercemar asbes dan bersifat karsinogenik. J&J mengetahui informasi tersebut, tapi memilih menyembunyikannya dari regulator dan publik. Bukti pencemaran pertama pada produk itu terkuak berselang 77 tahun dari penjualan perdana mereka.

J&J meluncurkan bedak bayi sekira 1893. Mulanya, bedak ini merupakan “paket tambahan” yang dikirim kepada konsumen yang mengeluhkankan iritasi usai memakai produk popok bayinya. Pada 1893, J&J mulai memproduksi bedak khusus untuk bayi dengan merek Johnson’s Baby Powder.

Di akhir 1950-an, J&J menemukan kontaminan tremolite (salah satu mineral penyusun asbes) dari tambang takl utamanya di Pegunungan Alpen, Italia. Laporan laboratorium pada 1957 dan 1958 menyatakan bedak J&J mengandung “kurang dari 1-3 persen kontaminan asbes”.


Sepuluh tahun setelah tremolite teridentifikasi di tambang Italia, kontaminan asbes tersebut terdeteksi juga di Vermont, tambang yang dibeli anak perusahaan J&J, Windsor Minerals Inc pada 1964.

Pada 1980, J&J mulai menawarkan Baby Powder versi tepung jagung—untuk memperluas basis pelanggannya dengan menyasar orang-orang yang lebih menyukai tepung maizena, kata perusahaan tersebut.

Sampai di sini, Anda pasti bertanya-tanya, bagaimana mungkin bedak tabur bisa mengandung asbes.

Di alam terbuka, bahan dasar bedak, yakni mineral talk yang terbetuk dari magnesium, silikon, oksigen, dan hidrogen, seringkali ditemukan berdekatan dengan asbes.

Karenanya ketika ditambang, talk kadang kala jadi terkontaminasi asbes yang merupakan zat karsinogenik penyebab peradangan dan kanker. Inilah skenario yang diduga terjadi pada kasus bedak talk J&J.

Cara Licik J&J Menjalankan Bisnis Bedak Bayi

Ribut-ribut tentang efek bedak talk J&J yang menjadi penyebab kanker pertama kali mencuat ke publik pada 1999. Kala itu, seorang perempuan bernama Darlene Coker (52 tahun) dari Texas mendapat diagnosis medis kanker paru-paru.

Coker tahu bahwa kankernya dipicu oleh asbes karena adanya mesothelioma yang menjangkiti selaput paru-parunya dan organ lain. Kondisi tersebut merupakan tanda paparan asbes yang sering dialami pekerja tambang asbes dan pekerja industri galangan kapal.

“Dia cuma ingin tahu bagaimana dia terpapar asbes. Dia butuh jawaban,” kata salah satu dari dua anak Coker, Cady Evans, seperti diwartakan Reuters.

Infografik Johnson
Infografik Johnson. tirto.id/Fuad


Agaknya, rasa penasaran Coker bisa dipahami. Pasalnya, dia selama ini hanya menjalankan sekolah pijat di Lumberton, sebuah kota kecil di Texas bagian timur, bukan menambang asbes atau bersinggungan dengan zat karsinogenik itu di galangan kapal.

Singkat cerita, pengacara sewaan Coker, Herschel Hobson, menyimpulkan paparaan asbes itu didapat dari bedak talk J&J. Coker telah menggunakan produk ini sepanjang hidupnya. Dia juga menaburkan bedak tersebut kepada anak-anaknya saat masih bayi.

Hobson tahu belaka fakta bahwa talk dan asbes sering terbentuk bersamaan secara alami. Coker pun lantas menggugat J&J, tapi kemudian terpaksa membatalkannya karena tidak cukup bukti. J&J berhasil mengelak saat diminta membeberkan hasil tes laboratorium dan catatan internal perusahaan.


Satu dasawarsa berselang—tepatnya pada 2009, Coker tutup usia tanpa mendapatkan jawaban pasti atas penyakit dan penderitaan yang dia alami.

Butuh waktu hingga satu dekade sejak kematian Coker untuk menguak dokumen internal J&J ke publik. Perusahaan ini terpaksa membuka memo, laporan internal, dan dokumen rahasia lainnya karena mendapat gugatan serupa dari lebih banyak orang—mencapai 11.700 penggugat.

“Bedak J&J menyebabkan kanker pada mereka, termasuk ribuan perempuan dengan kanker ovarium,” demikian tertulis dalam laporan Reuters.

Hasil pemeriksaan dokumen, deposisi, serta kesaksian di persidangan menunjukkan bahwa laporan awal kontaminasi asbes pada produk J&J sudah ada sejak 1957 dan 1958. Kontaminan dalam bentuk tremolite ditemukan pada pasokan talk dari Italia. Hingga awal 2000-an, laporan J&J terus menunjukkan hasil kontaminasi serupa.

Pada 1976—ketika Badan Pengawa Obat dan Makanan Amerika (FDA) menetapkan ambang batas kandungan asbes dalam produk kosmetik, J&J meyakinkan sang regulator bahwa produk mereka bebas asbes.

J&J mengklaim tidak ada asbes yang terdeteksi pada sampel bedak yang produksi antara Desember 1972 hingga Oktober 1973.

Kenyataannya, menurut Reuters, J&J menyembunyikan fakta bahwa ada tiga tes oleh tiga laboratorium berbeda dari 1972 hingga 1975 yang menemukan asbes dalam bedak mereka. Bahkan, ada satu kasus kontaminasi yang levelnya tergolong “agak tinggi”.

Hasil persidangan pada 2018 tersebut membuat J&J harus membayar ganti rugi besar kepada penggugat dengan kanker ovarium—yang mengatakan bahwa mereka menggunakan bedak J&J sebagai antiperspiran dan deodoran perineum (area antara vagina dan anus).

Usai kalah dalam persidangan, J&J mengkambinghitamkan dewan juri yang dianggap tak paham duduk persoalan, sains “sampah”, aturan pengadilan yang dianggap tak adil, dan pengacara yang terlalu bersemangat mencari kumpulan penggugat baru.

“Demi mengeruk keuntungan finansial pribadi, pengacara penggugat mendistorsi dokumen sejarah dan sengaja menciptakan kebingungan di ruang sidang dan media,” ujar Ernie Knewitz, Wakil Presiden J&J untuk urusan komunikasi global, dalam tanggapan email atas temuan Reuters.

Hingga saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tidak ada tingkat paparan asbes yang aman. Ada banyak orang yang terpapar asbes dan tidak sakit kanker, tapi ada juga kelompok yang hanya butuh sedikit paparan untuk memicu penyakit di masa depan.

Tindakan pencegahan paling aman adalah dengan tidak membiarkan sedikit pun kontaminan dalam produk. Tidak ada ibu yang mau membedaki bayinya dengan bahan yang mengandung karsinogenik asbes, meskipun “hanya” 1 persen.

Baca juga artikel terkait BEDAK BAYI atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight