Balada Setan Gundul yang Selalu Jadi Kambing Hitam

Infografik HL Indepth Rusuh
Andi arief. FOTO/Antaranews
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 10 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Frase setan gundul yang merujuk pada orang-orang kiri pernah populer di masa akhir Orde Baru.
tirto.id - Kiprah Partai Demokrat (PD) dalam Koalisi Adil-Makmur yang mengusung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai paslon dalam Pilpres 2019 kembali menjadi sorotan. Kali ini gara-gara cuitan Wasekjen PD Andi Arief yang menyebut ada "setan gundul" dalam koalisi Prabowo-Sandiaga. Katanya, si setan gundul itulah yang bikin sesat Prabowo.

"Dalam koalisi adil makmur ada Gerindra, Demokrat, PKS, PAN, Berkarya, dan rakyat. Dalam perjalanannya muncul elemen setan gundul yang tidak rasional, mendominasi, dan cilakanya Pak Prabowo mensubordinasikan dirinya. Setan Gundul ini yang memasok kesesatan menang 62 persen," demikian cuit Andi, Senin (7/5).

Beberapa pentolan Koalisi Adil-Makmur langsung angkat bicara soal cuitan Andi tersebut. Salah satunya adalah Andre Rosiade, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Andre mengaku menyesalkan pernyataan Andi itu. Andre bahkan menelepon Andi dan memintanya hadir melihat proses penghitungan real count yang dilakukan tim IT BPN.

"Saya sudah telepon Andi Arief supaya datang ke BPN, lihat war room BPN, supaya tahu kita sudah lakukan real count sampai 70 persen lebih, di mana Prabowo masih unggul versi C1 kita," jelas Andre kepada reporter Tirto, Selasa (7/5/2019).

Sejumlah pengamat politik menilai bahwa cuitan Andi Arief soal setan gundul itu adalah salah satu cara untuk membawa keluar PD dari Koalisi Adil-Makmur. Direktur Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo menyebutnya sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menyongsong Pemilu 2024.

"Walaupun jatuh suaranya, ya, yang penting mereka lolos 2019. Selanjutnya mereka akan berusaha di 2024. Kalau saya orang partai saya mikirin 2024, ngapain mikirin 2019? Kan, sudah selesai," kata Kunto kepada reporter Tirto.

Keluar dari Koalisi Adil-Makmur adalah pilihan wajar bagi PD untuk memulai strategi memoles Agus Harimurti Yudhoyono demi Pemilu 20124. Salah satu jalannya adalah dengan mendapatkan posisi strategis di pemerintahan Jokowi periode berikutnya.

"Mau enggak mau Demokrat merapat ke Jokowi supaya dapat jatah, entah apa pun posisinya, yang penting bisa dapat sorotan media," pungkasnya.

Gara-gara polemik ini, istilah setan gundul jadi ramai diperbincangkan. Setan gundul dalam jagat politik sebenarnya bukan barang baru. Istilah itu juga pernah jadi pembicaraan publik pada 1996. Dalam kerusuhan 27 Juli 1996, setan gundul juga jadi alat menunjuk pihak-pihak pembikin onar—meski tentu konteksnya berbeda.

Setan Gundul Soeharto


Kala itu PDI sedang terpecah sebagai buntut Kongres Medan pada Juni 1996. Konon, kongres itu disokong pemerintah Orde Baru dan memang digelar untuk melengserkan Megawati dari kursi ketua umum. Dalam kongres yang digelar pada 20-23 Juni itu Soerjadi yang “didukung” rezim terpilih sebagai ketua umum. Meskipun demikian, dukungan terhadap Megawati nyatanya tak pupus.

Tentang ini Peter Kasenda dalam Peristiwa 27 Juli 1996: Titik Balik Perlawanan Rakyat (2018, hlm. 78) menulis, “Meskipun pemerintah sibuk mengakui DPP PDI versi Soerjadi, perlawanan massa pro-Megawati Soekarnoputri terus berlangsung dengan dukungan 30 ormas.”

Para pendukung Megawati, yang dari hari ke hari kian menggelembung, terus melakukan protes terhadap DPP PDI pimpinan Soerjadi. Sejak pertengahan Juli, massa Megawati ini terus melakukan aksi damai di sekitar kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta.

Sejauh itu semua berjalan aman. Massa PDI Megawati mendapat izin aksi dari Pangdam Jaya Mayor Jenderal Sutiyoso dengan syarat tak ada mobilisasi massa untuk turun ke jalan. Para pendukung Megawati lantas menyelenggarakan Mimbar Demokrasi setiap hari di halaman kantor DPP PDI.

Pendukung Megawati ini bahkan berasal dari luar PDI. Di antara mereka itu adalah Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan organisasi sayap mahasiswanya, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). tak cuma mengutuk intervensi pemerintah terhadap PDI, tapi juga mengkritik Soeharto, dwifungsi ABRI, dan pilar sistem politik Orde Baru lainnya.

Sadar akan potensi gerakan ini, rezim Orde Baru akhirnya ambil tindakan. Pada 22 Juli Panglima ABRI Feisal Tanjung mencap aksi pendukung PDI Megawati itu sebagai tindakan subversif. Lalu pada 25 Juli Kapolda Metro Jaya menerbitkan larangan terhadap Mimbar Demokrasi.

Veven SP Wardhana dalam Kemelut PDI di Layar Televisi (1997, hlm. 33) menulis bahwa pada hari itu juga PDI Soerjadi dipanggil menghadap Soeharto. Segera terbaca bahwa Soeharto tidak mengakui PDI Megawati. Usai bertemu Soeharto, Soerjadi bicara kepada media bahwa ada “setan gundul” yang bikin ricuh PDI. Mereka adalah orang atau organisasi yang “tidak sesuai dengan sistem nasional”.

“Dalam ‘pernyataan’ itu sendiri, Pak Harto hanya sebatas menyebut setan gundul, sementara Soerjadi menambahkan anak kalimat perihal setan gundul itu berdasarkan interpretasinya,” tulis Veven.

Meski tak tunjuk hidung langsung, publik mengasosiasikan setan gundul itu sebagai kelompok kiri dalam jajaran pendukung PDI Megawati. Pasalnya, sebelum Soerjadi menghadap Soeharto, Kepala Staf Sosial Politik ABRI Syarwan Hamid sudah menghembuskan wacana bahwa aksi pendukung PDI Megawati adalah “lagu lama PKI”.



PRD Dijadikan Setan Gundul


Pada 27 Juli, meletuslah peristiwa yang kini dikenal sebagai Kerusuhan 27 Juli alias Kudatuli. Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro yang dikuasai pendukung Megawati diserbu massa PDI Soerjadi yang dibekingi aparat. Kerusuhan juga merembet ke Salemba, Jalan Proklamasi, Kramat Raya, dan Senen.

“Komnas HAM menyimpulkan bahwa tindakan kekerasan dilakukan oleh DPP PDI versi Kongres Medan dan kelompok pendukungnya bersama dengan aparat keamanan yang mengakibatkan 5 orang tewas, 149 orang luka-luka, 23 orang hilang dan 136 ditahan,” tulis Peter Kasenda (hlm. 96).

Megawati melayangkan gugatan kepada pemerintah dan PDI Soerjadi usai kerusuhan itu. Lain itu, PDI Megawati juga tetap menghalang-halangi konsolidasi PDI Soerjadi. Hal ini bikin rezim pusung dan cari kambing hitam untuk disalahkan sebagai pemicu kerusuhan.

“Propaganda hitam pun ditebar ke seluruh penjuru angin, bahwa kerusuhan itu disebabkan perilaku ‘setan gundul’ atau ‘organisasi tanpa bentuk’ atau Partai Rakyat Demokratik tempat saya ada di dalamnya,” tulis Coen Husain Pontoh dalam bunga rampai Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (2005, hlm. 138).

Setan gundul pun diburu-buru. Isu orang-orang kiri sebagai setan gundul pun didengungkan melalui media. Peter Kasenda (hlm. 101) mencatat Media Dakwah mengangkat isu ini di edisi Agustus 1996. Gambar sampulnya dengan jelas memampang setan gundul PKI menunggangi lambang PDI.

Akhirnya, orang-orang PRD memang ditangkap rezim. Ketua PRD Budiman Sudjatmiko dan Sekjen PRD Petrus Hariyanto ditangkap pada 11 Agustus. Ikut pula ditangkap Ketua SMID Garda Sembiring.

Tentang penangkapan itu harian Kompas (13/8/1996) menulis, “Serangkaian penangkapan terhadap para aktivis PRD ini berkaitan dengan dugaan aparat berwenang bahwa PRD berada di balik kerusuhan 27 Juli 1996, yang mengakibatkan tiga tewas dan sejumlah bangunan serta kendaraan dibakar. Aparat keamanan lebih jauh menuduh PRD bertujuan akhir menggulingkan kekuasaan sah atau tindak subversif dengan memakai cara-cara yang analog dengan PKI.”[]

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight