Menuju konten utama

Arti Retorika Anies Baswedan pada Debat Capres 2024 Pertama

Apa itu retorika Anies Baswedan yang muncul di debat tadi malam? Anies mendapat julukan King of Retorica usai debat capres 2024 pertama.

Arti Retorika Anies Baswedan pada Debat Capres 2024 Pertama
Capres nomor urut satu Anies Baswedan. ANTARA FOTO/Galih Pradipta.

tirto.id - Penampilan capres nomor urut 1, Anies Baswedan dalam debat perdana capres dan cawapres Pilpres 2024 pada Selasa malam, 12 Desember 2023 membuatnya dijuluki “The King of Retorica”.

Julukan itu diviralkan oleh stand up comedian Indonesia Kiky Saputri. Dia menilai bahwa Anies dalam penampilan debatnya selalu melontarkan kata-kata yang tersusun rapi. Dia pun berkelakar bahwa perlu belajar kepada Anies agar menang dalam pemilihan legislatif periode selanjutnya.

“*PERTANYAAN KETIGA* Pak Anies Baswedan The Real King of Retorica. Semua kata-katanya tersusun bagus dan sering berima. “Setiap pelanggaran hukum harus dihukum. Karena pelanggaran hukum bisa menular, dan lama-lama bisa dianggap benar.” Aku harus belajar banyak dari beliau biar 2029 sukses nyaleg. Ahaaaay~~,” tulis Kiky melalui akun X @kikysaputrii pada (12/12/2023).

Kiky juga mengatakan dalam cuitan selanjutnya bahwa retorika itu merupakan sebuah skill yang harus dipelajari. Untuk itu dia juga ingin belajar. Kiky juga memaparkan bahwa julukan yang dia sematkan kepada Anies itu adalah sebuah pujian.

Sebab, menurut Kiky retorika adalah ilmu dan seni yang mempelajari keterampilan berbicara, artinya Anies adalah orang berilmu. Dia juga menambahkan, Bung Hatta pernah menyerukan bahwa anak muda boleh pandai beretorikan.

Lantas apa sebenarnya retorika yang dilakukan oleh Anies Baswedan saat debat perdana capres dan cawapres pada Selasa malam?

Mengenal Apa Itu Retorika yang Dilakukan Anies

Retorika adalah skill, kemampuan, dan seni yang penting dalam kehidupan manusia, hal ini tak lepas dari fakta bahwa manusia merupakan makhluk sosial, yang lahiriah manusia memiliki keinginan membagi ide kepada orang lain dan mempengaruhi orang lain untuk sependapat ataupun satu ide serta mengukuhkan eksistensinya, dengan begitu kemampuan beretorika sangat dibutuhkan.

Banyak akademisi dan ahli di dunia yang mendalami dan mendefinisikan retorika, mereka umumnya merujuk tiga buah jilid buku yang ditulis oleh Aristoteles berjudul “De Arte Rhetorica”.

Dhanik Sulistyarini dan Anna Gustina Zainal dalam “Buku Ajar Retorika” menyimpulkan bahwa esensi retorika adalah upaya-upaya yang dilakukan pembicara (pada bahasa lisan) dan penulis (pada bahasa tulisan) dalam memilih bentuk ungkapan yang dianggap paling efektif untuk menarik perhatian pendengar atau pembaca.

Hakikat retorika adalah kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya. Dalam peristiwa komunikasi itu, tujuan utama komunikator adalah menyampaikan pesan yang diharapkan dapat diketahui, dipahami, dan dapat diterima oleh komunikan.

Penyampaian pesan itu dilakukan secara persuasif dengan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan cara yang paling efektif untuk menunjang pesan komunikasi yang ingin disampaikan itu.

Sebaliknya, pendengar juga memilih kemungkinan-kemungkinan itu untuk dapat menerima pesan komunikasi yang disampaikan. Memilih ungkapan yang dipandang paling cocok adalah ciri utama dalam retorika.

Dalam proses pemilihan itulah persuasif tidaknya suatu ungkapan dipertimbangkan masak-masak oleh pembicara atau penulis.

Baca juga artikel terkait DEBAT CAPRES 2024 atau tulisan lainnya dari Balqis Fallahnda

tirto.id - Politik
Kontributor: Balqis Fallahnda
Penulis: Balqis Fallahnda
Editor: Dipna Videlia Putsanra