Apa Arti Taubat Nasuha dan Bagaimana Cara Melakukannya?

Penulis: Abdul Hadi - 29 Jan 2022 11:50 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Dengan taubat, seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah SWT setelah menyesal berbuat dosa dan maksiat. Berikut ini cara bertaubat yang diajarkan Islam?
tirto.id - Penyair kawakan Indonesia Chairil Anwar pernah menggambarkan kekhilafan dan dosa manusia dalam puisinya yang bertajuk "Doa". Menurut Chairil, manusia kerap tersesat dalam kehidupannya. Sebagai sosok yang penuh nista dan dosa, selayaknya ia bertobat kepada Tuhannya.

Tuhanku
Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku aku mengembara di negara asing

Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling

(Chairil Anwar, Puisi 'Doa' 1943)

Sebagai makhluk yang lemah dan rapuh, Nabi Muhammad SAW mengakui hal itu dalam sabdanya: "Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat dari kesalahannya," (H.R. Tirmidzi).

Kesalahan yang dilakukan manusia dapat berupa kesalahan yang sengaja atau tidak sengaja, dosa yang direncanakan atau khilaf dilakukan, hingga dosa-dosa yang harus dilakukan karena terpaksa atau tidak punya pilihan lagi.

Karena dosa dan salah adalah tindakan yang lazim dan pernah dilakukan manusia, kita dianjurkan untuk selalu bermuhasabah, introspeksi, dan bertaubat atas kesalahan yang terjadi.

Bagaimanapun juga, taubat dan sesal adalah tindakan yang terhormat dalam Islam. Hal itu tergambar dalam firman Allah SWT dalam surah At-Tahrim ayat 8:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ... " (QS. At-Tahrim [66]: 8).

Taubat murni yang dimaksud surah At-Tahrim itu adalah taubat nasuha. Taubat yang sebenar-benarnya, menyesali kekhilafan yang pernah dilakukan, dan tidak akan mengulangi lagi dosa yang sama.

Pengertian Taubat Nasuha


Dalam bahasa Arab, taubat artinya kembali. Secara istilah, taubat adalah kembali kepada Allah SWT, serta menyerahkan diri dengan penuh penyesalan.

Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa taubat adalah tindakan hati, membersihkan jiwa dari dosa. Dengan taubat, seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah SWT setelah menyesal atas dosa dan maksiat yang dilakukan.

Dilansir NU Online, taubat juga berarti meninggalkan pekerjaan dan aktivitas hina menuju pekerjaan mulia.

Dua cara taubat yang dapat dilakukan adalah dengan muhasabah atau introspeksi diri, kemudian mengikuti petunjuk Rasulullah SAW (Al-ittiba').

Mengikuti Rasulullah SAW dapat dilakukan dengan mengerjakan sunah yang dicontohkan beliau, kemudian menjauhi larangan Allah SWT dan mematuhi perintah-Nya.

Tindakan taubat juga kerap diiringi dengan mendirikan salat taubat. Tata cara melakukan salat taubat dapat dilihat di sini.


Syarat-syarat Taubat Nasuha


Agar taubat diterima dan sah dilakukan, terdapat syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi seorang muslim.

Apabila seseorang sudah bermuhasabah, mengucapkan istigfar, bahkan mendirikan salat taubat, namun syarat-syarat berikut ini tidak dikerjakan, taubatnya menjadi percuma dan tidak diterima Allah SWT.

Pertama, apabila dosa dan kekhilafan itu dilakukan kepada Allah SWT (hablum minallah), syarat-syarat taubat ada tiga:

1. Berhenti berbuat maksiat
2. Menyesali dosa yang dilakukan.
3. Tidak akan mengulangi lagi kemaksiatan tadi.

Kedua, apabila kesalahan atau dosa itu berhubungan dengan manusia (hablum minannas), misalnya pernah memukul atau mencuri harta orang lain, syarat taubatnya tidak cukup hanya tiga poin di atas, melainkan ditambah satu lagi, yakni meminta maaf atau memohon kehalalan atas hak-hak yang sudah diambil tersebut.


Baca juga artikel terkait TAUBAT atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Abdul Hadi
Editor: Addi M Idhom

DarkLight