Apa Arti Sinyal SOS Pulau Laki Menurut Basarnas & Kenapa Ada di Map

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 21 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Apa kata Basarnas soal sinyal SOS di Pulau Laki dan mengapa bisa muncul di Google Maps?
tirto.id - Badan SAR Nasional (Basarnas) memastikan sinyal SOS yang sempat muncul di Pulau Laki dipastikan tidak berkaitan dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Direktur Operasi Basarnas Brigjen Rasman MS mengatakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan di lokasi tersebut dan tidak menemukan apa-apa di sana.

"Tidak ada apa-apa di situ, sudah saya konfirmasi sama anggota tidak menemukan sesuatu," tegas Rasman di JICT II Tanjung Priok, Jakarta pada Rabu (20/1/2021).

Terkait munculnya tanda itu di aplikasi Google Maps, Rasma mengatakan bisa saja terdapat skenario di mana nelayan yang dalam cuaca kurang baik berlindung di pulau tersebut dan menggunakan ponsel pintar untuk memasukkan tanda tersebut.

"Biasanya nelayan itu senangnya dia kalo cuaca kurang baik dia akan berlindung di situ. Perahunya dinaikkan, mungkin dia main HP atau segala macam. Ya, bisa saja. Tapi kalau berkaitan dengan Sriwijaya tidak ditemukan," ujar Rasman.

Sebelumnya media sosial dihebohkan dengan tangkapan layar aplikasi peta yang memperlihatkan penanda bertuliskan SOS di Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Jakarta yang dekat dengan diduga lokasi jatuhnya Sriwijaya Air.

Pesawat Sriwijaya Air bernomor register PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu (9/1/2021) pukul 14.40 WIB dan jatuh di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB.

Apa Arti Tanda SOS?


Sebagian orang mengira, SOS adalah singkatan dari “Save Our Souls” atau “Save Our Ship”. Namun kenyataannya, “Save Our Souls” atau “Save Our Ship” adalah backronym, dan huruf-huruf itu, yakni "S," "O," dan "S," sebenarnya tidak bermakna apa pun, demikian mengutip laman Mental Floss.

Faktanya, sinyalnya sebenarnya tidak seharusnya tiga huruf. Tanda itu hanya rangkaian kode Morse yang terdiri dari tiga titik, tiga garis, dan tiga titik yang semuanya berjalan bersama tanpa spasi atau titik (… ---…).

Karena tiga titik membentuk huruf "S" dan tiga tanda hubung membentuk "O" dalam kode Morse Internasional, sinyal itu kemudian disebut "SOS" demi kenyamanan.

Ketika mesin radiotelegraph nirkabel pertama kali digunakan untuk kapal laut saat pergantian abad ke-20, pelaut yang dalam bahaya membutuhkan cara untuk menarik perhatian, memberikan sinyal saat berada dalam kesulitan, dan meminta bantuan.

Sinyal unik dibutuhkan guna memberitahukan situasi bahaya dengan jelas, cepat, dan tidak membingungkan.


Mengapa Tanda SOS Bisa Muncul di Google Maps?


Berbagai data yang ditemukan di Google Map berasal dari berbagai sumber, termasuk penyedia pihak ketiga, sumber publik, dan pengguna. Namun terkadang sumber-sumber itu membuat hal yang tidak akurat atau kurang sesuai dengan fakta di lapangan.

Jika pengguna Google Maps menemukan data yang tidak akurat, maka pelaporan bisa dilakukan via ponsel atau komputer. Dikutip dari laman Google, cara melaporkannya adalah:

1. Pilih titik lokasi yang ingin dirasa kurang akurat;

2. Pilih "sarankan edit";

3. Kemudian, "hapus tempat ini" dan sebutkan alasan mengapa pengguna ingin menghapus tempat tersebut;

4. Terakhir, pilih "kirim".

Anda juga bisa melaporkan hal lain yang dirasa kurang akurat dan tidak tepat, seperti nama jalan, lokasi jalan, alamat, informasi tempat, bahkan foto yang ada di Google Map. Cara selengkapnya bisa Anda simak melalui link berikut ini: Report data or content errors on Google Maps.


Baca juga artikel terkait SOS atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Addi M Idhom
DarkLight