AIAC: Lion Air Tepat Tunda Kedatangan Boeing 737 Max 8

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 12 Maret 2019
Dibaca Normal 1 menit
Keputusan menunda pesawat Boeing 737 Max 8 oleh Lion Air dinilai sebagai langkah tepat mengingat telah terjadi kasus pesawat model itu jatuh dalam enam bulan terakhir.
tirto.id - Direktur Arista Indonesia Aviation Center (AIAC), Arista Atmadjati menganggap keputusan Lion Air menunda kedatangan pesawat Boeing 737 Max 8 yang telah dipesan dinilai sebagai langkah tepat.

Arista menilai Lion Air harus memberi respons atas minimnya keseriusan produsen pesawat Boeing dalam menjamin kualitas produk yang dijualnya. Hal ini terutama pascakecelakaan Lion Air pada 4 bulan lalu.

"Saya lihat kalau mengancam keselamatan penumpang, awak, dan pilot lebih baik ditunda [kedatangan pesawatnya]. Kalau kena denda lebih baik daripada ada masalah terus," ucap Arista saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (12/3/2019).


Managing Director Lion Air Group, Daniel Putut Kuncoro Adi memastikan maskapainya akan menunda pembelian pesawat Boeing 737 Max 8.

Sesuai rencana, pesawat berangsur datang mulai Mei 2019 hingga 2035. Untuk tahun ini, jumlah pesawat yang ditunda kedatangannya berumlah 4 unit.

Lion Air akan memesan 220 armada pesawat Boeing 737 Max 8 senilai 22 miliar dolar AS. Kepada wartawan di Hotel Grand Mercure, Selasa (12/3/2019), Daniel berkata tidak menutup kemungkinan bila perusahaannya membatalkan seluruh pemesanan yang ada bila terdapat kesalahan pada perusahaan Boeing.

Lion Air juga tercatat pernah memesan 11 pesawat jenis serupa dan telah dioperasikan pada 2018. Namun, usai jatuh di perairan Karawang, kini Lion Air masih punya 10.

Arista mengatakan keputusan Lion Air itu memang dapat diterima. Sebab sejak kecelakaan pada Oktober 2018 lalu, Boeing belum juga mengakui ada kesalahan yang memang dilakukan produsen pesawat itu.

Misalnya, kelalaian Boeing yang tidak menyertakan informasi yang jelas bagi pilot saat menghadapi masalah dalam penerbangan.

Menurut Arista, instruksi itu baru dilengkapi Boeing pada petunjuk manual usai kecelakaan pesawat terjadi. Alhasil pelatihan dan simulator pilot pun terlambat menyertakan instruksi itu.

"Sejak 2018 kemarin, Boeing belum juga memberi kejelasan terkait masalah yang ada. Itu namanya teledor. Harusnya dia mengakui itu salah," ucap Arista.

Namun, Arista menilai sikap Boeing yang tak kunjung memberi kejelasan bisa jadi terkait dengan gugatan sejumlah keluarga korban.

Arista menduga bila Boeing mengakui itu, maka perusahaan asal Amerika itu dapat kalah dalam gugatan.

"Boeing mengakui itu salah tapi kalau dia bilang posisinya terancam. Bisa kalah dalam gugatan yang per orangnya bisa Rp125 miliar," kata Arista.


Baca juga artikel terkait BOEING 737 MAX 8 atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Zakki Amali
DarkLight