Menuju konten utama

Tarot: Antara Mistis dan Seni Memahami Diri

Pembacaan kartu tarot bisa membantu mengungkapkan hal-hal yang dipendam di alam bawah sadar.

Tarot: Antara Mistis dan Seni Memahami Diri
Ilustrasi Kartu Tarot. (FOTO/Istockphoto)

tirto.id - Menjelang pergantian tahun, wacana memprediksi berbagai hal yang akan terjadi tahun depan mulai banyak beredar di sekitar kita. Selain ramalan berdasarkan astrologi dan shio, metode lain yang kerap digunakan untuk menyusun prediksi tersebut adalah dengan pembacaan kartu tarot.

Di antara ribuan variasi kartu tarot yang beredar di pasaran, alternatif seri kartu tarot produksi dalam negeri baru saja diluncurkan pada akhir Oktober 2022 lalu.

Seri kartu yang diberi nama Imaginary Friends ini adalah hasil karya Donny Hendrawan, pewacana tarot asal Malang yang sudah mulai mendalami seluk beluk pembacaan tarot pada awal tahun 2000-an.

Seperti dilansir Detik, seri kartu tarot karya Donny dihiasi oleh gambar ilustrasi yang dibuatnya sendiri berdasarkan pengalaman masa kecilnya. Beberapa gambar benda yang biasanya muncul dalam kartu tarot diganti dengan benda lain yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari, misalnya kuda digantikan oleh motor dan pedang diganti dengan pisau.

Imaginary Friends merupakan seri kartu tarot produksi dalam negeri yang ketiga. Sebelumnya ada seri kartu Tarot Wayang (2002) karya Ani Sekarningsih, pewacana tarot Indonesia pertama yang menyandang gelar Grand Master dari Tarot Certification Board of America. Kartu ini dihiasi ilustrasi berupa gambar tokoh-tokoh dari dunia pewayangan dalam kisah Ramayana, Mahabharata, termasuk juga tokoh wayang dari cerita Punakawan.

Menyusul kemudian terbit seri kartu Tarot Nusantara (2009) yang disusun oleh pewacana tarot merangkap praktisi hipnoterapi Hisyam A. Fachri dan ilustrator Sweta Kartika. Seperti dikatakan Hisyam pada situs Vice, seri kartu tarot ini diadopsi dari seri kartu versi Rider-Waite-Smith yang dibongkar polanya kemudian diselaraskan dengan simbol-simbol yang dikenal dalam suku Jawa, Dayak, Toraja, Sentani, dan Bali.

Menurut Hisyam, pembacaan kartu tarot yang dilakukan dengan menggunakan simbol-simbol dari budaya lokal akan terasa lebih mengena pada diri pewacana dan orang yang dibacakan kartunya, ketimbang dengan menggunakan ilustrasi berupa simbol-simbol dari budaya asing.

Ilustrasi pada kartu ‘Setan’ misalnya, akan terasa lebih pas apabila digambarkan sebagai leak (praktisi ilmu hitam yang bisa mengubah wujudnya menjadi makhluk menyeramkan) yang dikenal dalam tradisi Bali.

Meski mendapat pengaruh dari budaya Mesir kuno, kartu tarot sebagaimana yang kita ketahui saat ini pada awalnya muncul di Italia dengan nama carde da trionfi (kartu kejayaan) pada pertengahan abad ke-15.

Waktu itu, tarot hanya digunakan sebagai alat permainan belaka yang digunakan untuk mengisi waktu luang. Adaptasi tarot sebagai media untuk melakukan berbagai kepentingan spiritual — termasuk untuk meramal nasib dan peruntungan; baru terjadi di Prancis pada sekitar tahun 1780.

Dari Prancis, praktik pembacaan kartu tarot untuk menerawang kejadian masa kini dan masa depan kian dikenal luas hingga ke seluruh daratan Eropa, Amerika, Afrika, dan Asia termasuk Indonesia.

Meski belum ada data pasti mengenai kehadiran tarot di Indonesia, diperkirakan seni membaca kartu tarot mulai diperkenalkan oleh bangsa Belanda yang datang ke tanah air.

Hanya saja, popularitas tarot sebagai metode untuk meramalkan peruntungan pada saat itu kemungkinan masih kalah pamor dibandingkan metode lokal seperti neptu weton dan primbon.

Kondisi tersebut tentu berbeda dengan saat ini, dimana konten mengenai tarot memiliki banyak peminat di berbagai platform media sosial mulai dari TikTok, Instagram, Twitter, sampai YouTube.

Awal tahun ini bahkan sempat muncul kecemasan di kalangan warganet akibat beredarnya isu tentang pelarangan konten terkait tarot dan astrologi di platform TikTok dan Meta. Padahal tagar ‘tarot’ dan ‘astrologi’ memanen jutaan views di kedua platform tersebut. Untungnya, kecemasan warganet mereda setelah adanya klarifikasi yang menyatakan bahwa isu tersebut tidaklah benar.

Di masa modern ini, berkaca pada hasil riset Pew Research Center (2018) yang menyatakan bahwa 6 dari 10 orang Amerika memiliki setidaknya satu jenis kepercayaan ‘New Age’ (gerakan spiritual modern yang tidak berafiliasi pada agama tertentu).

Artikel di The Guardian menyimpulkan bahwa berkembangnya popularitas tarot (yang dianggap merupakan salah satu jenis kepercayaan New Age) menandakan adanya upaya masyarakat untuk menemukan makna di tengah situasi dunia yang kacau akibat kondisi sosiopolitik tidak menentu.

Infografik Tarot

Infografik Tarot. tirto.id/Quita

Sebagai hasilnya, dari waktu ke waktu semakin banyak saja orang yang mencari jasa pewacana tarot untuk membantu mengurai masalah yang sedang dihadapi. Terlebih, beda dengan kondisi di masa lalu — saat informasi lebih sulit didapat dan teknologi telekomunikasi belum semaju sekarang; jasa pewacana tarot saat ini juga bisa didapatkan melalui pertemuan secara daring. Tinggal berbeda kota bahkan beda negara pun tidak masalah bagi siapa pun yang memerlukan jasa pewacana tarot.

Akun @tarotonline_id di platform Instagram misalnya, menyediakan jasa pembacaan kartu tarot melalui teks Whatsapp, voice note, telepon, ataupun video call.

Seperti tertera pada laman kontak administrator, sesi konsultasi dengan durasi 10-20 menit yang dilakukan siang hari pada hari kerja dikenakan tarif Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu. Sedangkan tarif untuk sesi konsultasi malam hari dan akhir pekan berkisar antara Rp 175 ribu hingga Rp 325 ribu.

Media Alternatif untuk Penyembuhan Diri

Di Indonesia, pembacaan kartu tarot masih kerap diasosiasikan sebagai ritual mistis yang melibatkan kekuatan supranatural.

Padahal saat ini tarot mulai sering digunakan sebagai media alternatif untuk mendukung proses konseling di ruangan psikolog bahkan untuk mendampingi proses penyembuhan di rumah sakit, seperti dilansir oleh The New York Times.

“Selama ini ada banyak hal yang pada awalnya dianggap nyeleneh, namun pada akhirnya diterima menjadi bagian dari dunia psikologi. Karenanya, meski tidak mengajarkan, saya tidak melarang pasien membawa media alternatif ke dalam sesi konsultasi,” kata Charlynn Ruann, psikolog klinis dan pendiri Thrive Psychology Group di California yang mengaku bahwa dirinya mempelajari banyak tipe perawatan dan pendekatan alternatif untuk mendukung proses penyembuhan pasien.

Jessica Dore — pewacana tarot dan penulis buku Tarot for Change: Using the Cards for Self-Care, Acceptance and Growth; seperti diungkapkannya pada The Guardian, secara tegas menyatakan bahwa tarot memang bukanlah sebuah metode penyembuhan sebagaimana halnya konseling psikologi. Seorang pewacana tarot juga tidak akan bisa menggantikan peran seorang terapis.

Meski demikian, bukan berarti seseorang tidak bisa mendapatkan manfaat dari segi psikis melalui pembacaan kartu tarot. Justru sebaliknya, pembacaan kartu tarot yang baik seringkali membantu seseorang untuk lebih membuka diri dan mengenali emosi yang ia pendam dalam-dalam baik secara sadar maupun tidak.

Salah satu kendala yang juga kerap dialami seseorang adalah bahasa, yaitu bagaimana cara membahasakan apa yang sedang dialami dan dirasakannya kepada orang lain. Kartu tarot yang terdiri atas aneka tampilan metafora bisa berperan sebagai sebuah validasi emosi dan ‘jembatan’ bagi seseorang untuk memahami apa yang sedang dirasakannya, kemudian mengomunikasikannya baik dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.

Hal ini dialami oleh Terry Endropoetro, seorang blogger yang sudah empat tahun belakangan ini aktif menjadi pewacana tarot. Kedekatan Terry pada tarot diawali ketika ia tertimpa masalah pelik yang dirasakannya amat membebani dan tak kunjung terselesaikan selama bertahun-tahun.

“Ketika dibacakan tarot, ternyata apa yang menjadi masalah itu langsung terungkap tanpa saya harus bercerita secara mendetail. Dan ternyata, solusinya itu sebenarnya sudah ada di dalam kepala saya selama bertahun-tahun. Hanya saja selama itu saya ragu dan tidak punya keberanian untuk memutuskan dan melakukan apa yang harus dilakukan,” kata Terry.

Ketika pada akhirnya memberanikan diri untuk mengambil keputusan dan menerima apa pun konsekuensinya, persoalan yang menghantui Terry selama bertahun-tahun pun terselesaikan. Risiko yang sempat ia khawatirkan juga ternyata tidak pernah terjadi.

Setelah masalahnya selesai, langkah Terry terasa lebih ringan dan ia pun bertekad untuk mempelajari tarot agar bisa membantu orang lain yang membutuhkan, seperti yang pernah dialaminya sendiri dulu.

Inna Semetsky — pakar filosofi pendidikan dan Chief Consultant di Institute of Edusemiotic Studies, Melbourne; seperti diungkapkan pada Cosmopolitan menyatakan bahwa, penggunaan simbol-simbol dalam kartu tarot yang bisa diterima secara universal dapat membantu seseorang menciptakan sebuah gambaran visual atas situasi yang sedang dihadapinya pada saat itu.

“Begitu melihat sendiri bahwa situasi yang sedang dihadapinya bisa dipetakan secara gamblang, orang tersebut akan memiliki bayangan lebih jelas mengenai apa yang sebenarnya ia inginkan. Dalam hal ini, pembacaan tarot yang baik bisa membantu seseorang mengeksternalisasi masalah yang sedang ia hadapi,” jelas Semetsky.

Dengan mundur sejenak dan mengamati persoalan yang sedang dihadapi dari jarak tertentu, barangkali akan muncul sudut pandang baru dalam meninjau masalah di benak orang yang bersangkutan. Jika sudah demikian, akan lebih mudah baginya untuk menemukan alternatif solusi dan memilih mana solusi yang paling tepat bagi dirinya.

Jadi apakah tarot merupakan sebuah ritual mistis atau metode alternatif untuk pemahaman diri, semua tergantung pada persepsi dan kebutuhan setiap orang.

Baca juga artikel terkait TREN GAYA HIDUP atau tulisan lainnya dari Nayu Novita

tirto.id - Gaya hidup
Kontributor: Nayu Novita
Penulis: Nayu Novita
Editor: Lilin Rosa Santi