Tamatnya Yahoo Groups: Buntut Panjang Kegagalan Yahoo Memilih Fokus

Logo Baru Yahoo. FOTO/yahoo.com
Oleh: Ahmad Zaenudin - 20 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Beberapa fitur Yahoo Groups dimatikan Yahoo.
tirto.id - Suatu hari di bulan Juli 1995, Jerry Yang, alumni Stanford University, ditanya dalam forum BusinessWeek Online soal seberapa sering ia menjelajah internet. “Ketika hidup, dalam tiap tarikan nafas, juga tatkala terlelap dalam tidur, saya selalu menjelajah internet,” jawab Yang. Tapi, Yang kemudian menambahkan bahwa jawaban itu “guyonan” semata.

Jawaban Yang mungkin guyonan. Namun, dalam praktiknya, Yahoo tak pernah tidak dijelajahi orang. Perusahaan yang pernah menjadi raksasa di dunia maya itu adalah hidup Yang.

Dalam Inside Yahoo!: Reinvention and the Road Ahead (2002), Karen Angel menulis, “Yahoo ... salah satu fenomena terhebat akhir 1990-an. Ia menjelma budaya populer, patokan pebisnis dalam memonitor pasar saham, hingga petunjuk tren bagi wirausahawan.”

Hingga awal 2000-an, ada 200 juta warga maya dunia yang menengok Yahoo tiap bulannya. Pantas saja nilai perusahaan ini sempat lebih tinggi dibandingkan gabungan Walt Disney Company dan News Corporation bikinan Rupert Murdoch.

Suatu saat manusia harus menghembuskan tarikan nafas terakhir. Demikian pula Yahoo. Bulan ini, sebagaimana dirilis laman resmi Yahoo, perusahaan ini perlahan membekukan Yahoo Groups, layanan mailing list, diskusi maya, dan forum yang diakses penggunanya baik melalui situs web maupun email.

Menurut laman tersebut, pengguna tidak dapat lagi mengunggah konten ke laman Yahoo Groups terhitung sejak 21 Oktober 2019. Mulai 14 Desember, semua unggahan yang tersimpan di layanan yang pernah populer sebelum media sosial lahir ini akan dihapus.

Namun, Yahoo menegaskan bahwa Yahoo Groups "masih tetap beroperasi", yakni melalui email @yahoogroups. Tetapi, semua grup atau kelompok yang terdaftar di layanan yang tercipta atas peleburan dua forum online, yakni Yahoo! Club, forum yang dirilis Yahoo pada 1998, dan eGroups, pesaing Yahoo Club yang akhirnya dibeli Yahoo pada 2000, akan dibuat tertutup.

Super App yang Gagal Menentukan Identitas

Sejak boom aplikasi ponsel pintar pada Juli 2008, atau ketika Apple mulai melahirkan konsep toko aplikasi, lambat-laun terjadi penurunan unduhan. Padahal, hingga akhir 2018, ada 2,6 juta aplikasi Android yang siap diunduh di toko aplikasi Google Play. Menurut laporan Techcrunch, rata-rata pengguna ponsel hanya menggunakan 30 aplikasi per bulan. Dari 30 aplikasi itu, biasanya orang menggunakan tak lebih dari 10 aplikasi per hari. Recode melaporkan sejak Mei 2015 hingga Mei 2016 terjadi penurunan unduhan aplikasi hingga 20 persen di Amerika Serikat. Orang cenderung hanya menggunakan aplikasi-aplikasi arus utama atau yang benar-benar mereka butuhkan.

Pengembang dan pengusaha rintisan aplikasi tentu ketar-ketir melihat tren ini. Mereka mulai mengubah strategi. Konsep yang mereka kembangkan bukan lagi chat app atau ride-sharing app semata, melainkan super-app. Disebut super karena menyediakan beragam layanan dalam satu aplikasi, termasuk layanan-layanan yang tidak terkait satu sama lain.


Super-app merupakan konsep yang tak terelakkan. “Dunia kini dipenuhi kaum yang menginginkan segalanya dan sesegera mungkin,” kata pendiri Grab Anthony Tan pada suatu ketika.

Super-app populer berkat Grab, Gojek, hingga WeChat, yang menawarkan segala layanan dalam satu aplikasi. Namun, jika ditelaah lagi, super-app bukanlah fenomena baru. Yahoo, yang muncul pada 1994 adalah contoh terbaik dari super-app sebelum konsep dan istilah super-app itu sendiri ada.

Kala itu, pada awal 1990-an, jumlah situs web yang aktif sangat sedikit. Orang-orang awam, masih menurut Karen Angel dalam Inside Yahoo!: Reinvention and the Road Ahead (2002), hanya tahu sekitar 12 situs web yang aktif di dunia maya. Sedihnya, situs-situs itu pun hanya berhubungan dengan universitas atau pemerintah. Sedikitnya jumlah situs web disebabkan oleh fakta bahwa dunia tersebut kurang mudah dijelajahi.

Pada 1993 lahirlah Mosaic, sebuah peramban web yang mengusung tema point-and-click. Sejak itu situs web menjamur di dunia maya.

Dua mahasiswa Stanford University bernama Jerry Yang dan David Filo mengumpulkan situs web-situs web yang ramai-ramai bermunculan itu. Mereka menciptakan semacam direktori dunia maya. Dari kerja-kerja dua pemuda inilah Yahoo lahir pada 1994. Awalnya sebagai mesin pencari.

“Dua tahun sebelum Yahoo lahir tidak ada orang yang butuh direktori situs web. Namun, dua tahun selepas Yahoo lahir, semua membutuhkannya,” tulis Yang sebagaimana diungkap Angel.

Saat itu Yahoo menjadi gerbang dunia maya yang dikunjungi 200 juta warga online per bulan. Kepopuleran ini memunculkan banyak pesaing. Angel mencatat, ada 30 mesin pencari yang hidup berdampingan dengan Yahoo. Saking banyaknya, Yahoo harus menambahkan layanan untuk menarik dan mempertahankan pengunjung. Cetak biru super-app 2010-an rupanya telah dibangun sejak 1990-an.

“Kami tidak akan mampu mendatangkan pengunjung dengan hanya menyajikan 10 juta situs web yang diindeks. Toh, kompetitor memiliki sembilan juta situs web yang diindeks,” tegas Yang. “Maka, kami harus menyajikan layanan-layanan yang dapat memecahkan apa pun masalah para pengunjung kami,” katanya kemudian.

Pada Januari 1997, Yahoo menambahkan kemampuan chat pada layanannya dan iklan baris. Lalu, selepas membeli Four11, perusahaan di balik email gratis RocketMail, Yahoo merilis Yahoo Mail pada bulan Oktober. Pada November, Yahoo menghadirkan layanan travel. Sebulan kemudian, Yahoo merilis Yahoo Sports.



Sepanjang tahun berikutnya lahirlah Yahoo Games, Yahoo Movies, Yahoo Real Estate, dan Yahoo Calendar. Pada pengujung 1998, perusahaan ini menghadirkan Yahoo Small Business dan Yahoo Clubs, cikal bakal Yahoo Groups.

Dengan berbagai layanan itu, segala kebutuhan pengguna maya seolah didukung Yahoo.

Yahoo Groups, misalnya. Menurut Henry Potts dalam studinya yang berjudul “Online support groups: An overlooked resource for patients” (2005), hingga awal 2000-an, Yahoo Groups menjadi layanan utama bagi orang-orang yang membutuhkan pendampingan terkait masalah psikologis. Yahoo Groups dipilih karena layanan ini mudah digunakan--cuma butuh satu email semata.

Menurut Potts, Yahoo Groups menghadirkan “keintiman tetapi dengan rasa anonimitas”. Ini, menurutnya, “dapat membantu orang membahas masalah-masalah sulit yang biasanya disertai rasa malu.”

Tak heran kala itu ada sekitar 25 ribu kelompok pendampingan di Yahoo Groups.

Sayangnya, saking banyaknya layanan di tubuh Yahoo, perusahaan ini kelimpungan menentukan mana fokus utama mereka. Dalam sebuah rapat yang berlangsung di 2006 di San Jose, sebagaimana dilaporkan Reuters, Yahoo gagal menentukan sikap.


Kebingungan itu kontras dengan sikap perusahaan teknologi lain. Microsoft, misalnya, memutuskan untuk mengembangkan Windows, Intel mengulik prosesor, dan eBay menggarap lelang online. Tak heran, mereka sukses memaksimalkan sumber daya untuk terus berinovasi dan mempertahankan pelanggan.

Mantan Vice President Yahoo Brad Garlinghouse mengatakan bahwa sikap para petinggi Yahoo terbelah. “Beberapa orang bilang Yahoo adalah map, lainnya berkat Yahoo adalah email, dan lainnya lagi berujar bahwa Yahoo adalah mesin pencari,” terang Garlinghouse.

Selain gagal menentukan sikap, Yahoo pun gagal mengakuisisi startup yang memiliki masa depan cerah, misalnya Facebook, Google, Youtube, hingga Skype, yang kala itu masih dapat dijangkau kocek Yahoo.

Terakhir, Yahoo ditimpa serangkaian aksi kejahatan maya. Pada 2014 dan 2016, misalnya, Yahoo berturut-turut kebobolan 500 juta dan 1 miliar akun penggunanya.

Selepas memperoleh pendapatan lebih dari $7,2 miliar pada 2008, performa Yahoo terus-menerus menurun. Jerry Yang pun harus merelakan perusahaannya ini dijual seharga $4,8 miliar di 2016 ke Verizon.

Yahoo, super-app di era dotcom bubble itu kini berada di usia senja. Saatnya mengucapkan salam perpisahan?

Baca juga artikel terkait YAHOO atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight