Sakdiyah Ma'ruf: Melempar Komedi di Derasnya Arus Konservatisme

Oleh: Aditya Widya Putri - 1 Januari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Sakdiyah Maruf hidup dalam semesta yang kontradiktif: mengekang sekaligus mendukung.
tirto.id - Sakdiyah Maruf adalah antitesis.

Ia mencuat sebagai perempuan peranakan Arab yang menentang habis-habisan konservatisme di tengah banyaknya kelompok yang menuju ke sana. Lewat aksi komedi tunggalnya, ia mendobrak stigma yang kadung ditempelkan publik kepada orang-orang keturunan Arab.

“Pernah saya ditanya tentang garis keturunan. Arab, India, atau Pakistan? Saya jawab saja, 'ah sudahlah sama-sama budaya kawin paksa'."

“Jadi Arab itu sering dianggap lebih jago agama. Saya sempat diminta jadi imam shalat sama ibu-ibu, boro-boro imam, iqra 3 nggak lulus!”

Materi-materi semacam itulah yang ia godog dan lontarkan menjadi guyonan di panggung komedi tunggal. Diyah, panggilan akrabnya, mulai dikenal ketika mengikuti acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV jilid pertama pada 2011. Kemunculannya saat itu dianggap unik karena menjadi komika perempuan sekaligus komika berhijab pertama di Indonesia. Yang lebih membuatnya unik, Diyah tak segan membawa tema-tema sensitif, misalkan konservatisme Arab dan diskriminasi terhadap perempuan.

“Materi saya berisi kegelisahan tentang praktik beragama sebagian muslim yang menurut saya 'baru', misal menolak bersalaman, kontak mata, dan berbicara langsung dengan perempuan,” ungkap Diyah saat berbincang bersama Tirto di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Diyah melihat materi yang ia bawakan punya makna yang lebih luas dibanding sekadar olok-olok belaka. Panggung komedi tunggal ia jadikan medium untuk merefleksikan masalah serupa yang terjadi pada skala lebih luas, tak hanya di komunitas Arab saja, namun pada lingkup yang lebih luas. Materi soal kawin paksa atau pernikahan dini misalnya. Diyah memulai guyonan tersebut dalam lingkup kecil di komunitasnya, walau kita semua tahu bahwa praktik itu bukan hal asing di Indonesia.

“Komedi dapat menjadi medium yang efektif untuk bertahan dan melawan,” ujarnya.


Lewat komedi tunggal ia bisa mengemukakan ide-ide yang cenderung sensitif dengan santai. Lewat komedi, isu-isu sensitif itu lebih bisa diterima lantaran dianggap guyon belaka. Namun perlahan, kesadaran penonton dibangun hanya dengan beberapa kalimat sederhana. Menurut Diyah, hal itu lebih efektif ketimbang harus menjejalkan gagasan lewat, misalkan, berjilid-jilid buku.

“Saya bukan tak pernah mencoba jalan lain. Saya pernah bikin penerbitan, demo, atau masuk organisasi kampus. Tapi saat melihat DVD Live on Broadway milik Robin Williams semua jadi terlihat masuk akal,” tutur Diyah, menceritakan momen yang menjadi titik balik dirinya memilih komedi sebagai jalan hidup.

Robin Williams adalah salah satu aktor dan komika legendaris dari Amerika Serikat yang menjadi salah satu idola Diyah. Dalam Live on Broadway, Williams menyentil isu-isu politik populer saat itu, salah satunya tentang bobroknya jajaran kabinet di pemerintahan George W. Bush dan rencana rahasia pembunuhan Saddam Hussein.

Dua tahun setelah kisah bersama rekaman gambar William berlalu, Diyah mulai berjuang mengejewantahkan gagasan di jalan yang sama.

Panggung SUCI Kompas TV ia jajal tanpa sepengetahuan keluarga besarnya. Aktivitas berkomedi kala itu dilakukan secara diam-diam. Beruntung keluarga besarnya tak tahu, apalagi Abahnya masih jadi pelaut. Namun perjuangan bawah tanahnya terbongkar ketika Koran Kompas memajang potret dirinya di halaman depan terbitan mereka.

“Kan nyebelin. Tetangga di Pekalongan ada yang baca,” ujarnya. Diksi 'nyebelin' ia ucapkan sambil tertawa, menandakan bahwa kejadian saat itu tak terlalu jadi masalah buatnya, kini.


Kepiawaan Diyah dalam berkomedi kemudian diganjar berbagai penghargaan dunia. Pada 2015, dia sempat menerima penghargaan Vaclav Havel International Prize for Creative Dissent untuk kategori stand up comedy di Oslo, Norwegia. Lalu baru-baru ini, pada November 2018, namanya masuk urutan ke-54 dari 100 daftar wanita inspiratif dunia versi BBC.

Media asal Inggris itu menyebut Diyah sebagai komedian tunggal perempuan muslim pertama dari Indonesia yang menggunakan komedi sebagai cara untuk menantang ekstremisme Islam dan kekerasan terhadap perempuan.

Tumbuh Dikelilingi Komedi

Diyah tumbuh di keluarga yang punya disiplin ketat.

Segala aktivitasnya dijaga ketat oleh sang Abah. Tak pernah ada teman yang mampir ke rumahnya hingga ia lulus SMA. Bahkkan supaya bisa mengayuh sepeda, Diyah harus curi-curi latihan saat jam istirahat siang sekolah berlangsung. Ia juga tidak diperkenankan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler lain, kecuali yang bersifat wajib seperti pramuka.

Dalam komunitas dengan patriarkisme yang kental, anak perempuan wajib dijaga. Bahkan jodoh pun, sebisa mungkin harus dari komunitas yang sama. Karena perempuan keturunan Arab yang menikah dengan lelaki di luar komunitasnya, dianggap tercerabut dari akar dan keluarganya. Ayah dan ibunya masih memiliki garis sepupu. Praktik perkawinan semacam itu lazim terjadi tak hanya di komunitasnya tapi juga kelompok minoritas lain, tujuannya untuk menjaga identitas, kelangsungan hidup, dan budaya mereka tetap lestari.

“Hidup sebagai minoritas harus menanggung beban nama baik keseluruhan tradisi dan citra komunitas. Menjaga anak perempuan tetap steril jadi sangat bisa dipahami, karena itulah insting bertahan hidup mereka,” ungkapnya.

Untuk menjaga garis keturunan itu, praktik perjodohan menjadi hal lazim di lingkungan Diyah. Meski perempuan memiliki hak veto saat dilamar, akan tetapi perjodohan-perjodohan lain akan terus diatur sampai si perempuan merasa cocok. Jika tak kunjung menemukan kecocokan, maka keluarga akan menggunakan senjata ampuh berupa kalimat, "Jangan begitu, ora ilok. Yang penting itu saleh dan beragama."

Diyah memenangkan pertarungan "ideologi" itu dengan menikahi Muhammad Shobar Al Amin, laki-laki yang bukan keturunan Arab yang ia pilih dan nikahi saat ia matang secara umur, pendidikan, dan karier.

Namun segala disiplin dan nilai-nilai konservatisme di keluarganya ini diimbangi oleh hiburan dan pendidikan. Ibunya adalah satu dari sedikit perempuan di komunitasnya yang meraih gelar sarjana, sementara sang Abah adalah nakhoda kapal komersil. Sewaktu muda, Abahnya juga pernah menjadi gitaris sekaligus murid dari musisi kenamaan Gombloh.

Keluarga Diyah rutin menonton bioskop. Mereka juga menikmati acara-acara komedi, dari yang lokal seperti Srimulat maupun serial dari AS seperti Full House, Seinfeld, The Cosby Show, dan Roseanne.

Suatu waktu, mereka menonton film drama komedi Ramadhan dan Ramona yang dibintangi oleh Lydia Kandou, Djamal Mirdad, dan Amak Baldjun, seorang aktor cum komedian keturunan Arab. Diyah ingat komentar abahnya yang berbangga hati mengenalkan Amak padanya.

“Jadi eksistensi saya di stand up Comedy sebenarnya hanya tinggal tunggu momentum.”


Pentingnya pendidikan di keluarga, membuat Diyah bisa mengejar ilmu setinggi dan sejauh mungkin. Ketika lamaran dari pria-pria satu komunitasnya datang, Abahnya menolak mereka dengan alasan putrinya masih bersekolah. Sang Abah ingin anak perempuannya maju dan mengecap pendidikan hingga ke jenjang S3. Pada 2014, Diyah meraih gelar Master of Art (M.A.) dari Universitas Gadjah Mada.

Menentang Konservatisme hingga Pernikahan Dini

“Kak Diyah enak ya bisa sekolah dan kuliah.”

Celetukan sederhana itu keluar dari mulut seorang perempuan yang menggendong dua orang anak meski masih berusia 20 tahun. Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga SMA, perempuan ini terus-terusan dapat peringkat pertama di kelasnya. Namun nasibnya berbanding terbalik dengan Diyah: si perempuan bahkan harus memohon agar diperbolehkan lulus SMA.

Perempuan itulah yang hingga kini menjadi kisah di balik kekuatan dan inspirasi Diyah untuk tetap berkarya dan memperjuangkan hak-hak perempuan secara luas. Selain lewat komedi, bersama United Nations Population Fund (UNPA) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Diyah aktif mengkampanyekan perencanaan berkeluarga, termasuk menentang pernikahan anak dan poligami.

“Buat saya jelas ya, poligami diizinkan, bukan dianjurkan. Itu pun dengan syarat yang begitu ketat.”

Infografik Sakdiyah Maruf
Infografik Sakdiyah Maruf



Lantaran butuh ruang dialog yang luas untuk menyampaikan gagasan-gagasannya yang cukup sensitif, maka Diyah berdiri di dua kaki. Ia membawakan komedi tunggal dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Dengan berkomedi menggunakan bahasa persatuan, dialognya lebih mudah dipahami masyarakat Indonesia.


Namun berkomedi hanya di wilayah domestik punya banyak kekurangan, terutama bagi komika perempuan seperti Diyah. Pertama, dunia komedi yang ia tekuni kurang ramah bagi perempuan. Ruang komedi tunggal sebagian besar diisi komika laki-laki, dan karenanya atmosfer yang tercipta pun terlampau maskulin. Ruang latihan hingga panggung penampilan pun seringkali disetel pada jam malam. Alasan lainnya, terkait materi-materi sensitif yang ia bawakan.

“Saya pernah diminta untuk tone down materi oleh salah satu produser. Sejak itu saya tak lagi tampil di televisi,” kata Diyah,

Baginya akan lebih baik ketika media ketat mengawasi aturan jam tayang, sehingga dialog yang dianggap sensitif dan tabu tetap bisa dijalankan pada jam-jam tertentu.

Sebaliknya, ia bisa lebih leluasa dan luwes berekspresi serta membuka pintu jaringan dengan berkomedi menggunakan bahasa Inggris. Dari situlah reputasinya terbangun. Pengakuan dari dunia internasional membantu Diyah memperlihatkan pada keluarganya bahwa perjuangannya selama ini bukan main-main.

Baca juga artikel terkait STAND UP COMEDY atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Nuran Wibisono