Saat Versace hingga Luis Vuitton Membuat Furnitur

Louis Vuitton Objets Nomades. FOTO/louisvuitton.com
Oleh: Joan Aurelia - 28 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sejumlah label fesyen premium memproduksi furnitur, benda dekorasi interior, bahkan merancang desain hotel untuk menambah keuntungan perusahaan.
Hong Kong punya Upper House, hotel bintang lima yang diresmikan pada tahun 2009. Desainnya modern dan elegan. Hotel itu membuat Andre Fu, arsitek dan desainer interior Upper House, lebih banyak mendapat tawaran proyek atau kolaborasi dengan berbagai merek. Salah satunya Louis Vuitton (LV).

Pada 2014 Fu diminta untuk mendesain interior ruang apartemen yang menampilkan ragam produk LV. Apartemen ini berfungsi sebagai etalase temporer bagi para pelanggan loyal LV di Hong Kong. Tahun ini kerjasama antara Fu dan LV kembali terwujud. Rumah mode ini meminta Fu mendesain produk untuk koleksi Objets Nomades.

LV Objets Nomades dibentuk pada tahun 2012. Tujuan awalnya ialah mengingatkan masyarakat tentang karakter LV yang mereka sebut sebagai kawan perjalanan bagi para pejalan. Koleksi Objets Nomades dibuat berdasarkan kerjasama dengan sejumlah desainer interior atau desainer produk mancanegara, di antaranya Patricia Urquiola, Marcel Wanders, Barber & Osgerby, Humberto Campana, dan Oki Sato.

Koleksi pertama Objets Nomades terdiri dari produk hammock, kabinet gantung, stool, dan meja. Semua benda itu bisa dilipat, dikemas apik, dan mudah dibawa. Contohnya stool karya Urquiola. Bila tidak sedang digunakan, benda tersebut berbentuk seperti tas jinjing kulit yang terlihat seperti tas untuk jalan-jalan. Lounge chair karya Marcel Wanders, bisa dengan mudah dilipat menjadi bentuk koper.

Objets Nomades sengaja diciptakan untuk orang yang hobi jalan-jalan dan gemar membawa peralatan sendiri ketimbang bergantung dengan benda-benda yang disediakan hotel. Koleksi tersebut hanya bisa didapat bila konsumer memesan khusus. Harganya berkisar antara ribuan sampai puluhan ribu dolar AS. Saat diresmikan pada 2012, lampu meja karya Barber & Osgerby dijual dengan harga 3.350 dolar. Kabinet gantung bernama Maracatu cabinet de voyage karya Fernando Campana & Humberto Campana dijual seharga 51.500 dolar.


Tidak ada kampanye khusus untuk memasarkan koleksi Objects Nomades. Saat pertama kali dipublikasikan, LV menyebut benda-benda tersebut sebagai koleksi terbatas. Laporan tentang keuntungan penjualan Objets Nomades tidak disebar ke media. Berbeda dengan laporan keuangan LVMH Group yang relatif mudah dicari.

Kenyataannya, hampir setiap tahun LV meluncurkan koleksi baru Object Nomades. Koleksi dipajang pada pameran desain setaraf Miami Design Week dan Milan Design Week, serta diletakkan di gerai-gerai besar LV yang tersebar di banyak negara, salah satunya di Marina Bay Sands Singapura.

Fu kemudian membuat sofa dua dudukan yang ia beri nama Ribbon Dance. Dalam wawancara dengan Design Anthology ia menyiratkan tantangan besar selama 18 bulan yang ia alami ketika menentukan produk yang hendak diluncurkan.

“Saya ingin menciptakan benda yang bisa ditemui dalam hidup sehari-hari dengan bentuk yang indah. Saya mengingat masa kecil di Hong Kong akhir tahun 1970an. Kota itu dipenuhi bangunan arsitektur pasca perang yang memberi kesan dramatis. Sofa ini bisa membuat orang berinteraksi. Proses pembuatan aksen berbentuk pita itu luar biasa. Perajin yang saya datangi sempat pesimistis,” kata Andre. Beberapa hari lalu Ribbon Dance baru selesai dipamerkan dalam sesi pameran Fourisalone 2018, bagian dari Milan Design Week.

Bisa dikatakan Louis Vuitton ialah pemain baru di ranah interior. Beberapa lini fesyen lain telah melebarkan usaha di bidang interior sejak tahun 1980-an. Pada awal tahun 1980-an, Rita Missoni, pendiri label fesyen asal Italia Missoni, mendirikan Missoni Home. Ia yang gemar dengan motif, tak rela hanya memproduksi kain untuk bahan pakaian. Missoni pun membuat produk lain yakni material untuk melapisi sofa dan kain sebagai aksen dekorasi sofa, karpet, bantal, dan korden. Motif yang diciptakan ialah pola geometri zig zag dengan paduan berbagai warna terang.

Tiga tahun setelah Missoni meluncurkan produk , ia melihat ada orang lain yang membuat produk serupa dan memamerkannya di pameran interior Maison et Objet Paris. Bukannya marah, Missoni malah termotivasi untuk membuat varian produk. Ia merasa barang tiruan menandakan karyanya diminati. Ekspansi Missoni Home tidak tanggung tanggung. Selain membuat varian produk lain, Rita Missoni bekerjasama dengan sebuah grup hotel untuk membangun hotel. Missoni merancang interior dan produknya. Kini Missoni Hotel ada di beberapa tempat yakni Edinburgh, Kuwait, Oman, dan Brazil. Sementara itu Missoni Home tetap melansir produk lampu gantung, wallpaper, lilin beraroma, kursi, dan stool.





Beberapa tahun setelah Missoni, label busana Fendi meluncurkan Fendi Casa pada 1989. Awalnya label ini fokus untuk meluncurkan furnitur guna mengisi ruang tamu seperti sofa dan meja. Toko pertama dibuka di Roma. Pada 2017, Fendi Casa membuka cabang pertama di Milan, Italia.

Tahun 1990, label mode yang merambah ranah desain interior ialah Versace. Gianni Versace membentuk Versace Home pada tahun 1992. Label ini hendak menegaskan koleksi-koleksi yang pernah sukses di pasaran dengan menciptakan furnitur serta perangkat makanan yang sesuai dengan tema koleksi busana tersebut. Serupa dengan Missoni, Versace pun mendirikan hotel Palazzo Versace yang berlokasi di Dubai dan Gold Coast. Kursi sampai sendok yang dipakai didesain oleh label ini.

Memasuki tahun 2000-an, lini fesyen yang membuat furnitur tetap muncul di antaranya Armani Casa dan Marni Home. Pada pertengahan tahun 2017 lalu, Gucci pun membentuk label furnitur. CNN menyebut hasil penelitian Allied Market Research yang memprediksikan keuntungan penjualan produk furnitur dan dekorasi interior premium bisa mencapai 27 miliar dolar pada tahun 2020.

Penelitian serupa dilakukan pula oleh Transparency Market. Riset itu menyebutkan adanya peningkatan terhadap pasar furnitur premium global dalam rentang waktu 2017-2022. Pasar potensial ialah Eropa dan Asia Pasifik. Hal lain yang turut memengaruhi penjualan ialah sistem belanja daring serta desain etalase di toko furnitur.

Motivasi belanja tersebut turut disiratkan lewat artikel Consumer Attitudes and Buying Behavior for Home Furniture . Penelitian menyebut 67% responden beranggapan furnitur mampu mengekspresikan karakter pemiliknya. Sebanyak 60,7% setuju bahwa mereka bisa mengekspresikan diri lewat benda yang dibeli.

Penelitian yang dibuat oleh Nicole Ponder, Profesor Marketing Department of Marketing, Quantitative Analysis, and Business Law di College of Business, Missisipi State University itu turut mengungkap bahwa ruang keluarga ialah ruang favorit di dalam rumah lantaran fungsinya sebagai tempat bersantai dan berkumpul bersama kerabat. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa benda yang dijual oleh beberapa label mode di atas.

Baca juga artikel terkait FURNITUR atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight