Menuju konten utama
Edusains

Rahasia Panjang Umur Jonathan, Makhluk Darat Tertua di Dunia

Kura-kura Jonathan menjadi petunjuk umur panjang pada gen dan epigenomnya, terutama mekanisme perbaikan DNA & mitokondria yang mendukung lambatnya penuaan.

Rahasia Panjang Umur Jonathan, Makhluk Darat Tertua di Dunia
Jonathan, seekor kura-kura raksasa Seychelles yang diyakini sebagai reptil tertua yang masih hidup di bumi dengan perkiraan usia 185 tahun, merayap melintasi halaman rumput Plantation House—kediaman resmi Gubernur Inggris—pada tanggal 20 Oktober 2017 di Saint Helena, sebuah Wilayah Seberang Laut Inggris di Samudra Atlantik bagian selatan. (Photo by GIANLUIGI GUERCIA / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Tiada yang tahu berapa usia Jonathan sebenarnya. Joe Hollins, dokter yang merawatnya purna waktu di Pulau Santa Helena, menduga bahwa kura-kura Aldabra tersebut sejatinya lebih tua dari usia resminya. Namun, di tengah perdebatan soal usia Jonathan yang sebenarnya, ada dua hal yang bisa dipastikan dari eksistensi sang pejantan.

Pertama, Jonathan tiba di Pulau Santa Helena pada tahun 1882. Fakta ini bisa dipastikan lantaran memang ada catatan terverifikasi mengenai kedatangannya dari Seychelles, tempatnya dilahirkan. Saat itu, Jonathan bukan lagi kura-kura kecil. Ia sudah tumbuh dewasa dan para peneliti menduga usianya pada 1882 tadi sudah mencapai kira-kira 50 tahun. Itulah mengapa hingga kini tidak ada yang tahu persis kapan sebenarnya Jonathan lahir, tetapi telah disepakati bahwa, kemungkinan besar, usianya kini adalah 194 tahun.

Fakta kedua yang bisa dipastikan soal Jonathan adalah bahwa dirinya merupakan sumber pengetahuan yang amat berharga. Jonathan adalah makhluk darat tertua yang ada saat ini. Memang betul bahwa ada klaim yang merujuk pada kura-kura jenis Aldabra lain sebagai makhluk darat tertua. Akan tetapi, menurut ahli biologi komputasional Benjamin Vaisvil, Jonathan punya catatan hidup paling lengkap sehingga ialah yang "paling berhak" menyandang klaim tertua itu.

Status Jonathan sebagai makhluk darat tertua itulah yang kemudian menggugah rasa penasaran dari sejumlah ilmuwan, termasuk Vaisvil dan para koleganya dari Yayasan Kallel, untuk meneliti apa sebenarnya rahasia di balik usia panjang sang kura-kura. Hasil dari penelitian tersebut telah diterbitkan pada awal Oktober 2026 lalu di jurnal Science Advances dengan judul "Epigenetic insights into extreme longevity in the world’s oldest terrestrial animal, Jonathan".

Penuaan yang Lambat

Untuk mendapatkan materi penelitian itu, para ilmuwan tidak bisa serta-merta meminta sampel darah Jonathan. Otoritas Pulau Santa Helena melarang pengambilan darah demi melindungi kesehatan sang kura-kura dan statusnya sebagai ikon pulau tersebut. Sebagai alternatif, tim peneliti mengambil sampel dengan cara mengusap bagian dalam pipi Jonathan untuk mendapatkan sel dan air liur.

Prosedur itu terdengar sederhana, tapi tidak dalam praktiknya. Dokter Hollins mesti memakai sarung tangan las tebal, menahan kepala Jonathan dengan satu tangan, lalu menyisipkan jari ke dalam mulut kura-kura itu untuk membukanya. Ia punya waktu sekitar lima detik untuk mengusap sebelum kaki Jonathan yang tebal dan bersisik menyentaknya. Sampel yang berhasil dikumpulkan bahkan tidak bisa dikirim lewat udara karena minimnya jadwal penerbangan dari dan ke Santa Helena. Walhasil, sampel pun mesti dikirim lewat jalur pelayaran laut.

Dari sampel yang didapat susah payah tadi, para ilmuwan menganalisis dua hal utama: genom dan epigenom Jonathan. Vaisvil menggambarkan hubungan keduanya dengan metafora yang mudah dipahami. Bayangkan genom sebagai sebuah buku resep masakan lengkap yang berisi seluruh instruksi genetis makhluk hidup. Sementara itu, epigenom adalah catatan tangan yang dituliskan di pinggir-pinggir halaman buku itu, yang menentukan kapan dan resep mana yang harus digunakan. Semakin tua buku itu, semakin sulit catatan-catatan itu terbaca.

Dari analisis genom, peneliti menemukan 287 variasi genetis yang unik pada Jonathan dan tidak ditemukan pada kura-kura raksasa lainnya. Sebanyak 22 di antaranya mengalami seleksi positif, yang artinya evolusi secara aktif mendorong kemunculan variasi-variasi itu karena memberi keuntungan bagi kelangsungan hidup. Variasi-variasi itu berkaitan dengan perbaikan DNA, pengaturan insulin, fungsi mitokondria, dan pemeliharaan telomer, yaitu bagian pelindung di ujung kromosom yang memendek seiring penuaan.

Jonathan Kura-Kura Tertua di Dunia

Jonathan, seekor kura-kura raksasa Seychelles yang diyakini sebagai reptil tertua yang masih hidup di bumi dengan perkiraan usia 185 tahun, merayap melintasi halaman rumput Plantation House—kediaman resmi Gubernur Inggris—pada tanggal 20 Oktober 2017 di Saint Helena, sebuah Wilayah Seberang Laut Inggris di Samudra Atlantik bagian selatan. (Photo by GIANLUIGI GUERCIA / AFP)

Tim peneliti juga mendapati bahwa Jonathan memiliki beberapa gen yang sama dengan naked mole rat, sejenis tikus tanah yang terkenal hampir tidak pernah terkena kanker. Salah satu yang menonjol adalah gen HAS2, yang berperan dalam produksi asam hialuronat. Pada naked mole rat, produksi asam hialuronat dalam kadar tinggi berkaitan langsung dengan ketahanan terhadap kanker dan umur yang panjang.

Adapun, temuan yang bisa dibilang paling mengejutkan datang dari analisis epigenom. Seiring bertambahnya usia Jonathan, pola tanda-tanda kimiawi dalam DNA cenderung menjadi kacau dan tidak teratur. Para ilmuwan menyebut kekacauan ini sebagai entropi metilasi. Semakin tua makhluk hidup, semakin tidak beraturan pola metilasi dalam genomnya. Jonathan pun tidak terkecuali dari fenomena ini.

Namun, ada pengecualian dalam DNA sang kura-kura, khususnya di wilayah-wilayah genom yang mengatur fungsi mitokondria dan metabolisme RNA. Mitokondria berfungsi menghasilkan energi yang dibutuhkan sel untuk bekerja, memperbaiki kerusakan, dan memperbarui dirinya sendiri. Ketika mitokondria tidak berfungsi dengan baik, sel kehilangan kemampuan-kemampuan penting itu. Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa disfungsi mitokondria adalah salah satu ciri utama penuaan.

Ternyata, dari penelitian didapati bahwa entropi metilasi Jonathan di wilayah-wilayah genom yang mengatur fungsi mitokondria dan metabolisme RNA tadi sangat rendah, kira-kira setara dengan kura-kura berusia 5 tahun bernama Hatchling yang menjadi subjek perbandingan dalam penelitian ini. Dengan kata lain, dalam bagian-bagian sel yang paling vital itu, tubuh Jonathan secara biologis masih berperilaku layaknya kura-kura belia.

Justin Gerlach, ahli biologi dari Universitas Cambridge yang terlibat dalam penelitian ini, menjelaskan implikasi temuan tersebut. Pada kebanyakan makhluk hidup yang menua, sistem pengaturan gen mulai tidak berjalan semestinya. Gen-gen diekspresikan secara keliru, dan salah satu akibat paling nyata dari hal itu adalah kanker.

“Jonathan masih memiliki kendali genetis layaknya hewan yang jauh lebih muda,” ujarnya dalam wawancara dengan NPR. Gerlach menambahkan bahwa Jonathan bukan sekadar lebih tahan terhadap gejala penuaan, melainkan benar-benar menua lebih lambat dari yang semestinya.

Jawaban bagi Pertanyaan Manusia

Jonathan bukan kura-kura raksasa pertama yang menarik perhatian para ilmuwan soal umur panjang. Pada 2018, penelitian terhadap Lonesome George, kura-kura Galapagos terakhir dari jenisnya yang mati pada 2012, menemukan hal-hal serupa. Genom George mengungkap adanya gen-gen yang terkait dengan umur panjang, respons imun, dan ketahanan terhadap kanker yang lebih kuat dibandingkan vertebrata lain.

Pola ketahanan terhadap kanker pada kura-kura juga dikonfirmasi oleh penelitian yang lebih baru. Sebuah ulasan ilmiah yang diterbitkan di jurnal BioScience pada 2025 menelaah 290 nekropsi dari 64 spesies kura-kura di berbagai kebun binatang di Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris. Hasilnya, dari ratusan data itu, hanya satu kasus tumor jinak yang ditemukan. Tidak ada satu pun kasus kanker ganas.

Ini kontras tajam dengan angka pada kelompok hewan lain. Prevalensi kanker pada mamalia rata-rata mencapai 10 persen. Pada burung, angkanya sekitar 3 persen. Pada kura-kura, angka itu mendekati nol. Para peneliti menyimpulkan bahwa kura-kura telah berevolusi dengan seperangkat mekanisme biologis yang melindungi mereka dari kerusakan seluler seiring waktu, mulai dari adaptasi genetis hingga kemampuan menangkal stres oksidatif.

Lalu, apa artinya semua ini bagi manusia? Para peneliti menemukan kemiripan yang antara pola biologis Jonathan dengan manusia berusia sangat tua. Sebuah studi terhadap seorang wanita berusia 117 tahun, yang menjadi manusia tertua dengan catatan terverifikasi pada saat studi dilakukan, menemukan bahwa perempuan itu memiliki fungsi mitokondria yang jauh lebih efisien dibandingkan orang-orang lanjut usia seusianya. Efisiensi mitokondria menjadi benang merah yang menghubungkan makhluk-makhluk berumur panjang, bahkan secara lintas spesies.

Penuaan yang dimaksud di sini bukan sekadar soal rambut yang memutih atau kulit yang mengendur. Ia adalah faktor risiko terbesar untuk hampir semua penyakit kronis yang paling banyak merenggut nyawa manusia, dari penyakit jantung dan diabetes hingga alzheimer dan kanker. Stephen Clark, pemimpin penelitian ini sekaligus pendiri Yayasan Kallel, mengatakan tujuan timnya adalah mengambil wawasan evolusioner ini dan mengubahnya menjadi pengobatan praktis yang terjangkau bagi masyarakat luas. Lebih jauh, Clark menyatakan timnya berencana menciptakan obat-obatan yang bisa meningkatkan kesehatan mitokondria manusia dan membawanya ke uji klinis dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Tentu saja, kehati-hatian tetap diperlukan. Björn Schumacher, peneliti penuaan dari Universitas Köln di Jerman, mengingatkan agar kita tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Jeanne Calment, manusia tertua yang pernah tercatat dengan usia 122 tahun, mengaitkan umur panjangnya dengan pola makan kaya minyak zaitun dan wine merah. Dia juga merokok sepanjang hayatnya. Apakah kita harus ikut merokok demi panjang umur? Tentu tidak. Oleh karena itu, kesimpulan dari satu individu, baik manusia maupun kura-kura, tidak bisa begitu saja diterapkan secara universal.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan teknis yang perlu digarisbawahi. Karena sampel darah tidak diperbolehkan, sekitar 5 persen dari data genetis yang dianalisis bukan berasal langsung dari Jonathan, melainkan didapat dari hasil referensi genom milik kura-kura 36 tahun bernama Tank yang diproses dengan bantuan akal imitasi.

Meski begitu, penelitian ini membuka pintu yang sangat penting. Jonathan telah hidup melewati dua perang dunia, kemunculan dan keruntuhan banyak negara, dan tidak terhitung banyaknya generasi manusia. Untuk pertama kalinya, ilmuwan mulai membaca instruksi genetis yang mungkin ada di balik "keajaiban" itu.

Rahasianya bukan keberadaan satu gen ajaib, melainkan sebuah sistem yang bekerja dengan harmonis, mulai dari DNA yang cepat memperbaiki diri, mitokondria yang tetap prima, hingga pola pengaturan gen yang tidak kacau meski waktu terus berlalu.

Bagi kita, memahami sistem ini adalah langkah pertama menuju jawaban atas pertanyaan yang sudah lama menggelayuti pikiran manusia, yaitu mengapa kita menua dan mungkinkah kita memperlambatnya.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN ILMIAH atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi