Momentum Liga Sepak Bola Wanita Inggris Kejar EPL di Tengah Pandemi

Pesepakbola wanita Inggris Beth Mead, depan, merayakan setelah rekan setimnya Jodie Taylor mencetak gol pembuka selama pertandingan sepak bola Grup D Piala Dunia Wanita antara Inggris dan Argentina di Stade Oceane di Le Havre, Perancis.AP / Alessandra Tarantino, File
Oleh: Ahmad Fauzan - 24 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Banyak bintang sepak bola perempuan hijrah ke Inggris agar tak menganggur terlalu lama. Momentum bagi kebangkitan liga sepak bola perempuan Inggris.
Empat bulan setelah terlahir ke dunia, nama Charlie Elena Carasco langsung tercetak dalam salah satu paspor yang diterbitkan Departemen Kewarganegaraan AS. Charlie masih terlampau mungil untuk paham bahwa kini dirinya berpredikat imigran di Inggris. Dan, predikat itu muncul karena satu alasan: dia lahir dari rahim Alex Morgan, ujung tombak Timnas Sepak Bola Perempuan AS.

Pada 12 September 2020, Morgan memutuskan mengambil tantangan baru. Atlet yang pernah memboyong dua trofi Piala Dunia dan satu trofi Liga Champions tersebut menerima tawaran sebagai pemain pinjaman Tottenham Hotspur.

“Tahun 2020 dipenuhi hal-hal tak terduga dan [hal tak terduga] berikutnya adalah Charlie akan mendapatkan stempel paspor pertamanya,” tulis Morgan saat mengumumkan keputusannya.

Morgan akan merumput di London Utara hingga Maret 2021. Musim lalu dia bermain untuk klub AS Orlando Pride, setelah sempat dipinjamkan ke klub Perancis Lyon pada 2017.

Hijrahnya Morgan ke Tottenham sontak bikin pencinta FA Women’s Super League (WSL) bersuka cita. Kehadiran sosok yang masuk dalam 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time tersebut menggenapi kedatangan para bintang sepakbola perempuan lainnya.

Musim panas ini Tobin Heath dan Christen Press—dua tandem Morgan saat menjuarai Piala Dunia 2019—telah lebih dulu merapat ke Manchester United. Heath meninggalkan Portland Thorns, klub Liga AS yang sudah diperkuatnya sejak 2013. Sedangkan Press hengkang dari Utah Royals FC.

Rose Lavelle dan Sam Mewis, dua gelandang yang menopang ketajaman Morgan di Timnas AS, juga tak mau ketinggalan. Mereka menandatangani kontrak dengan Manchester City, rival sekota United.

City bukan cuma kedatangan Lavelle dan Mewis. Skuat asuhan Gareth Taylor juga berhasil menggaet Lucy Bronze, fullback yang belakangan sukses mengantarkan Lyon menjuarai tiga edisi Liga Champions beruntun. Bronze akan menopang Ellen White, kawannya yang juga ujung tombak nomor wahid Timnas Inggris.

Chelsea pun tak mau kalah dari Tottenham dan dua klub Manchester itu. Musim panas ini, The Blues memecahkan rekor transfer sepak bola perempuan dengan merekrut kapten Timnas Denmark Pernille Harder dari Wolfsburg. Penyerang yang membukukan 103 gol dari 113 pertandingan dan dua kali menembus final Liga Champions selama memperkuat Wolfsburg itu didatangkan dengan banderol 300.000 poundsterling.

“Transfer itu memang memecahkan rekor dalam sejarah sepak bola perempuan. Bila Harder bisa menunjukkan penampilan seperti saat berseragam Denmark dan Wolfsburg, Chelsea telah mengambil langkah yang menguntungkan,” ucap pandit BBC Sport Tom Garry.

Harder akan bahu-membahu bersama Sam Kerr, pesepak bola perempuan terbaik dunia 2019 versi The Guardian yang sudah lebih dulu merapat ke Stamford Bridge.

Seolah menggenapi parade kedatangan para bintang itu, Arsenal juga mendaratkan penggawa Australia Stephanie Caltley. Berposisi sebagai fullback, Caltley bakal jadi tumpuan tambahan Meriam London yang masih akan mengandalkan duo bintang Belanda Viviane Miedema dan Danielle van de Donk.


Imbas Pandemi COVID-19

Senarai kepindahan para pemain bintang ke WASL itu menghadirkan catatan menarik. Bila dikaitkan ke daftar 100 pesepak bola perempuan terbaik 2019 versi The Guardian, maka sembilan penghuni peringkat 20 teratasnya dipastikan bermain untuk klub Inggris pada musim ini. Padahal, empat bulan lalu, hanya tiga dari nama-nama tersebut yang bermain di Inggris.

Kolumnis olahraga The Irish Times Malarchy Clerkin lantas menyimpulkan kepindahan-kepindahan sensasional tersebut banyak dipengaruhi oleh pandemi COVID-19.

“Pandemi, tak dapat dimungkiri, memaksa kompetisi-kompetisi di AS, Jerman, hingga Prancis ditunda,” papar Clerkin. “Para pemain bintang kemudian memilih pindah ke klub-klub Inggris daripada menganggur terlalu lama.”

Rekapitulasi The Guardian menyebutkan bahwa per 22 September 2020, sudah ada 139 kasus kepindahan maupun peminjaman pemain di bursa transfer musim panas yang melibatkan klub-klub Inggris. Dari jumlah itu, hanya 37 kasus (26 persen) yang berstatus pelepasan pemain ke luar Inggris.

Artinya, jumlah pemain yang datang ke Inggris jauh melebihi pemain yang pergi.

WSL jadi pelabuhan paling realistis karena musim anyarnya telah bergulir sejak 5 September 2020. Di sisi lain, pada sisa tahun ini National Women’s Soccer League (NWSL—liga sepak bola perempuan AS) hanya memainkan liga tertutup yang diikuti 9 klub sampai akhir tahun. Skala kompetisi tersebut dianggap terlalu kecil untuk ukuran para bintang kelas dunia.

Presiden Orlando Pride Marc Skinner yang turut mengurus kepindahan Alex Morgan ke Inggris pun ikut membenarkan pendapat Clerkin.

“Aku sudah membicarakan ini dengan Alex,” tutur Skinner kepada BBC. “Kami sepakat bahwa ini adalah langkah yang tepat untuk memberinya menit bermain yang lebih banyak.”




Kesempatan

Inggris memang negara asal sepak bola. Namun, perkara level sepak bola perempuan, Negeri Ratu Elizabeth harus mengakui ketertinggalannya dari AS.

Pada Piala Dunia 2019, misalnya, catatan FIFA menyebutkan bahwa klub-klub WSL menyumbang 50 dari keseluruhan 551 pemain. Sementara itu, NWSL menyumbang 73 pemain. WSL juga tertinggal dari liga sepak bola perempuan Spanyol dan Perancis yang masing-masing menyumbang 51 pemain.

Statistik tersebut cukup menggambarkan realitas pemain bintang cenderung lebih tertarik bermain di Negeri Paman Sam ketimbang Inggris.


“Dalam segala aspek—mulai dari pembiayaan, gaji, hingga dukungan publik—kondisi persepakbolaan perempuan di AS memang jauh lebih baik dari negara lain. Faktor ini membuat banyak atlet top lebih memilih bermain di sana,” papar peneliti gender German Sports University Cologne Gitta Axman.

Kini, di tengah pandemi yang membuat ketertarikan terhadap WSL meningkat, para atlet sepak bola perempuan di Inggris mengharap terciptanya dampak positif.

“Ini adalah hal yang kami butuhkan karena akan semakin banyak orang tertarik mengikuti WSL,” tutur penyerang Watford Helen Ward kepada The Atlhletic. “Semua mata kini akan tertuju pada WSL yang artinya akan membuat pendapatan dan dukungan untuk klub-klub meningkat.”

Tanda-tanda kebangkitan WSL sebagai penantang NWSL sebenarnya sudah terendus sejak pengujung musim kompetisi 2019/2020. BT Sport, pemegang hak siar WSL, melaporkan bahwa jumlah penonton rata-rata WSL meningkat hingga angka 85.000 per pertandingan.

Catatan tersebut melampaui jumlah penonton rata-rata NWSL musim 2019 di ESPN yang berkisar 81.000 per pertandingan.

Direktur Sepak Bola Perempuan FA Kelly Simmons menyebut peningkatan penonton itu selaras dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan nilai-nilai kesetaraan gender. Hasrat investor dan sponsor untuk menjaga citra ‘ramah gender’ lantas menyempurnakan faktor tersebut.

“Saat ini para sponsor hanya mau datang bila kompetisi laki-laki dan perempuan sama-sama berjalan. Kupikir ini cukup menggambarkan bagaimana pandangan masyarakat,” kata Simmons kepada The Guardian. “Sponsor selalu ingin menciptakan citra baik di hadapan konsumen dengan memberikan dukungan.”

Pada akhirnya, cita-cita menjadi liga sepak bola perempuan terbaik di dunia kini bukan lagi kemustahilan bagi WSL. Seperti liga sepak bola laki-lakinya yang selalu dinanti para pemirsa, bukan hal mengejutkan bila dalam waktu dekat WSL akan melangkahi pamor NWSL sebagai liga sepakbola perempuan nomor wahid.

Baca juga artikel terkait TIM SEPAKBOLA INGGRIS atau tulisan menarik lainnya Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight