Milenial Lintas Rumah Ibadah: Perpecahan Akibat Kepentingan Elite

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 1 Juni 2019
Dibaca Normal 1 menit
Perpecahan itu timbul sebagai akibat dari kepentingan elite untuk mengejar kekuasaan, tetapi malah mengorbankan masyarakat.
tirto.id - Memperingati hari lahir Pancasila, Gerakan Milenial Lintas Rumah Ibadah (MLRI) menyoroti adanya kecenderungan para elite politik di Indonesia yang menyebabkan perpecahan di antara masyarakat.

Perwakilan dari Generasi Muda Buddhis Indonesia, Suprionoto W. mengatakan perpecahan itu timbul sebagai akibat dari kepentingan mereka untuk mengejar kekuasaan, tetapi malah mengorbankan masyarakat.

Suprionoto mengatakan saat ini Indonesia memiliki ciri khas yang jarang dimiliki negara lain terutama dalam hal keberagaman. Namun, di saat yang sama katanya banyak orang justru berusaha menganggu ideologi yang dimiliki Indonesia yakni Pancasila sebagai pedoman toleransi antara satu dengan yang lain.

“Untuk yang sedang hangat-hangatnya ini hanya elite-elite saja yang mengejar kepentingan kekuasaan. Yang dikorbankan adalah masyarakat,” ucap Suprionoto dalam acara bertajuk 'Menjaga Pancasila Mulai Dari Rumah Ibadah' di pelataran Masjid Masjid Cut Meutia, Jakarta pada Sabtu (1/6/2019).


Untuk itu ia menyerukan kepada para generasi milineal untuk bersatu dan cerdas dalam menghadapi situasi yang cenderung memecah belah masyarakat.

Dalam acara yang dilanjutkan dengan diskusi itu, perwakilan Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia, Gede Hendra pun mengatakan generasi milenial harus mampu membuktikan dirinya tidak terpengaruh dengan adanya situasi yang dapat menimbulkan perpecahan.

Menurutnya, saat ini para elit tidak hanya bermain di politik, tetapi juga melalui media yang dikuasai demi kepentingan elektoral mereka masing-masing.

“Di sini kita buktikan generasi milenial itu aman-aman saja. Yang panas-panasan itu media yang tidak lepas dari kepentingan elektoral itu sendiri,” ucap Gede.

Inisiator MLRI, Arief Rosyid di akhir acara pun menyerukan agar generasi milenial menjaga dan meneladani Pancasila. Sebagai umat lintas agama, katanya nilai-nilai itu diperlukan untuk menghadapi polarisasi di tengah masyarakat.

“Menyerukan sikap menjaga dan meneladani Pancasila sebagai titik temu semua agama yang cinta Tuhan dan ciptaan-Nya dengan mendorong adanya semangat persatuan lintas keagamaan sebagai implementasi praktis dari nilai-nilai pancasila di tengah polarisasi rakyat hari ini,” ucap Arief saat membacakan salah satu poin deklarasi usai acara.


Baca juga artikel terkait KASUS INTOLERANSI atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Irwan Syambudi
DarkLight