Merayakan Malam Tahun Baru di TMII

Oleh: Riyan Setiawan - 1 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Terdapat tiga zona hiburan yang digelar di TMII pada malam tahun baru kali ini.
tirto.id - Menyambut tahun baru 2019, tempat wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), di Jakarta Timur ramai didatangi pengunjung. Para pelancong mulai memadati area TMII sejak Senin sore (31/12/2018) pukul 18.00 WIB.

Ketua Panitia Pekan Natal dan Tahun Baru TMII, Sudiono mengatakan terdapat tiga zona hiburan yang akan digelar pada malam tahun baru kali ini.

Zona pertama, kata Sudiono, terdapat di depan Tugu Api Pancasila. Di lokasi itu, kata dia, terdapat pertunjukan tradisi pagelaran wayang dengan dalang Kondang Kimanteb Sudarsono, Kendang Beleg, Congdut, dan Campursari.

Sementara pada zona tengah terdapat panorama obor dan pesta kembang api serta hiburan anjungan atau rumah adat yang terdiri dari 33 daerah.

“Hiburannya musik Melayu, diklat tari, dan musik doll ada di Panggung Dermaga dekat Danau Archipelago,” kata Sudiono, kepada reporter Tirto, Senin malam.

Sedangkan di zona belakang atau ketiga, kata Sudiono, terdapat panggung utama yang akan dimeriahkan oleh sejumlah artis dari Kontes Dangdut Indonesia (KDI) dan beberapa penyanyi lainnya.

Selain itu, kata Sudiono, panitia juga menyediakan panggung terpadu yang akan diisi dengan beraneka hiburan dari Anjungan Daerah.

Kabag Humas TMII Jerrimias Lahama mengatakan, selain pertunjukan musik, panitia juga menyiapkan sekitar 6.200 tembakan kembang api untuk memeriahkan puncak malam tahun baru 2019.

Tak hanya kembang api, kata Jerri, akan ada 2.900 obor disiapkan untuk menghiasi titik-titik danau miniatur kepualauan Indonesia yang berada di salah satu tempat di TMII.

“Di kepulauan itu akan dihiasi obor,” kata Jerri kepada reporter Tirto.


Alasan Mereka Memilih TMII


Sementara itu, Rudi Resta (32 tahun), pria asal Palembang, Sumatera Selatan datang jauh-jauh bersama keluarganya memilih untuk menghabiskan malam tahun baru di TMII.

Rudi mengaku berkunjung ke TMII karena direkomendasikan keluarganya yang tinggal di daerah Cikarang, Jawa Barat. Rudi pun memutuskan pergi ke TMII bersama rombongan keluarga yang berjumlah sekitar 18 orang dengan mengenakan empat mobil.

Selama berkunjung ke TMII sambil menikmati malam pergantian tahun, Rudi berencana menaiki kereta gantung Gondola dan beberapa wahana lainnya.

Tak hanya wahana permainan, Rudi juga berencana mengajak anak-anaknya dan juga keponakannya untuk berkunjung ke Rumah Adat.

Menurutnya, Rumah Adat di TMII merupakan bentuk dari miniatur Indonesia. Sebab, di sana terdapat berbagai macam Rumah Adat dari seluruh provinsi yang ada di tanah air.

“TMII menurut saya miniaturnya Indonesia lah, jadi cukup ke sini bisa lengkap dapat semua informasi. Sekalian ngajarin anak-anak buat edukasi,” kata Rudi.

Selain itu, Rudi mengaku bisa menjelaskan kepada anak-anak dan keponakannya bahwa setiap Rumah Adat juga memiliki ciri khasnya masing-masing.

“Kasih tahu ke anak-anak, ini Rumah Adat Padang, ini Rumah Adat Medan. Jadi biar anak-anak tahu, kita ingin tahu ciri khas ini apa? Dari daerah ini apa,” kata dia.

Namun, kata Rudi, dari sekian rumah adat yang ada di TMII, yang paling ingin dilihat anak dan keluarganya adalah Rumah Adat Palembang.

“Kami ingin lihat Anjungan (Rumah Adat) khas Palembang, soalnya kami dari Palembang,” kata dia.



Hal senada diungkapkan Risma Septiani (21 tahun). Ia memilih berwisata ke TMII lantaran ingin menikmati malam pergantian tahun baru bersama kekasihnya.

Risma bersama kekasihnya datang sejak pukul 18.00 WIB bersamaan dengan padatnya pengunjung yang datang ke area tersebut.

Menurut Risma, salah satu tempat yang paling ingin dikunjungi adalah danau yang menyerupai miniatur pulau Indonesia. Menurutnya, lokasi tersebut terasa romantis ketika menikmati malam pergantian tahun bersama kekasihnya.

“Nanti paling malam-malam bisa nikmatin di pinggir danau yang menyerupai miniatur Indonesia itu. Biar romantis sambil melihat kembang api,” kata Risma kepada reporter Tirto.

Baca juga artikel terkait TAHUN BARU 2019 atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight