Lulusan SMK & S1 Banyak Menganggur, Menaker Sebut Ada Faktor Gengsi

Oleh: Hendra Friana - 22 Maret 2019
Menaker Hanif Dakiri menjelaskan ihwal tingginya tingkat pengangguran lulusan SMK/SMA dan S1 karena adanya faktor 'gengsi'.
tirto.id - Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakiri menjelaskan ihwal tingginya tingkat pengangguran lulusan SMK/SMA dan perguruan tinggi serta S1. Menurutnya, ada faktor 'gengsi' yang membuat para lulusan tersebut lebih memilih untuk menganggur.

"Hal ini berkebalikan dengan angkatan kerja yang statusnya hanya lulusan SD dan SMP. Mereka yang lulusan SD dan SMP ini enggak pilih-pilih kerjaan," ujar Hanif kepada Tirto, Jumat (22/3/2019).

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Januari lalu memang menunjukkan bahwa persentase penganggur muda yang berpendidikan SMA dan sarjana meningkat dari 60 persen pada 2014, menjadi 74 persen di tahun 2018.

Jika dilihat lebih jauh, peningkatan penganggur muda berpendidikan SMA/SMK melonjak dari yang tadinya 23 persen (2014) menjadi 33 persen (2018). Sementara untuk lulus diploma dan sarjana, meningkat sekitar 6 persen selama empat tahun, yakni dari 4,4 persen di 2014 menjadi 10 persen di 2018.

Sementara untuk lulusan SD dan SMP, yang oleh Hanif disebut tak pilih-pilih kerjaan, terlihat dari pertumbuhan sektor jasa lainnya yang mencapai 9,84 persen pada triwulan IV 2018.

Hal ini menunjukkan pula adanya penurunan kualitas tenaga kerja lantaran kategori 'jasa lainnya' merupakan pekerjaan sektor informal waktu dan upah yang fleksibel.

Beberapa kalangan bahkan menyebut bahwa kategori 'jasa lainnya' ini adalah eufimisme untuk pekerjaan seperti tukang cukur rambut, ojek, becak dan lain-lain

"Kita ini ada problem under kualifikasi, misalnya ada lulusan S1, bikin meme saja tidak bisa. Akhirnya dia diterima dengan gelar sarjananya tapi di-downgrade dengan selevel SMA karena enggak kompeten, ini si anaknya galau mau ambil pekerjaannya apa enggak," tutur Hanif.


Baca juga artikel terkait PENGANGGURAN atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno