19 Mei 1935

Lawrence of Arabia: Kekalahan Turki dan Perannya bagi Dunia Arab

Oleh: Tyson Tirta - 19 Mei 2021
Dibaca Normal 3 menit
"Pahlawan nasional kita baru meninggal. Seorang tentara dan filsuf ini berjasa mengorganisasi dunia Arab untuk bersekutu dengan Inggris."
tirto.id - Salah satu arsip video dokumenter yang diproduksi Pathé News--produser video-video berita dan dokumenter Inggris--meliput penguburan seorang Inggris yang didaulat sebagai pahlawan nasional.

"Lawrence of Arabia, pahlawan nasional kita baru meninggal. Seorang tentara dan filsuf ini berjasa mengorganisasi dunia Arab untuk bersekutu dengan Inggris. Tidak peduli betapa berat beban hidup di depan mata, ia bergabung dengan Angkatan Udara Inggris dan melepaskan status sosialnya yang tinggi," kata narator dalam video itu.

Orang yang dimaksud adalah Thomas Edward Lawrence. Di masa kecilnya, pria kelahiran Wales 1888 ini punya panggilan akrab Ned. Sebagai anak ke-2 dari 5 bersaudara, ia tak punya banyak pilihan. Ayahnya, Sir Thomas Chapman, menceraikan istri pertamanya dan memiliki kelima anaknya itu di luar nikah dengan Sara Maden.

Keluarganya sering berpindah-pindah tempat tinggal sebelum akhirnya memutuskan untuk menetap di Oxford pada 1896. Di kota itulah Ned menyelesaikan sekolah dan kuliahnya di Jesus College, Oxford.

Kegemaran Ned pada studi kesejarahan membawanya mengeksplorasi berbagai kastil dan gereja tua di negaranya. Karena kecerdasannya di atas rata-rata, Ned memenangkan penghargaan tertinggi pada resepsi kelulusannya. Penghargaan itu didapatkan setelah ia menyelesaikan kunjungan belajar ke Suriah, menelusuri ribuan mil untuk meneliti kastil-kastil terpencil peninggalan zaman Perang Salib.

Setelah lulus, Ned menjalani profesi sebagai arkeolog. Ia kembali ke Timur Tengah dan bekerja di sebuah situs ekskavasi di Carchemish, Suriah bagian utara antara tahun 1910 hingga 1914. Di masa ini, Ned menjalin pertemanan yang akrab dengan seorang pekerja muda Arab bernama Dahoum yang di kemudian hari menjadi rekan kerja sekaligus asistennya.

Kemenangan di Aqaba

Ketika Perang Dunia I pecah, Ned tengah berada di Inggris. Mendengar berita perang, ia mencari cara untuk bisa berkontribusi dan akhirnya ditugaskan di Kairo untuk mendukung tentara Inggris. Memanfaatkan pengetahuannya tentang dunia dan bahasa Arab, Ned menginterogasi tawanan Turki. Tentara Inggris pun akhirnya mendapat keuntungan karena dengan mudah mengetahui lokasi dan peta kekuatan tentara Turki.

Pada 1916, ia kembali mendapat tugas sebagai perwira penghubung dan bergabung dengan pasukan revolusioner Arab yang dipimpin oleh Pangeran Feisal. Kecerdasan Ned berkontribusi lagi ketika mereka memutuskan untuk melakukan perang gerilya terhadap pasukan Turki, dan menghindari konfrontasi langsung ketika memutus saluran komunikasi Turki.


Pada musim semi setahun kemudian, Pangeran Feisal memutuskan untuk menyerang Aqaba, sebuah kota bandar pelabuhan yang sangat penting untuk Turki. Ned ikut merancang strategi penyerangan. Ia juga bergabung dengan pasukan darat melintasi ratusan mil jarak tempuh ke lokasi penyerangan. Semua itu ia lakukan tanpa sepengetahuan otoritas militer Inggris Raya di London.

Serangan atas Aqaba berhasil. Kota itu benar-benar direbut dan Ned segera ke Kairo untuk melapor pada pimpinannya. Ia disambut oleh Jenderal Allenby yang langsung menjanjikan akan memberikan perbekalan yang cukup yang diperlukan oleh pasukan Arab untuk bergabung dengan pasukan Sekutu.

Akan tetapi, bantuan yang dijanjikan itu tidak pernah sampai ke lokasi. Ned yang tiba kembali ke Aqaba pada 15 Oktober 1917 dan membawa berita gembira untuk Pangeran Feisal terpaksa harus meredam perasaannya. Kota Aqaba diserang wabah kolera sehari sebelum Ned tiba.

"Kolera telah didiagnosa di perkemahan orang-orang Arab di Aqaba dan seluruh pasukan berisiko besar [tertular]. Untuk menghindari wabah itu, pasukan Inggris Raya juga memutuskan untuk menghentikan segala pengiriman apapun dari dan menuju Aqaba," tulis James Barr dalam Setting the Desert on Fire: T.E. Lawrence and Britain’s Secret War in Arabia, 1916-1918 (2008:190).

Kemesraan Inggris dengan dunia Arab tidak hanya terganggu oleh wabah kolera. Kemenangan pasukan Sekutu di Perang Dunia I diikuti dengan keputusan mengejutkan yang diambil oleh Prancis dan Inggris atas masa depan Suriah. Mereka menyatakan tidak akan mendukung negara Suriah merdeka.

Dengan kekecewaan yang begitu dalam, Ned kembali ke London dan menyuarakan aspirasi Arab ke parlemen inggris. Ketika tahu aksinya itu sia-sia, ia memprotes keras dengan menolak medali perang yang diberikan oleh Raja Inggris. Setelah itu, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis di pelbagai surat kabar Inggris yang isinya mempromosikan kemerdekaan Arab.

Di Balik Meja Perundingan

Pada 1919, kota Paris menggelar perhelatan Peace Conference. Ned berangkat ke sana sebagai penerjemah bagi Pangeran Feisal. Dalam kesempatan itu, ia lagi-lagi mengalami sendiri betapa suara dari dunia Arab dianggap sebelah mata oleh para pemimpin Eropa yang hadir. Konferensi itu sekaligus memutuskan bahwa Suriah akan menjadi negara di bawah pemerintah Prancis, dan tidak ada satu pun negara Arab yang akan mendirikan pemerintahan mandiri.

Meski demikian, kiprah Ned di Paris menarik perhatian seorang Amerika bernama Lowell Thomas, yang memublikasikan materi seminarnya di London berjudul "Slide and Lantern" yang sedikit-banyak menempatkan T.E. Lawrence sebagai bintang. Ia tidak terlena dengan status barunya sebagai ahli militer dan intelektual. Ned memilih untuk menyepi jauh dari ingar bingar London.

Infografik Mozaik Thomas Edward Lawrence
Infografik Mozaik Thomas Edward Lawrence. tirto.id/Sabit


Menurut pengakuannya pada seorang kerabat dekat, Lawrence tidak ingin terombang-ambing dalam ambisi memperebutkan kekuasaan dan prestise. Akan tetapi, tidak ada yang tahu pasti alasan Lawrence mengasingkan diri. Anthony Nutting, penulis biografi Lawrence punya beberapa jawaban, dan salah satu yang bisa dipercaya adalah pengakuan David Garnett.

"Dia (Lawrence) pergi mengasingkan diri ke Inggris karena baginya babak baru peperangan Arab adalah di atas meja-meja perundingan. Oleh karena itu, ia merasa akan lebih berguna bagi teman-temannya di Arab jika ia menetap dekat dengan London, daripada menikmati kehidupan di Damaskus," ungkapnya dalam Lawrence of Arabia: The Man and the Motive (1961:169).

Pada 1920, Winston Churchill sempat membujuk Lawrence agar mau kembali terlibat dengan urusan pemerintahan. Churchill memberinya jabatan sebagai penasihat urusan kolonial, dan membebaskannya mengambil langkah yang tepat untuk menggalang dukungan atas Arab di Timur Tengah.

Konferensi Kairo pada 1921 menghasilkan keputusan bahwa Pangeran Feisal didaulat menjadi raja Iraq, dan Abdullah, saudaranya, ditunjuk menjadi raja bagi negara baru Trans Yordania. Bagi Lawrence, keputusan itu menjadi salah satu hasil positif untuk dunia Arab.


Setelah itu, Lawrence lagi-lagi menarik diri dari ingar bingar kepahlawanan. Untuk mengelabui kejaran wartawan yang ingin mewawancarainya, Lawrence yang sempat berpindah dari Angkatan Udara ke Angkatan Darat itu sempat menggunakan nama-nama samaran. Belakangan, jurnalis berhasil juga mengungkap nama samarannya yaitu John Hume Ross dan Thomas Edward Shaw.

Pada 1935, Lawrence memutuskan untuk pensiun muda dari ketentaraan dan berencana menikmati masa pensiunnya di rumahnya yang tenang di Clouds Hill, Dorset. Namun pada awal Mei tahun itu, di usia yang baru 46 tahun, Lawrence kehilangan kendali atas sepeda motor yang ditungganginya ketika pulang dari kantor pos.

Setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif, ia meninggal pada 19 Mei 1935, tepat hari ini 86 tahun lalu. Upacara pemakamannya sederhana, sesuai dengan gaya Lawrence semasa hidupnya. Winston Churchill yang hadir di pemakaman itu menampilkan raut muka yang sangat berduka.

"Lawrence adalah salah satu manusia terbaik yang dimiliki Inggris Raya di masa ini," ucap Churchill kepada para jurnalis yang meliput.

Baca juga artikel terkait SEJARAH ARAB atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Politik)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh
DarkLight