1 Juni 2019

Kisah Ani Yudhoyono: Anak Jenderal Jatuh Cinta pada Taruna

Ilustrasi Mozaik Ani Yudhoyono, tirto.id/Nauval
Oleh: Petrik Matanasi - 1 Juni 2020
Dibaca Normal 3 menit
Fase penting pertama dalam hidup Ani adalah jadi anak tentara, lalu jadi istri tentara. Fase penting berikutnya adalah dari istri menteri, lalu ibu negara.
Sedari kecil Kristiani Herrawati terbiasa dengan kehidupan tentara. Papinya, Sarwo Edhie Wibowo, adalah perwira dengan pangkat terakhir letnan jenderal Angkatan Darat. Ketika Kristiani lahir pada 16 Juli 1952 di Yogyakarta, pangkat ayahnya belum mencapai kolonel.

Seperti pada umumnya anak-anak tentara, Ani—begitu dia biasa dipanggil—tentu merasakan kehidupan tangsi. Biasanya anak-anak tentara, terutama yang tinggal di tangsi, sering disebut "anak kolong". Sebab di zaman sebelumnya anak serdadu rendahan biasanya tidur dan bermain di kolong tempat tidur tangsi.


Sekitar tahun 1965, Sarwo Edhie Wibowo adalah komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). Di masa itu Ani merasakan tinggal di kompleks perumahan tentara di Cijantung, Jakarta Timur. Pada periode penuh ketegangan setelah meletusnya G30S, Ani masih jadi anak sekolah.

Sebagai anak tentara, Ani tidak bisa tiap hari melihat Papinya di rumah. Ketika Sarwo Edhie ditugaskan ke Papua sebagai Panglima Kodam Cendrawasih, lalu Gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) Magelang, Ani tidak tinggal dengan Papi dan Maminya, Sunarti Sri Hadiyah. Ani dan beberapa saudarinya berada di Jakarta, demi meneruskan sekolah.

Cinta Bersemi di Lembah Tidar

Ketika Papinya jadi Gubernur Akabri di Lembah Tidar, Magelang, Ani sudah terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Pada 1973, Ani yang menikmati masa kuliahnya di Cawang tak lupa mengunjungi orang tuanya ke Magelang. Tahun itu pula ia bertemu dengan Susilo Bambang Yudhoyono alias Sus.

“Kali ini ada sesuatu yang berbeda,” kenang Ani dalam autobiografinya, Kepak Sayap Putri Prajurit (2010: 165-166) yang disusun Alberthiene Endah.

Balai Taruna, gedung yang digunakan untuk kegiatan ekstra kurikuler, kala itu sedang diresmikan. Ani ada di sana, Sus juga di sana. Seperti ditulis Usamah Hisyam dalam SBY: Sang Demokrat (2004: 75), “[Sus] terpilih menjadi komandan divisi korps taruna saat duduk pada bulan-bulan terakhir di tingkat tiga.”

Ani tentu tidak canggung. Maklum, dia sudah lebih dari dua dekade jadi anak tentara. Bedanya, Papi Sarwo Edhie sudah jenderal. Sebagai taruna penting di Akabri Magelang, Sus mau tidak mau harus terlihat oleh Papinya Ani.

“Ketika Papi hendak menggunting pita, taruna bertubuh jangkung yang tampaknya adalah komandan itu, mendekati Papi. Aku memperhatikan siluet tubuhnya yang sangat jenjang,” kenang Ani.

Sus kerap bolak-balik di hadapan Ani. Awalnya biasa saja barangkali, tapi pemuda jangkung asal Pacitan itu harus terlihat lagi oleh mata Ani.

Suatu ketika, Sersan Mayor Taruna Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke rumah Mayor Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.

“Aku terpana. Lagi-lagi sosok jangkung itu yang muncul. Karena jarak kami dekat, kali ini kedua mataku bisa lebih fokus lagi menganalisis dia. Wajahnya tampan. Atribut seragamnya, dengan tali komandan tersemat di dada, melihatnya terlihat gagah dan berwibawa,” kenang Ani bertahun-tahun kemudian.

Desember 1973, Sus lulus bersama hampir semua kawan-kawan seangkatannya yang masuk Akabri pada 1970. Dia kemudian dinas di Kostrad. Sebagai perwira, Sus melampaui ayahnya, Raden Sukotjo, yang jabatan terakhirnya "hanya" Komandan Koramil di Pacitan.

Ani dan Sus kemudian dekat. Ketika Sus jadi Komandan Peleton di Batalyon Infanteri 330 pasukan pemukul elite Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di Cicalengka, Ani harus ikut ke papinya ke Seoul karena diangkat jadi Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan. Sebelum berangkat, Ani terkejut oleh permintaan sang Papi. “Ani, sebaiknya kamu bertunangan dulu dengan Bambang,” kata Sarwo Edhie.

Bambang yang dimaksud adalah Sus. Ani tidak tahu, saat Sus diwisuda di Akabri Magelang, orang tua Sus rupanya sudah bertemu dengan Sarwo Edhie dan melamarkan Ani untuk Sus. Sarwo Edhie tentu saja punya penerawangan istimewa terhadap Sus. Sebagai taruna cemerlang, Sus berpeluang jadi perwira yang sukses. Bukan tidak mungkin dia akan jadi jenderal.

Ani dan Sus akhirnya menikah pada 30 Juli 1976, kala Sarwo Edhie masih “didubeskan” oleh Presiden Soeharto di Seoul. Ani tentu tahu risiko jadi istri serdadu dan dia siap dengan itu. Belum sempat merasakan nikmatnya berbulan madu, Sus harus kembali bertugas.



Mendampingi sampai Akhir Hayat

Meski tak secemerlang Prabowo Subianto, kawan seangkatannya yang telat lulus Akabri dan sukses jadi perwira korps baret merah, Sus tetap melakoni pekerjaannya dengan baik. Walau mertuanya tak disenangi Soeharto, Sus tetap suka dengan kariernya di ABRI.

“Pak, apakah Bapak menyesal menikah denganku?” tanya Ani suatu kali pada Sus.

“Sama sekali tidak. Buatku hal terpenting dalam hidup ini adalah keluarga,” jawab Sus penuh kemantapan.

Setelah bertahun-tahun bertugas di Kostrad, Sus tak berjaya di kesatuan itu. Sus yang terpelajar bukan menonjol sebagai komandan tempur, tapi sebagai perwira staf yang secara akademis dianggap mumpuni. Nasibnya agak mirip dengan perwira macam A.M. Hendropriyono.

Sus tak mendapat jabatan strategis macam Panglima Kostrad, Kasad, atau Panglima ABRI. Namun "ditendang ke atas" dengan jabatan sipil, termasuk jadi menteri yang tidak mengurusi urusan militer. Di era menjelang lengsernya Soeharto, Sus dijadikan Kepala Sosial Politik (Kasospol) ABRI.

Sus kemudian dikenal sebagai SBY. Setelah Soeharto lengser dan kawan Akabrinya yang telat lulus suram kariernya, SBY naik jadi menteri. SBY makin populer di masa kepresidenan Megawati. Dan pada Pilpres 2004, SBY sukses menjadi Presiden RI. Dalam sejarah Indonesia, SBY adalah presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.

Ani dikenal sebagai ibu negara yang berusaha melibatkan diri dalam kebudayaan. Ani dekat dengan batik maupun hasil kerajinan Indonesia lainnya. Kepenulisan buku Batikku: Pengabdian Cinta Tak Berkata (2010) adalah atas namanya. Ani pernah jadi ibu negara yang kerap membawa kamera dalam banyak acara.

Sejak 2004, keluarga Ani dan SBY adalah keluarga yang menjadi simbol Partai Demokrat, partai yang mengantarkan SBY ke gerbang Istana Negara. Partai Demokrat hampir mirip dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bagi Megawati dan keluarganya.

Ani Yudhoyono wafat pada 1 Juni 2019, tepat hari ini setahun lalu. Ribuan atau mungkin jutaan orang di seluruh negeri menangisi kepergiannya. Dia dikenang sebagai perempuan inspiratif yang berbuat baik bagi banyak orang.

==========

Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 3 Juni 2019. Kami melakukan penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik.

Baca juga artikel terkait ANI YUDHOYONO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight