Juru Selamat Fesyen itu Bernama Karl Lagerfeld

Infografik Karl Lagerfeld
Perancang busana Karl Lagerfeld berpose setelah presentasi koleksi busana musim Spring / Summer untuk Chanel 2019 di Paris, Selasa, 2 Oktober 2018. (AP Photo Christophe Ena
Oleh: Joan Aurelia - 8 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Karl Lagerfeld: direktur kreatif label fesyen Fendi sejak 1960-an dan Chanel sejak 1983.
tirto.id - Karl Lagerfeld adalah direktur kreatif paling loyal di dunia fesyen. Ia bertugas merancang seluruh konsep desain baju dan aksesori label busana Fendi sejak awal 1960-an, serta Chanel dan label Karl Lagerfeld sejak permulaan 1980-an. Kehadiran Lagerfeld membuat keempat label busana bisa lepas dari momok besar yang lumrah di bisnis mode: ditinggal direktur kreatifnya.

Calvin Klein, misalnya, baru-baru ini harus melepas direktur kreatifnya, Raf Simmons. Peristiwa ini disebut New York Times sebagai mimpi buruk pada penghujung 2018.

Direktur kreatif umumnya mundur dari pekerjaannya karena alasan perbedaan idealisme antara desainer dan citra label busana, serta pemegang saham terbesar label. Alasan lain, mereka ingin mendirikan label busana sendiri. Lagerfeld tak punya ambisi itu. Ia tak ingin sepenuhnya berkarya untuk label sendiri.

Pria ini nampak menikmati pekerjaan utamanya: membuat belasan tema koleksi bagi empat label busana dalam kurun waktu setahun. Banyak orang menilai pria asal Jerman ini ingin mendominasi ranah mode dengan menjadi apapun yang ia bisa, mulai dari desainer, fotografer, seniman, hingga sutradara film.

Lagerfeld menanggapi omongan miring itu lewat pengakuan, “Saya suka jadi pembuat citra. Saya menikmati bekerja di bidang yang berbeda,” katanya pada New York Times.


Lagerfeld memang pria percaya diri yang sulit diam. Sejak kecil, laki-laki berusia 83 tahun ini punya kebiasaan membaca dan menggambar. Ketika menginjak usia enam tahun, ia berkata pada dirinya sendiri akan jadi orang beken. Lagerfeld sendiri tumbuh dalam keluarga mapan. Ayahnya pebisnis susu sapi yang sukses. Keluarga Lagerfeld sempat tinggal berpindah-pindah akibat perang. Meski demikian, Lagerfeld selalu mendapat tempat tinggal yang nyaman dan perlakuan penuh kasih dari orangtua yang menerima orientasi seksualnya.

Lagerfeld masuk ke dunia mode dengan jabatan sebagai asisten desainer Pierre Balmain pada 1955, sesaat setelah memenangkan kompetisi mode. Pria yang gemar mengenakan setelan jas lengkap ini merancang koleksi busana pertama pada 1958 ketika bekerja untuk label Jean Patou. Waktu itu koleksinya dicerca. Pada 1960, ia membuat desain rok mini yang menurutnya mewakili semangat kaum muda saat itu. Namun, koleksi itu pun tidak disambut baik.

Serangkaian respons negatif tersebut tak menghambat karier Lagerfeld. Beberapa orang rupanya mengendus kejeniusan. Misalnya Gaby Aghion, pendiri label busana Chloe, yang dikenal sebagai pelopor tren busana siap pakai. Lagerfeld direkrut Aghion yang waktu itu membutuhkan visi anak muda agar desain Chloe tidak ketinggalan zaman. “Ia cerdas dan menyukai seni. Di saat desainer lain memberiku 2 opsi desain, Karl menyodorkan 20 opsi dalam sehari,” tuturnya.

Etos kerja inilah yang membuat Lagerfeld mampu memperoleh pekerjaan di sejumlah label mode.

Namun, tantangan sesungguhnya datang kala ia diminta memegang Chanel, label busana yang nyaris tenggelam pada 1980-an. “Orang-orang mencegah saya untuk masuk ke label yang sekarat. Tapi saya yakin saya bisa membangkitkan label itu,” katanya kepada kritikus mode Suzy Menkes.

Gayung pun bersambut. “Aku hanya mau bekerja di perusahaan besar yang punya dana besar untuk beriklan. Aku benci sesuatu yang kecil dan biasa saja,” katanya pada WWD.

Lagerfeld akhirnya mengoreksi kekurangan Coco Chanel yang menurutnya menolak menyesuaikan diri dengan zaman. “Chanel butuh sesuatu yang lebih berani.” Dalam koleksi pertama yang dirilis pada 1983, Lagerfeld memberi aksen rantai pada ikat pinggang, membuat kerah busana rendah dan lebar, serta menambahkan detail pada rok.





Bagi Lagerfeld, kebaruan adalah kunci. Ia mengaku terpana pada masyarakat Jepang yang selalu memikirkan masa depan. “Tidak seperti Eropa yang sering membandingkan masa sekarang dengan masa lalu,” lanjutnya dalam wawancara dengan New York Times pada 1982.

Terobosan Lagerfeld rupanya membuahkan hasil. Ia membuat kekayaan Alain dan Gerard Wetheimer, pemegang utama saham Chanel, meningkat sekitar empat kali lipat selama 30 tahun terakhir. Business Insider sempat menempatkan Alain dan Gerard di peringkat 6 dari 25 miliarder bisnis mode. Sebaliknya, dua orang itu berkontribusi besar menambah kekayaan Lagerfeld sampai-sampai sang desainer nampak lebih serius mengurus Chanel.

Lagerfeld tidak hanya memikirkan kebaruan desain busana tetapi juga kemasan peragaan busana. Chanel ialah salah satu label busana yang kerap menampilkan tata ruang spektakuler dalam tiap peragaan. Di tangan Lagerfeld, ruang peragaan busana diobrak-abrik sehingga mirip supermarket, air terjun, bandara, hutan, taman bermain, kasino, pesawat, ruang peluncuran roket, dan pantai. Ia pun membuat para selebritas seperti Pharell, Kristen Stewart, Cara Delevigne, dan Kaia Gerber mencintai Chanel dengan mengajak mereka berkolaborasi dalam desain busana dan film.


Lalu, bagaimana dengan label Karl Lagerfeld? Ia mengaku label itu awalnya dibuat sekadar untuk menampung para pekerja yang masih ingin bekerja dengannya setelah ia keluar dari Chloe. “Aku tidak peduli label itu akan jadi apa setelah saya pergi. Tidak pernah memikirkannya,” ungkapnya dalam acara IHT Luxury Conference.

Namun, hal yang tak ia pikirkan itu tetap saja menguntungkan. Koleksi busana pria lansiran Karl Lagerfeld mengalami peningkatan keuntungan 30% pada 2017. Hal serupa juga terjadi dengan Fendi. Pada tahun yang sama, Lagerfeld menerima penghargaan La Médaille Grand Vermeil de la Ville yang disebut-sebut sebagai penghargaan mode paling prestisius yang diberikan oleh pemerintah Prancis. Walhasil, sosok Lagerfeld pun kian disegani.

Tak heran, tak ada pihak yang berani mengkritiknya dengan keras. Publik tidak pernah melancarkan aksi #boycottkarl meski ia pernah menyatakan akan mempertimbangkan ulang status kewarganegaraan Jermannya karena tidak setuju dengan kebijakan Angela Merkel yang memperbolehkan imigran muslim masuk ke Jerman. Ia pun tidak mendukung gerakan #MeToo.

Namun, nampaknya ucapan-ucapannya itu dianggap angin lalu. Orang akhirnya lebih tertarik untuk menanti kejutan Lagerfeld alih-alih sikap politiknya.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight