iOS adalah Sistem Operasi Komputer, Bukan Ponsel

iOS 14 apple. FOTO/apple.com
Oleh: Ahmad Zaenudin - 29 September 2020
Dibaca Normal 5 menit
TLDR: iPhone hampir menjadi iPod plus telepon. Berakhir sebagai 'edisi mini' Macintosh.
“iOS akan menjadi lebih luar biasa,” tutur Craig Federighi, Senior Vice President of Software Engineering Apple, dalam Apple Worldwide Developer Conference (WWDC) 2020, Juni silam. Acara tahunan Apple ini diadakan salah satunya untuk memperkenalkan versi baru iOS. Tahun ini, iOS 14.

iOS, sebut Federighi, “adalah fondasi manusia mengatur kehidupannya dan tetap terhubung (dengan sesama secara digital).” Federighi tentu tak berlebihan. Sejak Steve Jobs meluncurkan iPhone, yang disebutnya sebagai produk yang merombak ulang ulang ponsel, iPhone iOS perlahan menjadi navigasi manusia menjelajahi dunia digital. Tatkala ponsel besutan Nokia hanya menyajikan fungsi telepon dan SMS, serta ponsel buatan BlackBerry hanya menambah kemampuan Nokia dengan email (push email), iPhone melangkah lebih jauh. iPhone (dan iOS), selain menyajikan fungsi dasar ponsel, juga menghadirkan aplikasi kepada manusia. Instagram, WhatsApp, Grab, Slack, AirBnb dan aplikasi lainnya tak bisa dipungkiri lahir karena iPhone.

Karena iOS dan iPhone, fungsi dasar ponsel sebagai alat telekomunikasi (telepon dan SMS) perlahan bergeser. Ponsel kini menjadi perangkat “all-in-one”. Data eMarketer menyebut, rata-rata warga Amerika Serikat menghabiskan waktu menggunakan ponsel selama 3 jam dan 10 menit setiap harinya pada 2019. Dari durasi itu, mayoritas dihabiskan untuk bermain-main dengan aplikasi, khususnya media sosial dan video. Di Indonesia, merujuk publikasi Statista, mayoritas warga maya menghabiskan waktu di ponsel untuk bermain game. Tercatat, hanya 8 persen dari durasi harian warga Indonesia menggenggam ponsel digunakan untuk telepon dan SMS.

Mengapa iOS dapat, mengutip kata-kata Jobs, "mendeskripsikan ulang ponsel"? Jawaban sederhana: iOS sejatinya bukan sistem operasi ponsel, melainkan sistem operasi komputer.

Ketika "Mafia NeXT" Mendikte Apple

Suatu hari pada awal dekade 2000-an, Richard Williamson duduk manis di ruangan Steve Jobs. Brian Merchant, dalam bukunya berjudul The One Device: The Secret History of the iPhone (2017) menyebut Williamson datang ke ruangan Jobs karena hendak mengutarakan niat pengunduran diri dari Apple. Williamson masuk Apple tatkala NeXT, startup yang didirikan Jobs, dibeli Apple.

Baik di NeXT maupun Apple, Williamson termasuk sosok yang paling berjasa. Pria kelahiran Inggris ini belajar komputer sejak usia 11 tahun. Ia adalah pencipta WebKit, mesin inti Safari. Di dunia komputer masa kini, selain WebKit, mesin inti browser lainnya adalah Gecko (yang digunakan Mozilla Firefox) dan Chromium (yang digunakan Chrome dan Edge). Karena Apple mewajibkan browser pihak ketiga menggunakan WebKit jika ingin meluncurkan versi Mac dan iOS, artinya Chrome, Edge, dan Firefox versi perangkat-perangkat Apple tercipta pula melalui tangan Williamson. Karena kebijakan Apple ini, majalah Forbes pernah menjuluki Williamson sebagai “bintang rock @#$ (internet).”

Sayangnya, Williamson telah merasa bosan bekerja di Apple, dan di saat bersamaan Google menawarinya pekerjaan. Sebagai perusahaan yang benar-benar hidup berkat internet, Google teramat sayang dilewatkan. Apalagi, dirinya adalah pencipta WebKit. Saatnya pergi dari Apple telah tiba, pikir Williamson.

“Jangan pergi,” tegas Jobs menggagalkan kehendak Williamson. “Apple memiliki proyek baru dan aku berpikir kamu akan sangat tertarik bergabung.”


Proyek baru itu adalah ponsel. Masalahnya, saat Jobs menawari Williamson bergabung, versi mentah atau prototipe ponsel ala Apple belum ada. Bahkan, “layarnya setahuku belum ada dan teknologi layar sentuh yang pas untuk ponsel belum ditemukan,” terang Williamson.

Ya, Jobs adalah Jobs. Berkat bujukannya, Williamson akhirnya setuju untuk terus bersama Apple.

“Aku sudah bersama Jobs semenjak di NeXT dan aku jatuh hati dengan auranya sejak saat itu.”

Akhirnya, Jobs menugasi Williamson menciptakan sistem yang memungkinkan ponsel ala Apple menjelajah internet. Dengan catatan, bukan sebatas melalui browser. Williamson kemudian berpikir: di ponsel Apple mana ia bekerja?

Ide menciptakan ponsel, urai Merchant, tercetus karena Apple tahu bahwa masa keemasan iPod telah usai. Sebelum 2007, telah banyak ponsel yang sanggup memutar file MP3. Dengan kemunculan ponsel-ponsel itu, tak ada alasan kuat bagi masyarakat untuk membeli iPod. Semangat membuat ponsel ala Apple pun semakin menggebu-gebu usai Motorola Rokr alias iTunes Phone--ponsel kerjasama Apple dan Motorola di tahun 2005-- gagal. Jobs, sebut Merchant, sangat malu dengan Rokr. Hampir seluruh karyawan Apple sepakat bahwa membenamkan iTunes pada ponsel bikinan Motorola adalah “guyonan semata.”

Dengan dua alasan di atas, Jobs berhasrat menciptakan ponsel agar Apple selamat dari kehancuran karena penjualan iPod terus menurun. Masalahnya, Apple adalah perusahaan komputer (dan pemutar musik). Apple tidak memiliki ilmu membuat ponsel. Maka, Jobs memutuskan jalan tengah. Menciptakan ponsel dari rahim iPod atau membuat ponsel dari otak komputer Mac. Apple membentuk dua kelompok penciptaan ponsel, P1 dan P2.

Williamson, masih merujuk kerja jurnalistik Merchant, menyebut bahwa kelompok yang awalnya disukai Jobs adalah P1, kelompok yang bekerja mengubah iPod untuk memiliki fungsi ponsel. P1 dikepalai oleh Tony Fadell, bapaknya iPod. Tentu saja adalah alasan mengapa Jobs lebih senang dengan P1. Pertama, tak bisa dipungkiri, iPod adalah produk paling sukses Apple (sebelum iPhone lahir). Melalui iPod, untuk pertama kalinya Apple memiliki unit bisnis yang menguasai pasar. Mac, yang sejatinya ruh Apple, kalah bersaing dengan IBM dan kemudian Windows. Kedua, dari sisi bentuk, iPod telah menyerupai ponsel. Pikir Jobs, P1 tinggal membenamkan modul seluler dan sedikit modifikasi di iPod, maka terciptalah ponsel.

Terakhir, dan paling utama, karena kesuksesan iPod, Fadell memiliki kekuatan politik yang sangat besar di Apple. Tatkala Jobs menginginkan ponsel, proyek ini adalah “proyek Fadell seorang”, ungkap Williamson.

iPod memang punya bentuk mirip ponsel. Masalahnya, jika Anda pernah memiliki iPod (versi-versi awal seperti iPod Classic, bukan iPod Touch), produk ini memiliki user interface (UI) yang sukar ditransformasikan menjadi ponsel. Ya, untuk digunakan, iPod memanfaatkan wheel (roda), persis seperti telepon rumah jadul. Untuk iPod, UI seperti ini bukan soal. iPod hanya butuh menambahkan fungsi Play/Pause/Next/Previous. Untuk ponsel, ini bencana.

Anda bisa mengetik alamat situs atau SMS atau catatan via tombol Play/Pause/Next/Previous? Bukan hanya Anda, insinyur-insinyur Apple pun kebingungan.

Meskipun tahu bahwa membuat ponsel dari iPod sukar (atau mustahil) dilakukan, Jobs, tutur Fadell terus menekannya hingga berhasil. “Ayolah, pasti ada jalan,” terang Jobs. Sayangnya, meskipun dicoba berulang-ulang dan sesungguhnya tim yang dikepalai Fadell telah sukses menciptakan prototipe iPod yang bisa bertelepon, P1 gagal.

Berbeda dengan P1, P2 merupakan kelompok yang dibentuk Jobs dan diisi insinyur-insinyur software, bukan hardware. P2 dikepalai Scott Forstall, programmer lulusan Stanford University yang kali pertama memegang komputer ketika duduk di bangku SMA. Kala itu, Forstall memegang Apple II, komputer yang sepenuhnya dirancang Steve Wozniak--pendiri perusahaan yang melambungkan namanya.

Ketika Forstall lulus kuliah, ia bekerja untuk NeXT. Seperti Williamson, ia hijrah ke Apple selepas startup itu dibeli Apple.




NeXT terhitung startup gagal. Alasannya sederhana, harga komputer buatan NeXT--NeXT Computer System--kemahalan. Komputer yang diluncurkan pada 1988 itu dihargai sekitar USD 6.500, alias setara dengan USD 14.000 pada 2019, alias setara dengan Rp200.000.000. Meskipun gagal, NeXTSTEP, sistem operasi di baliknya, rupanya cemerlang. Ketika membeli NeXT, Apple membuang NeXT Computer System, tetapi menjadikan NeXTSTEP sebagai penerus Macintosh. NeXTSTEP adalah induk bagi Mac OS X hingga macOS 11.0 Big Sur (yang belum dirilis Apple secara resmi).

P2 atau dijuluki Williamson sebagai “Mafia NeXT” (karena mayoritas diisi alumni NeXT) akhirnya bekerja untuk memodifikasi Macintosh agar bisa bekerja dalam tubuh ponsel.

Kerja mengubah komputer Macintosh menjadi ponsel terlihat susah, tetapi, merujuk Merchant, sesungguhnya mudah setidaknya dari sisi software. Alasannya lagi-lagi sederhana: "Mafia NeXT" yang mendiami P2 sudah sangat tahu betul luar dalam source code Macintosh. Mereka hanya perlu membuang yang tak dibutuhkan dan menambal yang dibutuhkan. Kemudahan mengubah Macintosh menjadi ponsel ditambah lagi dengan fakta bahwa jauh sebelum Jobs menginginkan ponsel, sebuah tim di Apple bernama Exploring New Rich Interaction (ENRI), yang diisi Andre Boule, Andy Grignon, Bas Ording, Imran Chaudhri telah diam-diam membuat komputer Macintosh untuk bisa dioperasikan dengan sentuhan.

P2, singkat cerita, membuang elemen-elemen UI dari Macintosh yang wajarnya dioperasikan dengan kursor mouse dan keyboard, mengganti sepenuhnya dengan layar sentuh. P2 akhirnya berhasil. Mereka sukses menciptakan versi mini dari Macintosh, iOS. Karena iOS tetaplah Macintosh, aplikasi-aplikasi non-telekomunikasi (telepon dan SMS) bisa bekerja.

Sayangnya, Macintosh versi kerdil itu tetaplah sistem operasi komputer yang butuh tenaga layaknya komputer. Beruntung, Apple memiliki teman bernama Samsung. Samsung membuatkan Apple Samsung 32-bit RISC ARM, prosesor berbasis ARM yang memiliki kemampuan a la prosesor komputer.

Apple akhirnya meluncurkan iPhone pada awal 2017. Ponsel rasa komputer atau komputer dalam bentuk ponsel lahir. Sejak itu, kembali ke awal tulisan ini, definisi ulang ponsel berubah.

Dan merujuk “Losing the Signal: The Untold Story Behind the Extraordinary Rise and Spectacular Fall of BlackBerry,” buku yang ditulis Jacquie McNish dan Sean Silcoff, Android sebetulnya hendak dibuat meniru sistem operasi BlackBerry. Namun, tatkala Jobs meluncurkan iPhone, Andy Rubin berubah haluan dan menciptakan Android yang serupa iOS. Tak berlebihan untuk mengatakan jika hampir semua aplikasi ponsel yang ada hari ini lahir atas andil iOS.

Pada 2020, iOS melakukan pembaruan yang termaktub dalam iOS 14. Pembaruan itu, selain menambah fitur-fitur yang sebetulnya telah ada duluan di Android--seperti widget--iOS 14 memperketat privasi. Sesuatu yang tak aneh dilakukan Apple selepas mengkampanyekan “What happens on your iPhone, stays on your iPhone”.

Pada iOS 14, sistem operasi yang bisa digunakan oleh iPhone 6s (2015) ke atas, Apple membenamkan izin privasi yang lebih ketat. Agar aplikasi bisa menggunakan fitur Local Network, misalnya, pengguna harus memberi izin. Location Service juga perlu izin, demikian pula dengan wi-fi tracking dan foto--bukan hanya album, tapi juga bisa per foto. Ketika aplikasi menggunakan modul kamera atau video, pengguna iOS 14 kini mendapat pemberitahuan berupa indikator lampu hijau atau jingga di status bar iPhone.

Akibat banyak izin yang mesti diberikan penggunanya, Facebook pun protes. Melansir laporan Peter Kafka untuk Recode, Facebook khawatir banyak penggunanya enggan memberikan izin, khususnya pada fitur Tracking. Facebook butuh fitur ini karena bisnis utama mereka adalah berjualan iklan. Iklan personal. Tatkala pengguna iPhone tidak memberikan akses Tracking pada Facebook, Facebook mati. Ia tak bisa memata-matai apa yang dilakukan penggunanya di internet. Ia tak bisa melakukan identifikasi pengguna.

Baca juga artikel terkait IOS atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight