Hidup Susah Tanpa Internet

Infografik dunia tanpa internet
ilustrasi wanita kesal tanpa internet. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 6 Agustus 2019
Dibaca Normal 2 menit
Internet menopang informasi, komunikasi, hingga transaksi manusia.
tirto.id - Aktivitas warga lumpuh ketika listrik padam. Ketika listrik padam di sebagian wilayah Jawa, 4 Agustus 2019, yang terjadi bukan hanya hilangnya penerangan. Lampu lalu lintas tak berfungsi, kereta pun terhenti.

Ubaidillah Pratama, karyawan swasta asal Depok, menceritakan istrinya yang tengah hamil telat sampai rumah karena kereta rel listrik. “Kalau lancar pakai KRL, jam 9-an malam sudah di Depok. Ini sampai jam setengah 11,” tuturnya.

Listrik tak hanya menghidupkan KRL. Ia juga menjadi penopang utama revolusi telekomunikasi abad 21 yang bernama internet. BTS, router, dan perangkat pendukung koneksivitas internet lainnya tergantung pada listrik, black-out yang terjadi kemarin pun mengganggu internet.

Darsya Khohamzah, wiraswastawan di Jakarta, mengaku aktivitas jual-beli yang ia lakukan terganggu akibat runtuhnya internet. “Gue jadi enggak bisa menanyakan info ketersediaan barang dari supplier yang ada di daerah. Selain itu, gue enggak bisa transfer ke supplier. Aktivitas dagang gue terhambat,” tutur Darsya.

Ketua Internet Development Institute (ID Institute), Svaradiva, mengatakan bahwa warga kesulitan mendapatkan informasi karena tidak adanya sinyal untuk menelepon, mengirimkan SMS, apalagi membuka media sosial. "Mengganggu produktivitas dan aktivitas warga sehari-hari,” katanya.

Sama seperti listrik, internet adalah elemen mendasar kehidupan manusia kini. Lebih dari 53 persen penduduk dunia hidup berdampingan dengan internet. Angka ini melonjak dari data pada 1995. Kala itu, kurang dari 1 persen penduduk dunia adalah pengguna internet.

Internet yang mati, yang disebabkan ketiadaan listrik seperti yang dialami Jabodetabek, mengakibatkan sistem informasi, telekomunikasi, hingga transaksi berbasis internet terganggu.

Pesawat dapat terbang tanpa internet. Begitu pula kereta, bus, hingga ojek. Namun, karena masyarakat lebih suka memesan perjalanan melalui Traveloka dan Tiket.com untuk pesawat dan kereta, serta RedBus untuk bus, serta GoJek dan Grab untuk ojek, sukar bagi moda transportasi itu beroperasi tanpa internet.

Pada 2018 lalu, sebagaimana disebutkan dalam blog “Life at Gojek,” Gojek memproses 3 juta pesanan setiap hari. Pada April 2019, Nadiem Makarim, Pendiri Gojek, menyebut bahwa perusahaannya memproses transaksi senilai $9 miliar pada 2018.

Ini berlaku pula di bidang transaksi. Internet jadi kunci kerja transaksi ATM dan kantor cabang perbankan. Selain itu, transaksi keuangan kini ditopang oleh OVO, GoPay, hingga LinkAja yang kesemuanya merupakan dompet digital dan jelas tergantung pada internet.

OVO sendiri, sebagaimana diwartakan KrAsia, memproses 250 ribu transaksi saban harinya. GoPay, disebutkan Nadiem, memproses 50 hingga 60 persen transaksi yang dilakukan Gojek pada 2017 lalu. Pada Desember 2017, ia mengklaim bahwa GoPay menyumbang 30 persen dari total transaksi uang elektronik di Indonesia. Kala itu, ada 104,4 juta transaksi uang elektronik di Indonesia. Artinya, GoPay menyumbang 31,3 juta transaksi uang elektronik Indonesia.

Selain itu, internet pun menopang kerja WhatsApp, Line, hingga WeChat, aplikasi-aplikasi yang menopang telekomunikasi kiwari. WhatsApp, menurut data Statista, digunakan untuk mengirim 65 miliar pesan per hari.

Kehilangan internet, membuat kehidupan yang tergantung pada Gojek, OVO hingga WhatsApp terganggu.

William Dutton, penulis buku Society and the Internet sekaligus pengajar pada Michigan State University, menyebut masalah terbesar hubungan manusia dengan internet ialah menerimanya begitu saja dan membiarkan internet menyusup ke hampir setiap aspek kehidupan. Sayangnya, masyarakat tidak memikirkan jika mereka tidak memiliki akses terhadap internet.

Ini penting. Internet, secara mendasar, tidak berdiri pada fondasi yang kokoh. Terdapat banyak hal yang dapat meruntuhkan internet, selain listrik mati seperti yang dialami Jabodetabek pada minggu ini.

Pada 2018, warga maya di Timur Tengah, India, hingga Asia Tenggara tidak dapat mengakses internet. Alasannya, kabel internet bawah laut terputus.



Hingga akhir 2016, Dwayne Winseck, dalam karya tulisnya yang berjudul “The Geopolitical Economy of the Global Internet Infrastructure,” mengatakan bahwa 99 persen lalu lintas internet menggunakan jaringan kabel. Lalu lintas internet tersebut ditopang oleh kabel sepanjang 1,3 juta kilometer, yang ditopang 356 perusahaan. Jika direntangkan di garis khatulistiwa, kabel internet tersebut dapat mengitari lingkaran bumi sebanyak 32 kali.

Selain itu, beberapa negara dunia memiliki “kill switches” internet. Pada 2011, ketika terjadi Arab Spring, beberapa negara mematikan internet agar warganya tidak menggalang kekuatan via media sosial. Mesir, Turki, hingga Iran, pernah dengan sengaja mematikan internet.

Terakhir, internet pun dapat dilumpuhkan melalui kerja penjahat maya. Herve Debar, peneliti pada Universite Paris-Saclay, dalam tulisannya di The Conversation, menyebut bahwa serangan distributed denial-of-service (DDoS), sebuah serangan dengan menciptakan permintaan (request) bertubi-tubi pada domain name server (DNS) dapat melumpuhkan internet. Sejarah menunjukkan hal ini. Tahun lalu, serangan DDoS yang menyasar DynDNS, sukses melumpuhkan sepertiga internet dunia.

Baca juga artikel terkait LISTRIK MATI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight