Hidup dengan Satu Ginjal

Infografik Jual Beli Ginjal
Operasi transplantasi ginjal. Foto/GettyImages
Oleh: Ahmad Khadafi - 1 Maret 2017
Dibaca Normal 3 menit
Kesimpangsiuran kabar pencurian organ Sri Rabitah memunculkan pertanyaan, bisakah manusia hidup dengan satu ginjal? Jawabannya: bisa. Tentu dengan syarat dan ketentuan.
tirto.id - Seorang buruh migran yang bekerja di Abu Dhabi bernama Sri Rabitah mengaku ginjalnya tinggal satu saat memeriksakan diri ke RSUD Tanjung, Lombok Utara pada awal Januari 2017. Kantor berita Antara yang dikutip Tirto, melaporkan bahwa Sri sempat menjalani operasi di Abu Dhabi tanpa sepengetahuannya.

Kabar inipun sudah dikomentari pemerintah daerah. "Dengan cara apa pun apakah pemerintah akan mengeluarkan uang atau kita akan membangun jaringan untuk menyelesaikan permasalahan ini," kata Bupati Lombok Utara Najmul Akhyar.

Namun, kabar yang sudah kadung heboh ini dianulir oleh Sri Rabitah sendiri, kemarin (28/2/2016).

"Saya ingin kasus ini dihentikan sampai di sini saja, ini salah paham, karena ginjal saya masih ada dua-duanya," kata Rabitah, seperti dikutip Antara.

Pihak RSUD Nusa Tenggara Barat juga menyampaikan hal serupa. "Dari hasil keterangan dokter yang memeriksa ginjal ibu Rabitah masih lengkap," ujar Wakil Direktur Pelayanan Medis RSUD NTB Rusdhy Hariawan Hamid.

Penyelundupan Ginjal

Di luar kesimpangsiuran kasus Sri Rabitah, memindahkan ginjal milik seseorang ke orang yang lain alias cangkok atau transplantasi bukanlah hal langka. Abdee personel Slank adalah contohnya. Abdee baru saja menjalani transplantasi setelah mengalami gagal ginjal. Tentu saja transplantasi organ tubuh semacam yang dialami Abdee harus didasari persetujuan kedua belah pihak, donor dan penerima. Namun, kerap terjadi hal ilegal, misalnya pencurian organ dan jual-beli organ.

Isu soal pencurian organ tubuh ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Pada Mei 2010, keluarga dari tiga TKI yang tewas di Malaysia—Herman, Mad Noor, dan Abdul Kadir Jaelani—melontarkan kecurigaan mereka ihwal pencurian organ tubuh korban. Mereka menyatakan tidak mempercayai hasil otopsi ulang yang diselenggarakan tim forensik Polri tiga jenazah korban penembakan di Negeri Sembilan, Malaysia.

Namun, pemerintah menampik kecurigaan itu. "Berdasarkan hasil otopsi yang sudah dilakukan terhadap ketiga jenazah tersebut, tidak terbukti adanya dugaan organ tubuh yang hilang," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa seperti dikutip Antara.

Kecurigaan ihwal pencurian ginjal sesungguhnya masuk akal. Harganya luar biasa mahal. Ada modus kejahatan penyelundupan organ tubuh. Menurut Havoscope, di Thailand dan Vietnam penjual ginjal "hanya" akan menerima uang $3-5 ribu (Rp40 juta-66 juta) dari perantara. Sedangkan pembeli ginjal harus menebus ginjal ke perantara mencapai $10 ribu (Rp133,58 miliar).

Jika angka tersebut masih kelihatan murah, tunggu sampai ginjal tersebut dijual di negara-negara maju seperti Singapura. Di pasar gelap, pasien di Singapura harus menebus sampai angka $300 ribu (Rp4 miliar). Artinya, di pasar gelap Internasional di kawasan Asia saja, ginjal bisa dibeli rata-rata mencapai angka $150 ribu atau mencapai Rp2 miliar. Lalu berapa uang yang diterima pendonor? “Hanya” berkisar di angka $5 ribu (65 juta rupiah). Tentu saja jika ginjal itu didapat lewat transaksi jual-beli, bukan pencurian.

Untuk kasus di Indonesia, harga beli ginjal yang dijual ada di kisaran Rp70-90 juta. Artinya, jika makelar ginjal mampu menjual di angka rata-rata harga pasar gelap, perantara bisa mendapatkan keuntungan sebesar $144 ribu (1,9 miliar rupiah). Ini jelas pembagian keuntungan yang sangat jomplang, mengingat pemilik ginjal adalah pihak yang paling besar menanggung risiko dan justru pihak ini yang paling sedikit menerima keuntungan.


Manusia Bisa Hidup dengan Satu Ginjal Sehat

Dalam Anatomi Tubuh Manusia (Daniel S. Wibowo, 2008: 59) disebutkan bahwa ginjal adalah organ yang paling sering dilewati darah selain otak. Dalam waktu satu menit, sekitar 20% darah manusia akan melewati ginjal untuk dibersihkan. Artinya ada sekitar 170 liter cairan setiap hari yang diolah ginjal. Dari seluruh cairan itu, 168,3 liter di antaranya akan diserap kembali oleh pembuluh darah dan sisa 1,7 liter dibuang sebagai air kencing. Angka ini bisa berubah sesuai kondisi tubuh.

Karena fungsi utamanya adalah untuk membersihkan racun dalam darah, di samping menyaring dan membersihkan darah, jika ginjal rusak maka tubuh akan diracuni oleh kotoran yang dihasilkan oleh tubuh sendiri. Menurut Dr. Albert M. Hutapea (2006: 197), seseorang yang mengalami gagal ginjal akan “kering” karena kekurangan cairan tubuh atau “tenggelam” karena kebanjiran cairan beracun dari tubuh.

Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner dalam Super Freakonomics (2010: 127-128) menunjukkan bahwa sejak cangkok ginjal sukses dilakukan Dr. Joseph E. Murray pada 23 Desember 1954, masyarakat awam melihat bahwa ilmu kedokteran sudah sampai pada tahap bisa mengupayakan mukjizat. Bagaimana mungkin organ segar bisa berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain dan bisa berfungsi dengan baik ketika dipindah?

Pada periode tersebut, ginjal baru bisa didapatkan dari korban kecelakaan lalu lintas yang meninggalkan organ dalam keadaan sehat. Kedengaran seperti melakukan daur ulang tubuh manusia memang. Masalahnya, penemuan ini segera menemui kendala baru. Kebutuhan transplantasi organ langsung melonjak karena muncul kesadaran bahwa cangkok organ manusia bisa menyelamatkan manusia dari akhir hidupnya.

Pada akhirnya, ketersediaan organ manusia tidak pernah mampu memenuhi kebutuhan. Apalagi masalah ini dihadapkan pada kenyataan menurunnya angka kematian akibat kecelakaan lalu-lintas pada periode setelah ditemukan kemungkinan transplantasi organ manusia. Bahkan menurut John Rogers dalam Medical Ethics (Herald Pres, 1988: 108), sejumlah keluarga pasien kadang berharap bahwa cuaca akan memburuk sehingga memungkinkan terjadinya banyak kecelakaan. Artinya, akan lebih banyak organ yang tersedia.

Dalam kasus organ ginjal, Levitt & Dubner (2010: 127) menyebut betapa beruntungnya manusia karena keberadaan dua ginjal adalah kenang-kenangan yang indah dari proses evolusi. Artinya, kebutuhan organ ginjal lebih memungkinkan untuk terpenuhi dibandingkan organ tubuh lain, karena bisa didapatkan dari manusia yang masih hidup.

Premis ini bisa dikuatkan dengan data dari laporan Organ Donation and Transplant Ireland (ODTI) pada 2015. Sebagai gambaran saja, di Irlandia, transplantasi organ manusia terbanyak masih dipegang transplantasi ginjal. Dari 2011-2015 rata-rata terjadi 135 kali operasi per tahun. Ini hampir tiga kali lipat lebih tinggi daripada peringkat kedua—transplantasi jantung—yang hanya berkisar 54 kali operasi per tahun.

Sekalipun begitu, operasi cangkok ginjal tak sesederhana yang dibayangkan. Ada proses yang rumit karena tubuh pendonor harus cocok dengan jaringan si penerima donor. Untuk hasil terbaik, donor yang paling cocok adalah saudara kembar. Itulah salah satu alasan kenapa operasi cangkok ginjal pertama yang dilakukan Dr. Joseph E. Murray pada 1954 berhasil. Pilihan terbaik berikutnya adalah saudara kandung, baru kemudian saudara sepupu.

Pada kasus pendonor yang tidak punya hubungan darah, biasanya tubuh penerima ginjal akan menolak jaringan asing yang masuk menjadi bagian dari tubuhnya. Karenanya, seringkali penerima donor ginjal harus meminum obat selama berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun untuk menekan reaksi penolakan tubuh terhadap organ baru tersebut.

Hal yang juga sering disalahpahami adalah, sifat dua ginjal yang ada dalam tubuh manusia bukanlah dibagi rata beban kerjanya. Ginjal ada dua karena yang satu menjadi cadangan bagi yang lainnya.

Artinya, jika salah satu ginjal tidak berfungsi atau diangkat, secara otomatis tubuh akan beradaptasi. Ginjal yang tersisa akan mengalami perubahan signifikan. Dalam rentang 3 sampai 5 bulan berat ginjal yang bekerja sendirian akan naik menjadi 250 gram—naik kira-kira 100 gram dari berat normalnya yang hanya 150 gram.

Itu sebabnya, orang rela mendonorkan atau menjual salah satu ginjalnya karena pada prinsipnya, ginjal akan tetap mampu berfungsi dengan baik sekalipun bekerja sendiri. Dengan satu ginjal, tubuh manusia bisa bertahan hidup untuk waktu yang panjang, walaupun aktivitas fisiknya tidak bisa seaktif orang dengan dua ginjal.

Baca juga artikel terkait PENCURIAN ORGAN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Khadafi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight