Harbolnas dan Sejarah Pasar di Jawa Tempo Dulu

Infografik Pasar jawa Tempo Dulu
Pasar Kliwon Soerakarta ca. 1930. FOTO/Wikicommon
Oleh: Irfan Teguh - 13 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Dalam tradisi Jawa, pasar tak sekadar tempat perniagaan, tapi juga semesta perlambang.
tirto.id - Pada Rabu (12/12/2018) kemarin, sebagian masyarakat Indonesia berlomba-lomba memburu barang murah. Sedari dini hari mereka memelototi kanal pedagang daring yang menjual barang-barang dengan potongan harga dan bebas biaya kirim.

Itulah yang ramai disebut Hari Belanja Online Nasional alias Harbolnas. Saban tahun Harbolnas digelar pada tanggal 12 Desember, dengan nama populer “12.12”. Acara besar ini selalu riuh oleh aktivitas perniagaan, terutama para pembeli yang beradu cepat dengan tenggat dan pembeli lain.

Harbolnas merupakan perayaan belanja daring yang belakangan menjadi keniscayaan tatkala teknologi kian meringkas jarak. Cukup jemari yang bergerak untuk melakukan transaksi dan interaksi penjual-pembeli diwakili angka dan teks yang terpampang di layar gawai.

Aman, nyaman, dan bisa dilakukan kapan saja—konon itulah tujuan yang hendak disampaikan kepada masyarakat lewat Harbolnas. Dalam konteks kepraktisan, pasar semacam ini bisa jadi adalah pilihan ideal di tengah masyarakat yang kian sibuk atau semakin menghendaki kemudahan. Namun di sisi lain, fenomena ini juga menegaskan bahwa secara sosial teknologi justru melebarkan jarak antarmanusia.

Pertemuan fisik yang memungkinkan untuk saling sapa, saling tawar, dan kemesraan sosial lainnya tak mudah dihadirkan oleh pasar yang meringkus perjumpaan. “Ada yang berubah, ada yang bertahan, karena zaman tak bisa dilawan,” kata Chairil Anwar.

Dengan mengambil contoh dari pasar di Jawa tempo dulu, kita bisa sedikit menggeledah: apa saja yang berubah dan apa saja yang bertahan dari pasar yang terus-menerus bergerak seiring masa.


Perjumpaan Lintas Teritorial

Pasar zaman dulu bergerak karena transportasi. Daerah perairan seperti sungai menjadi urat nadi yang menghubungkan para pedagang yang datang dari berbagai penjuru. Sungai juga menjadi jalur bagi orang-orang pesisir untuk datang ke pedalaman, dan sebaliknya.

Salah satu bukti sejarah yang mengafirmasi ini, seperti dicatat JJ Rizal dan kawan-kawan dalam Menguak Pasar Tradisional Indonesia (2012), setidaknya adalah penemuan prasasti Turyyan dan Muncan. Dua prasasti itu menerangkan bahwa Bengawan Solo dan Brantas dulu merupakan sungai-sungai yang digunakan untuk memperlancar lalu-lintas perniagaan. Karena transportasi air menjadi yang utama, maka pasar banyak tumbuh di sekitar daerah perairan ini.

Selain lewat sungai, transportasi melalui jalur darat juga digunakan para pedagang lain yang datang menaiki gerobak yang ditarik sapi atau kuda.

Dua jalur transportasi tersebut menggambarkan bahwa pasar tak hanya dihuni penduduk yang tinggal dalam satu wilayah, tapi juga diramaikan warga yang datang dari daerah lain—sebuah perjumpaan lintas teritorial.

“[…] kapwa ta sukha manah nikang maparahu samanghulu mangalap bhanda ri hujung galuh tka rikang para puhawang para banyaga sangka ring dwipantara (semua senang hatinya, orang-orang yang berperahu ke hulu untuk mengambil barang dagangan ke Hujung Galuh, [mereka yang] datang ke sana [ialah] para nakhoda [dan] para pedagang dari pulau-pula lain),” demikian sepenggal tulisan dalam prasasti Kamalagyan (1037 M), seperti dikutip Titi Surti Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-Masehi (2003).

Rizal dan kawan-kawan menambahkan, ada dua pasar berbeda yang tumbuh di Jawa saat itu. Pertama, kawasan berupa lapangan yang di dalamnya terdapat bangunan-bangunan semi permanen dan biasanya disebut sebagai pasar kerajaan. Kedua, pasar yang hanya berupa lapangan tanpa bangunan dan disebut sebagai pasar desa.

Sementara komoditas yang diperniagakan tentu terbatas sesuai dengan era itu. Beberapa di antaranya yaitu beras, rempah-rempah, buah-buahan, hewan ternak, ikan, kain, peralatan rumahtangga, alat-alat pertanian, dan lain-lain.

Semesta Simbol

Pasar dalam tradisi Jawa tak sekadar berwujud kegiatan jual-beli, tapi juga dilingkupi perlambang tentang hari-hari baik dalam menjalankan niaga.

Tradisi mancapat misalnya. Tradisi ini membentuk satu desa induk yang dikelilingi empat desa lain yang terletak di empat penjuru mata angin. Dari sinilah lahir nama-nama hari pasaran Jawa yang sampai hari ini kita kenal: Legi, Pahing, Wage, Pon, dan Kliwon.

Masih dalam buku yang sama, JJ Rizal dan kawan-kawan menjelaskan bahwa Legi diartikan sebagai tempat di timur dengan unsur udara dan memancarkan aura atau sinar putih. Pahing di selatan dengan unsur api dan memancarkan sinar merah. Wage di utara dengan unsur tanah dan memancarkan sinar hitam. Sementara Pon bertempat di barat dengan unsur air dan memancarkan sinar kuning. Dan Kliwon terletak di tengah dan memancarkan sinar mancawarna.

Simbol yang didasarkan pada arah mata angin ini ada pula yang berjumlah sembilan, artinya delapan penjuru mata angin ditambah tengah sebagai pusat.


Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya 3: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris (2018), simbol yang hadir di Jawa ini kerap dianggap sebagai pengaruh dari mitologi India yang menyebut nama-nama dewa penguasa keempat dan kedelapan penjuru mata angin. Namun, imbuhnya, mancapat memegang peran pokok dalam mentalitas orang Jawa karena berfungsi sebagai sistem klasifikasi.

“Pada setiap arah mata angin sesungguhnya terkait tidak hanya seorang dewa tetapi juga warna dasar, logam, cairan, hewan, sederet huruf, bahkan hari pekan,” tulisnya.

Oleh karenanya, tambah Lombard, makna-makna dalam hari pasaran Jawa sejatinya amat rumit karena mengandung ragam padanan arti. Bahkan ada beberapa kitab yang ia sebut sebagai “kesusastraan teknis” yang mengatur sistem perpadanan ini, di antaranya Sang Hyang Kamahayanikan (abad ke-11), Korawasrama (abad ke-16), dan Manikmaya (abad ke-18).

Arti pasaran Jawa seperti yang ditulis JJ Rizal dan kawan-kawan, menurut Lombard, hanyalah satu contoh rangkaian perpadanan dasar yang relatif mudah dipahami masyarakat.

Ia sendiri menuturkan bahwa timur berpadanan dengan warna putih, perak, santan. Selatan dengan warna merah, tembaga, darah. Barat dengan warna kuning, emas, madu. Utara dengan warna hitam, besi, nila.

“Akhirnya, pusat (Kliwon) yang seakan-akan sintesis dari keempat arah mata angin dan yang meringkaskan sifat-sifatnya, berpadanan dengan warna-warni, perunggu (yang merupakan logam campuran) dan air yang mendidih (wedang),” imbuhnya.



Meski simbol mata angin ini kerap dianggap sebagai pengaruh dari mitologi India, tapi L.C. Damais dalam Etudes javanaises III: A propos des couleurs symboliques des points cardinaux (1969) seperti dikutip Lombard, membantahnya dengan menyebutkan bahwa sistem menurut arah mata angin dan lima warna dasarnya adalah bersifat Nusantara, dan tak ada hubungannya dengan simbol India maupun kebudayaan lain seperti Cina.

Kemudian saat pengaruh Islam masuk, warna-warna ini diberi makna moral. Putih sebagai ketenangan batin (mutmainah), merah sebagai kemarahan (amarah), kuning simbol keinginan (supiyah), dan hitam sebagai kecemburuan (lawamah).

“Dan waktu bangsa Eropa memperhatikan sistem yang rumit dan memukau ini, mereka tidak syak membaca tanda salib pada mancapat dan ingat Santo Jerom atau Santo Ireneus yang menjelaskan bahwa keempat Kitab Injil berkaitan dengan keempat mata angin,” tulisnya.

Dari pelbagai keterangan ini tampaklah bahwa pasar, dalam hal ini pasar di Jawa baheula, tak sekadar urusan perniagaan, tapi juga kristalisasi perlambang, bahkan menjadi narasi yang dilekatkan kepada kekuatan tertentu yang secara bergantian menguasai Jawa.

Kiwari, khususnya dalam perniagaan daring, pola interaksi pasar jelas telah mengalami perubahan besar-besaran. Keadaan ini mengubah pula struktur sosial yang telah bertahan ratusan tahun. Chairil Anwar benar: zaman memang tak bisa dilawan.

Baca juga artikel terkait HARBOLNAS atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irfan Teguh
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight