Glenn Fredly Semasa Hidup: Menolak RUU Permusikan & Sahabat Aktivis

Oleh: Zakki Amali - 8 April 2020
Dibaca Normal 1 menit
Musisi Glenn Fredly terlibat dalam aktivisme sosial dan menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dalam karyanya.
tirto.id - Glenn Fredly menapaki karir sebagai musisi pada 1995. Dalam mengarungi dunia musik ia kerap terlibat aktivisme sosial mulai dari kebebasan berkespresi hingga lingkungan.

Sebuah konser yang digelar di Hard Rock Cafe Bali pada Oktober 2013, Glenn menunjukkan solidaritasnya kepada gerakan masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Saya mendedikasihan konser malam ini untuk sebuah move anak-anak muda di Bali. Saya lihat ketulusan movement itu dari cara mereka menyampaikan pesan. Tidak terkesan menggurui. Datang dari hati. Movement itu bernama saya buka baju,” katanya sebelum menyanyi. Kaos yang dikenakan tertulis ‘Tolak Reklamasi Bali

Ia membuktikan diri sebagai sahabat aktivis. Mantan suami selebritas Dewi Sandra ini kembali lagi ke Bali empat tahun berikutnya pada 2017 dengan ikut dalam konser bertajuk United We Loud yang membawa misi penolakan reklamasi Bali.

“Saya sebagai pendatang. Kalian bisa bersenang-senang di Bali, kalian juga punya tanggung jawab menjaga Bali,” katanya.

Keterlibatannya dalam aktivisme di antaranya mewujud dalam sinematografi bertema toleransi. Bersama Angga Dwimas Sasongko, Glenn memproduseri film Filosofi Kopi dan Cahaya dari Timur: Beta Maluku yang diganjar penghargaan di Festival Film Indonesia 2014. Lagunya Sabda Rindu dan Nyali Terakhir jadi elemen utama film Surat dari Praha.


Glenn lahir di Jakarta, 30 September 1975 atau 45 tahun silam. Ia kini meninggalkan seorang istri, Mutia Ayu dan seorang anak perempuan. Glenn Berbagai karyanya mewarnai belantika musik Indonesia. Beberapa seperti Happy Sunday (2007); Private Collection (2008); Lovevolution (2010); Luka, Cinta, dan Merdeka (2012); hingga Romansa Ke Masa Depan (2019).

Dalam dunia musik, sumbangsihnya tak terbatas lagu. Ia ikut bagian dalam penolakan rancangan undang-undang (RUU) Permusikan yang berujung kemenangan musisi. DPR RI akhirnya mengurungkan niat pembahasan RUU.

Dalam wawancara khusus dengan Tirto pada Februari 2019, Glenn menyampaikan kekecewaannya kepada tim perumus RUU, kendati sejak tahap perancangannya pada 2015 telah dimintai pendapatnya.

“50 tahun musik Indonesia ini, yang kelewat adalah penghitungan dan pengelolaan industri. Ada yang di depan sekarang hanya bisnisnya saja. Ini bikin gap makin besar antara musisi sejahtera dan tidak. Ini yang bikin apatisme musisi terbentuk dengan sendirinya, maka ada kesan elitis. Kalau ada bahasa termarjinalkan, saya termasuk ke situ. Masalah keberimbangan kontrak yang masih saya perjuangin hingga hari ini,” kata Glenn.

Kini, Glenn berpulang untuk selama-lamanya karena sakit pada 8 April 2020. Selamat jalan Glenn. Karya dan aktivismemu abadi.


Baca juga artikel terkait GLENN FREDLY MENINGGAL DUNIA atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Zakki Amali
Editor: Abdul Aziz
DarkLight