Gaun Pengantin Maia Estianty yang Anggun Itu Rancangan Olive

Oleh: Joan Aurelia - 1 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Maia Estianty dan Olive, desainer busana pengantinnya, punya gaya favorit sama: Harajuku.
tirto.id - Menikah dengan Irwan Mussry, pendiri grup retail Time International yang menaungi distribusi lini fesyen Chanel di Indonesia, ternyata tidak membuat Maia Estianty mengenakan label busana asal Paris di hari pernikahannya. Maia memilih untuk memakai gaun rancangan Olive, kawan sekaligus desainer langganannya.

Untuk Maia, Olive menciptakan desain busana pengantin yang serupa dengan gaun pernikahan Grace Kelly yang dilangsungkan pada 1956. Gaun tersebut bisa dikatakan jadi model gaun pengantin yang cukup sering diadaptasi sampai hari ini. Sosok terkenal yang pernah dianggap meniru model gaun tersebut ialah Kate Middleton.

Sejak saat itu, desain gaun lengan panjang berbahan lace ini bagai lahir kembali dan menjadi tren di kalangan pengantin wanita. Bentuk busana yang tertutup membuat desain gaun ini ‘aman’ dikenakan oleh orang dari segala usia dan tetap bisa memberi kesan elegan meski dikenakan orang dengan berbagai bentuk tubuh.

Olive memodifikasi model busana Grace Kelly itu dengan membiarkan bagian rok berpotongan lurus. Ini berbeda dengan gaun Grace yang membentuk siluet ball gown pada rok. Model rok itu juga berbeda dengan gaun Kate yang memiliki ekor dengan panjang lebih dari satu meter. Potongan busana pengantin Maia membuat gaun pernikahan tetap terkesan sederhana.

Hal itu tampak cukup berbeda dari gaya asli Maia dan Olive. Linimasa akun Instagram Olive diisi potret busana warna-warna nuansa pastel. Beberapa bulan ke belakang, ia kerap menaruh sosok-sosok kartun seperti Sailormoon dan The Simpsons sebagai detail pada busana. Ia menjadikan wajah-wajah tokoh kartun itu sebagai emblem yang ditempel pada beberapa bagian busana.

Ada kalanya ia membuat busana pada kain bermotif ikon budaya populer mulai dari aktris Twiggy atau gambar cokelat M&Ms. Motif lain yang juga pernah jadi emblem ialah cupcakes dan unicorn. Gambar-gambar itu ditempel pada busana seperti setelan jas dan terusan yang dibuat dari kain tule atau lace.


Desain tersebut mengingatkan pada fesyen Harajuku, istilah bagi ragam gaya eksentrik wanita muda Jepang yang berkumpul di kawasan Harajuku. Quartz menginformasikan bahwa pada akhir tahun 1990an, pemerintah Jepang menerapkan kebijakan bebas kendaraan bermotor pada beberapa area di Harajuku.

Hal tersebut membuat Harajuku jadi tempat berkumpul para kaum muda yang gemar bergaya. Pada kurun waktu yang sama, muncul lini busana yang turut menentukan gaya street style di negeri tersebut.

“Awalnya gaya yang populer di Jepang ialah gaya dekonstruktif seperti karya desainer Vivienne Westwood, Rei Kawakubo, dan Yohji Yamamoto. Tetapi ternyata para wanita punya gaya yang berbeda. Mereka menciptakan gaya sendiri salah satunya dengan memadukan elemen budaya Barat. Ini ialah bagian dari sejarah fesyen Jepang,” kata Aoki, fotografer jalanan Harajuku dan pendiri FRUiTS, majalah yang menampilkan potret wanita Harajuku.

Ragam gaya yang populer di antaranya ialah Lolita, Ouji, dan Decora. The Rebel Fashion Guide menyebut Lolita ialah gaya busana feminin yang tercipta dari terusan megar selutut yang serupa dengan gaun era Victoria di Eropa. Busana tersebut dibuat dengan warna muda seperti merah muda dan peach. Dilengkapi aksen mutiara dan motif benda-benda yang memberi kesan kekanak-kanakan.

“Tema busana ini biasanya ialah bunga-bunga, renda, dasi, atau warna pastel. Sebagai gambaran, Lolita direpresentasikan oleh Alice in Wonderland,” tulis Clifford Petriv.

Ouji ialah versi maskulin Lolita. Istilah tersebut merujuk pada gaya busana berupa setelan jas dan kemeja dari renda dengan aksen volume pada lengan dan bagian celana. Sementara Decora ialah sebutan bagi padu padan busana dengan berbagai motif dan warna vibran.

Infografik Busana Pengantin Maia


Tiga gaya tersebut ialah gaya busana yang diterapkan Maia sejak ia tampil di muka publik bersama Ratu. Maia membentuk duo Ratu pada tahun 1999. Saat duet dengan Pingkan Mambo, Maia beberapa kali terlihat menerapkan gaya Ouji pada video musik mereka.

Sekitar awal tahun 2000an, saat duet bersama Mulan, Maia memadukan berbagai jenis gaya Harajuku. Itu tercermin dalam video klip “Di Dadaku Ada Kamu” dan “Lelaki Buaya Darat”. Ada kalanya Maia memodifikasi tren pra-Harajuku lewat gaya menggunakan celana atau rok mini tartan, kaos putih dengan hiasan tulisan, serta biker jacket dekonstruktif. Seperti yang nampak pada video musik “Teman Tapi Mesra”.

Pada tahun-tahun tersebut, Maia dan Olive sudah berkawan. Mereka punya gaya serupa. Beberapa hari sebelum pernikahan Maia, Olive menyebut bahwa ia sudah mendesain ribuan busana untuk Maia. Bentuknya memang beragam. Untuk acara Royal Ascott dan acara Lebaran, Olive membuat gaun renda.

Untuk acara lebih santai, ia menciptakan terusan Lolita berwarna merah muda. Untuk penjurian Indonesian Idol, ia menciptakan kesan yang lebih kuat lewat setelan jas dan celana. Benang merahnya, semua berangkat dari gaya Harajuku.

Kini, di tempat asalnya, gaya tersebut sudah jarang ditemukan. Ini terjadi sejak masuknya retail seperti Uniqlo. Yuniya Kawamura, Profesor Sosiologi, Fashion Institute of Technology New York berkata bahwa kini anak muda merasa tidak tertarik untuk menjadikan fesyen sebagai sarana untuk menyampaikan ideologi. Tidak seperti pada akhir 90an di mana ragam gaya busana nampak sebagai subkultur.

Akhirnya, pemelihara gaya tersebut ialah orang-orang seperti Olive dan Maia. Sosok yang gemar bereksperimen dan menciptakan gaya eklektik. Sosok yang tidak takut kalau gayanya akan dicap aneh atau memusingkan.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Maulida Sri Handayani