Periksa Fakta

Foto Perempuan Dirantai Diklaim Terjadi di Afghanistan, Benarkah?

Oleh: Irma Garnesia - 31 Agustus 2021
Dibaca Normal 2 menit
Murat Düzyol mengambil foto tersebut pada 2003. Pada waktu-waktu tersebut, ia sering mengunjungi Irak.
tirto.id - Afghanistan telah jatuh ke tangan kelompok militan Islam, Taliban sejak 15 Agustus 2021. Hanya butuh 10 hari bagi kelompok itu untuk menguasai 26 dari 34 ibu kota provinsi dan juga menguasai Istana Kepresidenan Afghanistan di Kabul, seperti diberitakan Al Jazeera.

Setelah kemenangan tersebut, pada 18 Agustus 2021 lalu, Taliban berjanji untuk menghormati hak-hak perempuan, memaafkan orang-orang yang memerangi mereka, dan memastikan Afghanistan tidak menjadi surga teroris, seperti dilaporkan oleh Associated Press (AP).

Namun, secara historis, ketika Afghanistan dikuasai Taliban dua dekade lalu, mereka mengurung wanita di rumah, melarang televisi dan musik, dan melakukan eksekusi di tempat umum, menukil dari laporan AP. Kekuasaan Taliban baru tergeser setelah adanya invasi yang dipimpin oleh Amerika Serikat pasca serangan 11 September 2001. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang tak percaya soal klaim ini dan berusaha kabur dari negara tersebut.

Ketidakpercayaan orang-orang terhadap Taliban diperparah dengan foto-foto yang tersebar di media sosial. Tirto sempat membahas mengenai foto seorang perempuan yang ditembak oleh kelompok Taliban karena keluar rumah tanpa mengenakan burqa. Foto ini nyatanya diambil pada tahun 2019.

Kali ini, informasi serupa kembali beredar. Akun Twitter @crzygautam (arsip) mengunggah foto yang menunjukkan beberapa perempuan yang diduga berjalan dengan rantai yang ditarik oleh seorang pria. Narasi foto yang dibuat akun @crzygautam menyatakan bahwa di bawah kekuasaan Taliban pada tahun 1990-an, seorang suami bisa punya dua hingga tiga istri di Afghanistan. Ia juga menyebut bahwa kaki para istri ini juga dirantai.

Periksa Fakta Foto Perempuan Dirantai di Afghanistan
Periksa Fakta Foto Perempuan Dirantai Diklaim Terjadi di Afghanistan. Twitter/Gautam Singh


Akun yang disebutkan mengunggah foto tersebut pada 16 Agustus 2021.

Kemudian, bagaimana fakta dari foto ini?


Penelusuran Fakta

Tirto menemukan bahwa foto yang diunggah akun @crzygautam tak diambil pada tahun 1990-an. Foto tiga wanita dan seorang pria yang berjalan itu diambil pada 2003 oleh fotografer bernama Murat Düzyol dan mulai tersebar secara online pada 2006 melalui situs komunitas fotografi TrekEarth (arsip), seperti dilaporkan oleh Reuters.

Foto yang ditampilkan di situs TrekEarth juga tidak menunjukkan perempuan-perempuan tersebut berjalan dirantai.

Murat Düzyol, fotografer dari foto ini, mengatakan pada AP dan Reuters bahwa pada waktu-waktu tersebut, ia sering mengunjungi Irak. Di hari foto tersebut diambil, Murat menyatakan pada AP bahwa ada sebuah upacara untuk memperingati penduduk Irak yang terbunuh di kota Erbil.

"Ketika orang-orang kembali ke rumah mereka setelah upacara, komposisi tersebut secara random telihat di jalan. Foto tersebut adalah foto yang diambil secara instan dan benar-benar natural," kata Murat melalui sebuah surel. "Para perempuan tersebut terlihat jelas mengenal satu sama lain, tapi saya tidak yakin apa mereka mengenal laki-laki itu."

Sayangnya, pemeriksa fakta dari AP, Reuters dan Alt News Hindi melaporkan bahwa foto tersebut disalahartikan sebagai pengekangan terhadap hak-hak perempuan oleh Taliban. Meski begitu, perkembangan mengenai aturan-aturan Taliban yang akan mempengaruhi perempuan di Afghanistan masih dipantau oleh berbagai pihak.

Perlu diketahui bahwa Taliban pada 25 Agustus 2021 telah meminta para wanita yang bekerja di Afghanistan untuk tetap tinggal di rumah hingga sistem untuk memastikan keamanan mereka telah terbentuk, seperti dilansir dari BBC. Kebijakan ini disebut bersifat temporer.
Perlu diketahui bahwa unggahan @crzygautam juga dinyatakan sebagai “Manipulated Media” oleh Twitter. Menurut peraturan dan kebijakan platform itu, Twitter akan melabeli suatu cuitan sebagai “Manipulated Media” apabila; 1. Konten tersebut dimanipulasi secara visual, ditambah atau dikurangi maknanya lewat pengeditan suara, atau pengeditan wajah seseorang/fabrikasi identitas pada video/foto; 2. Foto/video dibagikan dengan konteks/narasi yang berbeda dari kejadian sebenarnya; 3. Konten dapat mempengaruhi keamanan publik hingga menciptakan bahaya serius.

Twitter akan melabeli suatu cuitan yang memiliki unsur-unsur tersebut sebagai “Manipulated Media”, mengurangi visibilitas konten tersebut di linimasa, dan menyertakan tautan-tautan klarifikasi terkait konten tersebut. Perusahaan teknologi ini telah bekerjasama dengan lembaga pemeriksa fakta Associated Press dan Reuters sejak Agustus 2021 untuk mengatasi permasalahan terkait misinformasi, seperti dikutip dari Reuters.

Kerjasama ini sedikit berbeda dengan pemeriksaan fakta yang dilakukan platform Facebook, yang melakukan pengecekan fakta lewat organisasi media yang diakreditasi lewat International Fact-checking Network (IFCN). Tirto merupakan salah satu media yang diakreditasi sebagai pemeriksa fakta Facebook oleh IFCN.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, foto perempuan-perempuan yang berjalan dengan dirantai oleh seorang pria di Afghanistan pada 1990-an bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading). Foto tersebut diambil pada 2003 di Irak, ketika warga tengah memperingati upacara atas warga sipil Irak yang terbunuh di kota Erbil. Rantai yang terlihat di foto merupakan hasil manipulasi visual.


==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6288223870202. Apabila terdapat sanggahan ataupun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Politik)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty
DarkLight