Diet Keto, Tren Baru Melangsingkan Badan

Oleh: Aditya Widya Putri - 8 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Diet Keto sedang tren dilakukan para perempuan urban. Manfaatnya dipercaya dapat menurunkan berat badan secara signifikan, bahkan pengidap epilepsi anak-anak disarankan memakai cara diet ini.
tirto.id - Layaknya tren warna pada gincu atau model fashion yang selalu berubah demi memenuhi hasrat wanita menjadi cantik, program diet agar langsing juga ikut bermetamorfosis. Macam-macam diet ini menawarkan perubahan bentuk badan tercepat.

Dulu, diet golongan darah pernah sempat hits dan diterapkan oleh sejumlah nama papan atas, menyusul kemudian di Indonesia, diet OCD yang dipopulerkan oleh Deddy Corbuzier atau diet mayo yang digawangi Dian Sastro. Kini muncul diet ketogenik atau yang lebih populer disebut diet keto sebagai tren jenis diet baru.

Diet keto menekankan pola asupan tinggi lemak, tapi rendah karbohidrat. Ia menerapkan pola makan rendah karbohidrat dan mengandalkan lemak serta protein hewani sebagai sumber energi utama dalam tubuh. Asupan karbohidrat yang berkurang drastis ini akan menyebabkan tubuh kekurangan karbohidrat dan gula, proses inilah yang disebut dengan ketosis.

Saat berada dalam fase ketosis, tubuh secara otomatis akan beradaptasi menjadi lebih efisien. Liver akhirnya menghasilkan keton sebagai bahan bakar untuk memecah asam lemak dan trigliserida sebagai sumber energi ke otak. Prinsip kerja diet ini hampir sama dengan diet Atkins atau diet rendah indeks glikemik.

Cara Diet Penderita Epilepsi

Diet keto tadinya muncul sebagai perawatan bagi para pasien epilepsi. Tulisan pada jurnal Clinical Nutrition Research yang diterbitkan Januari 2016 lalu mengenai diet ketogenik untuk anak epilepsi, menyebutkan penelitian diet keto yang dilakukan di Rumah Sakit Severance terbukti benar dapat mengurangi penderita epilepsi pada anak.

Selain diet keto, rumah sakit ini juga menerapkan diet Atkins dan diet rendah indeks glikemik untuk 802 pasien. Sebanyak 489 pasien atau sekitar 61% diterapkan pola makan diet keto, 147 pasien atau 18,3% memakai diet Atkins, dan 166 pasien atau 20,7% menggunakan diet rendah indeks glikemik.

Perawatan epilepsi menggunakan diet keto terbukti lebih manjur dibandingkan dengan perawatan dengan anti-epilepsi dengan pengobatan, operasi, atau simulasi saraf vagal. Dengan menggunakan beragam perawatan tadi sebanyak 30% anak-anak tetap menunjukkan gejala kejang. Namun, dengan diet keto gejala kejang anak dapat berkurang hingga 50-60%. Sedang 15% lainnya bahkan sembuh dari kejang setelah menjalankan program diet selama 6 bulan.

Penerapan diet keto sebagai perawatan pada penderita epilepsi dimulai pada tahun 1920-an. Diet keto dapat menyembuhkan penyakit kejang karena pada prosesnya juga menghasilkan senyawa bernama asam dekanoat yang berfungsi meringankan gejala kejang.

Walau sudah terbukti meringankan, penerapan diet keto untuk epilepsi tetap harus berada di bawah pengawasan dokter spesialis epilepsi dan seorang ahli gizi. Sebabnya, tidak semua orang dapat menerapkan treatment diet keto untuk kesehatan.

Diet ini terbukti dapat meringankan penderita epilepsi mioklonik astatic, sindrom dravet, kejang infantil, penderita tuberous sclerosis, serta anak-anak yang alergi terhadap produk susu. Sementara itu, untuk rentang usia, beberapa klinik menawarkan treatment diet keto untuk anak-anak usia 12 bulan. Namun beberapa spesialis lain juga menawarkan treatment untuk usia yang lebih muda.

Pada awal penerapan diet, mungkin beberapa pasien akan mengeluhkan efek samping dari dampak adaptasi metabolisme tubuh yang dinamakan healing crisis. Sembelit, merupakan masalah utama yang sering dikeluhkan. Hal ini terjadi karena tubuh membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memecah lemak dibanding karbohidrat.

Di samping itu, beberapa pasien lain juga mengeluhkan rasa lapar yang luar biasa, muntah, serta kekurangan energi di awal pengobatan. Namun, setelah melewati fase tersebut, banyak anak melaporkan mengalami peningkatan energi.

Infografik Diet Ketogenci

Pro-Kontra


Meskipun telah terbukti mampu meredakan sakit epilepsi pada anak-anak, penerapan diet ini untuk orang dewasa masih menuai pro-kontra. Diet keto tidak dianjurkan untuk orang dewasa, karena menyebabkan pilihan makanan menjadi terbatas. Sementara orang dewasa membutuhkan asupan energi yang lebih banyak karena aktivitasnya juga lebih tinggi.

dr. Diana Sunardi, M. Gizi, SpGk secara medis tidak menyarankan dilakukannya diet keto karena alasan tersebut. Ia lebih condong menerapkan pola makan gizi seimbang agar asupan gizi pada tubuh tetap terjaga.

“Saya bukan pada posisi menyarankan itu. Tidak pro karena kita makan harus dengan gizi seimbang,” katanya kepada wartawan Tirto.

Lebih lanjut dr. Diana mengatakan dengan mengurangi asupan zat tertentu secara terus menerus, maka tubuh akan kekurangan zat gizi. Sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif.

“Memang sudah ada penelitian positif yang menyatakan diet ini untuk pengobatan epilepsi. Tapi belum ada kesepakatan menyeluruh yang mengarah ke sana, jadi masih harus terus dikaji.”

Meski menuai pro-kontra, di Indonesia sendiri, penerapan diet ini cukup bisa dibilang populer. Mulai dari selebriti hingga para ibu rumah tangga berlomba-lomba berdiet keto. Adalah Wulan Soedarto, salah seorang ibu rumah tangga yang baru saja menerapkan diet keto ini sejak awal bulan Februari lalu.

Kepada Tirto, ia mengungkapkan diet ketonya telah menunjukkan hasil memuaskan. Badannya jauh terasa lebih sehat dan bugar, bonus manis, tentu berat badan yang menurun signifikan, 12 kg.

Pengetahuan pertamanya tentang diet keto didapat dari membaca protokol ketofastosis pada situs ketofastosis.com. Karena penjelasan dalam situsweb tersebut dianggap masuk akal dan mudah dijalankan, mulailah ia melakukan diet keto bersama sang suami.

“Target jangka pendek saya memang ingin menurunkan berat badan karena obesitas sehingga gampang sakit dan mudah lelah,” katanya.

Dalam menjalankan diet, Wulan juga tak ribet dengan aksi takar-menakar gizi. Ia cukup mengira-ngira jumlah makanan yang dikonsumsi, intinya cukup tinggi lemak dan rendah karbo. Sedangkan pengawasan dietnya dilakukan bersama komunitas pelakon diet keto di Jogja.

Dalam komunitas tersebut terdapat pakar gizi, dokter, penanggung jawab dan senior yang akan mendampingi program diet keto para pemula. Di awal program diet, Wulan menceritakan sempat mengalami healing crisis berupa sakit punggung, namun hal tersebut diatasi dengan konsumsi magnesium.

“Tetapi, setelahnya kita merasa lebih sehat. Suami juga turun beratnya 13 kg, gatal karena alergi tidak pernah kambuh lagi, sudah jarang sekali pusing dan sakit pinggang. Padahal biasanya langganan obat sakit kepala.”

Jadi berniat diet? Pastikan jenis diet yang dipilih sesuai dengan kondisi tubuh Anda!

Baca juga artikel terkait DIET atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani