Deepfake dan Pentingnya Hidup Berdampingan dengan Kebohongan

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 4 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Maraknya disinformasi di media sosial beberapa tahun terakhir adalah hal biasa. Deepfake membuatnya luar biasa.
tirto.id - Sudah bukan hal baru bahwa disinformasi (atau “berita bohong”) telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat hari ini.

Pada Jumat (1/2) lalu, Facebook mengumumkan telah menghapus 207 laman, 800 akun, 546 grup serta 208 akun Instagram yang memiliki hubungan dengan Saracen. Kebijakan ini diambil setelah Facebook melakukan analisis mengenai Perilaku Tidak Otentik yang Terorganisir (Coordinated Inauthentic Behavior/CIB).

Saracen adalah sebuah sindikasi yang melakukan penyebaran konten ujaran kebencian di Indonesia. Adapun CIB merujuk pada aktivitas ketika sekelompok aktor dalam ekosistem Facebook bekerja bersama-sama untuk mengelabui orang mengenai siapa mereka dan apa yang mereka lakukan.

“Hal ini dapat dilakukan untuk tujuan ideologis atau motivasi finansial tertentu,” jelas Head of Cybersecurity Policy Facebook Nathaniel Gleicher dalam laman resmi Facebook.

Ia menambahkan, penghapusan jaringan dalam konteks ini hanya mempertimbangkan perilaku yang bersifat ‘menipu’ dan tidak berkaitan dengan konten yang disajikan oleh jaringan aktor yang terlibat di dalamnya.

Metode penghapusan dengan melihat perilaku ini menjadi pelengkap dari sejumlah upaya (termasuk melalui kecerdasan buatan dan content reviewer) Facebook untuk memerangi masalah manipulasi dan disinformasi yang membelit perusahaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan demikian, Facebook kini memiliki beberapa tim dengan dua pendekatan yang berbeda untuk menangani disinformasi, yakni melalui analisa CIB dan analisis konten.


Di hadapan para wartawan di Jakarta, Gleicher menjelaskan bahwa melalui analisa CIB ini, Facebook telah melakukan langkah penghapusan sebanyak sekitar 20 kali dalam kurun waktu setahun terakhir di seluruh belahan dunia.

Dalam kasus tertentu, Facebook dapat melakukan penghapusan total atas organisasi atau aktor yang berada di balik perilaku ‘jahat’ tersebut dan melarangnya untuk mengakses platform Facebook.

“Itulah yang kita lakukan di sini [Indonesia]. Kita telah menghapus semua aset yang teridentifikasi berkaitan dengan grup Saracen dari platform [Facebook] karena kita melihat mereka [Saracen], dalam cara yang sistematis, utamanya terlibat dalam melakukan apa yang kita sebut dengan CIB,” jelas Gleicher.

Upaya Facebook jelas vital jika melihat dahsyatnya dampak buruk disinformasi yang bersliweran di media sosial. Pasalnya, Facebook adalah media sosial dengan jumlah pengguna terbesar di dunia.

Laporan keuangan tahunan Facebook 2018 menyebutkan, pengguna platform tersebut mencapai 2,32 milyar per Desember 2018 dengan peningkatan sebesar 9 persen year-on-year (y-o-y). Ini belum menghitung pengguna Instagram, WhatsApp dan Messenger yang merupakan bagian dari keluarga Facebook. Setidaknya lebih dari dua milyar orang secara rerata menggunakan salah satu layanan Facebook tersebut setiap harinya.

Sebagai catatan, jumlah pengguna aktif Twitter per bulan pada kuartal tiga 2018 hanya mencapai 326 juta pengguna.


Potensi Deepfakes

Sayangnya, meski telah berhasil mengidentifikasi penyebaran disinformasi, perkembangan teknologi bergerak ke arah penciptaan realitas buatan yang makin terlihat (dan terdengar) nyata.

Potensi buruk terbesar dari situasi ini, tulis Robert Chesney dan Danille Citron dalam esai mereka di Foreign Affairs, adalah bangkitnya deepfake, yakni produk manipulasi audio dan visual secara digital yang terasa nyata dan sulit untuk dipastikan keasliannya.

Deepfake melibatkan salah satu bentuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dikenal sebagai deep learning. Dalam kasus deepfake, yang digunakan adalah salah satu bentuk deep learning di mana sepasang algoritma disandingkan di dalam sebuah ‘jaringan adversarial generatif’.

Dalam jaringan itu, algoritma pertama (generator) menciptakan konten berdasarkan data asal. Sementara algoritma kedua (discriminator) mencoba mencari konten buatan yang dibikin oleh algoritma pertama.

Contoh sederhananya bisa dijelaskan sebagai berikut. Algoritma pertama, misalnya, membuat gambar seekor kucing dari data asal sebuah gambar kucing sungguhan. Algoritma kedua kemudian mencoba mencari gambar kucing yang terlihat palsu.

Kedua algoritma yang aktif dalam proses deep learning itu akan secara konstan saling mempelajari satu sama lain. Proses ini kemudian menghasilkan penyempurnaan yang sangat cepat. Inilah yang kemudian membuat ‘jaringan adversarial generatif’ dapat memproduksi konten video dan suara yang sangat realistis, meskipun kenyataannya palsu.


Salah satu kemungkinan skenario berbahaya deepfake, sebut Chesney dan Citron, adalah ketika terdapat video dengan aktor politik berpengaruh di dalamnya mengalami manipulasi. Dengan deepfake, tulis Chesney dan Citron, video dapat dengan mudah direkayasa dengan hanya bermodalkan laptop dan akses ke internet.

“Lebih buruk lagi, sarana untuk membuat deepfake sangat mungkin berkembang dengan cepat ... layanan deepfake komersial dan gratis bahkan sudah mulai bermunculan dengan bebas di pasar,” tulis Chesney dan Citron dalam “Deepfakes and The New Disinformation War”.

Keduanya tidak membual. The Verge, misalnya, pernah mencoba untuk melakukan proses pembuatan deepfake melalui program bernama FakeApp. Meskipun hasilnya buruk, mereka memberikan contoh sebuah video yang berhasil memanfaatkan teknologi ini. Dalam video tersebut, tampak aktor Nicholas Cage sedang beraksi dalam perannya sebagai Indiana Jones.

Selain FakeApp, ada pula Face2Face yang memanfaatkan teknologi pengenalan ekspresi wajah dan AI. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan Guardian, dijelaskan betapa mudahnya memanipulasi pidato Barack Obama melalui program Face2Face.

Selain manipulasi video, program manipulasi audio juga sudah tampak sejak tahun 2016 melalui proyek VoCo dari Adobe, perusahaan ternama di bidang pengeditan video dan gambar profesional seperti Photoshop.

Masa Depan yang Tak Tentu

Facebook sendiri tidak dapat menjamin masa depan yang bebas dari ancaman deepfake. Gleicher mengatakan bahwa kendati Facebook sudah melihat adanya kemajuan dalam penanganan manipulasi media (video, audio serta gambar) dalam platform mereka, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibereskan.

“Kami mengkombinasikan beberapa alat. Kami mulai melihat kemampuan untuk mengatasi beberapa tantangan dari manipulasi media yang ada. Tapi, sejujurnya, media yang dimanipulasi adalah tantangan serius dan semua pihak harus bekerja sama,” kata Gleicher.

Facebook memiliki tim teknis yang secara khusus bekerja untuk membangun sistem pendeteksi otomatis untuk menelisik konten yang telah direkayasa. Namun, Gleicher juga memberikan catatan bahwa rekayasa sulit dideteksi secara otomatis.

Karena itulah Facebook juga bekerja sama dengan pemeriksa fakta. Mereka inilah yang menurut Gleicher memegang peranan penting dalam memastikan keaslian konten yang beredar di media sosial.

Infografik Deepfake
Infografik Deepfake & Gemilangnya Masa Depan Fake News


Setelah proses pemeriksaan fakta, barulah Facebook mampu menempatkan konten-konten tersebut pada urutan paling bawah dari newsfeed dan mengurangi pendistribusiannya.

“Ini langkah yang sangat penting untuk mengurangi tingkat keterpaparan dan interaksi orang dengan informasi-informasi yang salah itu,” ujar Gleicher.

Demikian pula WhatsApp. Menurut Gleicher, pembatasan penerusan pesan (message forwarding) di aplikasi pesan instan tersebut yang baru diluncurkan baru-baru ini merupakan upaya untuk menekan kemungkinan viralnya konten-konten yang dimanipulasi dalam aplikasi itu.

Kesamaan dari sejumlah upaya Facebook di atas menunjukkan satu hal: Tidak ada solusi absolut bagi permasalahan manipulasi konten ini. Yang dapat mereka lakukan adalah menekan penyebaran konten itu sehingga menimbulkan dampak negatif seminimal mungkin.

Ini senada dengan argumen Chesney dan Citron bahwa tidak ada solusi mutlak untuk menanggulangi deepfake. Mereka menyarankan bahwa ketimbang solusi penuh, maraknya deepfake "menuntut ketahanan (resilience)”.

Ketahanan yang mereka maksud adalah orang harus mulai sadar bahwa konten video dan audio tak boleh ditelan mentah-mentah.

“Singkatnya .... agar dapat bertahan dari ancaman deepfake, [masyarakat] harus belajar bagaimana hidup berdampingan dengan kebohongan,” tulis Chesney dan Citron.

Baca juga artikel terkait MEDIA SOSIAL atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf