Menuju konten utama
Miroso

Dari Rujak Soto hingga Dawet Sambel: Aneka Petualangan Rasa

Pernahkah kalian mencoba makanan-makanan merupakan campuran dari dua jenis makanan?

Dari Rujak Soto hingga Dawet Sambel: Aneka Petualangan Rasa
Header Miroso Campur Campur Bikin Sedap. tirto.id/Tino

tirto.id - Pernahkah kalian mencoba jenis makanan yang dicampur dari dua jenis makanan berbeda? Seperti rujak soto, rawon pecel, atau soto bakso. Jika dipisah, nama makanan itu sebenarnya biasa saja. Soto, rawon, pecel, bakso, adalah empat jenis makanan populer di Indonesia. Namun kalau digabung, tunggu dulu.

Bagi saya, nama-nama hidangan itu membangkitkan imajinasi dan rasa penasaran. Beberapa malah bikin mengernyit, karena rasanya tak terbayangkan.

Saya pertama kali mendengar tentang rujak soto itu belasan tahun lalu, dari seorang kawan yang kerap bolak-balik Banyuwangi- Yogyakarta. Pada masa itu, alih-alih banyak menampilkan foto makanan, media sosial masih sebatas balas-membalas testimoni. Jadi, informasi yang bersliweran belumlah sebanyak saat ini. Dan foto tentang rujak soto yang ada di Banyuwangi ini tidak mudah saya temukan. Alhasil, saya hanya dapat membayangkan makanan yang sama sekali asing, baik di pikiran maupun di lidah.

Apakah rujak soto itu rujak buah-buahan yang disiram kuah soto?

Atau soto daging (bisa ayam atau sapi) yang dicampur dengan buah-buahan?

Tak terbayangkan, kan?

Untung teman saya langsung meluruskan imajinasi saya yang kejauhan.

"Rujak cingur oi, bukan rujak buah," katanya.

Dari sana saya bisa membayangkan rujak cingur yang bercita rasa manis gurih, dibanjur kuah soto yang juga gurih. Lebih masuk akal. Otak juga sudah bisa membayangkan rasanya. Meski begitu, saya baru berhasil mencicipinya beberapa tahun yang lalu, ketika akhirnya menginjakkan kaki ke Banyuwangi. Tak mudah memang menemukan rujak soto ini di luar Banyuwangi, termasuk di Yogyakarta.

Uniknya, setelah saya membaca di sana-sini dan mengobrol dengan para penjualnya, makanan fusion seperti rujak soto ini rupanya bukanlah hasil inisiatif atau kreasi seorang tukang masak atau koki. Menu-menu semacam ini justru datang dari para pelanggan (yang mungkin terlalu kreatif).

Konon menurut kisahnya, rujak soto ini muncul di kisaran tahun 1970-an, berawal dari keinginan pembeli untuk menggabungkan dua menu yang sedang dijajakan di suatu kaki lima. Dua menu tersebut tak lain dan tak bukan adalah rujak dan soto.

Kenapa tiba-tiba pelanggan ini meminta dua menu digabung menjadi satu? Entahlah, tak ada yang tahu motivasinya. Mungkin mereka bosan dengan makanan sarapan yang itu-itu saja.

Ini juga terjadi pada rawon pecel yang memiliki sejarah mirip. Seorang pelanggan meminta menggabungkan dua menu yang tersedia: rawon dan pecel. Dan, voila... sajian rawon pecel pun tercipta, dan kemudian menjadi salah satu kuliner andalan Banyuwangi.

Penggabungan dua makanan semacam ini tak hanya terjadi pada dua makanan tadi. Banyak makanan lain yang tercampur aduk akibat permintaan pembeli. Contoh lain bisa jadi adalah soto bakso yang sempat ramai di era tahun 2000-an awal di Yogyakarta. Soto dan bakso sering sekali dijual di dalam satu warung yang sama, maka perpaduan itu sangat mungkin terjadi.

Begitu pula Magelangan --atau mawut di Jawa Timur-- yang selama ini ternyata tidak "tercipta" di Magelang. Orang Magelang dulu menyebutnya sebatas "sego goreng campur mie" – mirip seperti kegemaran saya memakan nasi dengan lauk mie, karbo dengan karbo. Bedanya, dalam sajian ini, nasi dan mie digoreng bersama. Lalu jenis makanan ini dikenal sebagai "cara orang Magelang", yang disebut Magelangan oleh orang-orang di Yogyakarta.

Lalu, di Kulonprogo juga terdapat makanan percampuran yang tak kalah unik, yaitu Dawet Sambel. Dari informasi yang dikumpulkan, makanan yang sudah ada sejak 60 tahun lalu ini juga dipercaya sebagai permintaan menu dari pelanggan di pedagang pecel yang juga menjual dawet.

Hadirlah dawet sambel yang berisi dawet dengan kucuran kuah gula Jawa yang dicampur bawang merah. Kemudian, sebagai pelengkap ditambah dengan taoge dan bawang merah goreng. Walaupun terdengar aneh, tapi rupanya masyarakat sekitar Jatimulyo, Kulonprogo, cukup menggemarinya. Mereka membelinya untuk sekedar dinikmati di rumah atau untuk suguhan ketika ada hajatan.

Infografik Miroso Campur Campur Bikin Sedap

Infografik Miroso Campur Campur Bikin Sedap. tirto.id/Tino

Meski begitu, penjual dawet sambel hingga kini tetap terhitung masih sedikit. Lokasi untuk mencicipinya pun terhitung jauh di pelosok, di suatu desa bernama Jatimulyo. Akan tetapi, karena uniknya dan potensinya, dawet sambel sudah ditawarkan sebagai salah satu kuliner khas di Kulonprogo. Bagi yang ingin mencicipinya, memang harus menyediakan waktu dan usaha lebih untuk menjangkau lokasi asal dawet sambel ini.

Tapi seleksi alam tetaplah berlaku. Tak selalu semua kreativitas ini cocok dengan selera masyarakat. Salah memadukan justru bisa merusak kedua rasa makanan yang sebelumnya sudah enak. Ketika gagal dan tak berkembang menjadi selera masyarakat, tentu makanan perpaduan semacam ini akan hilang.

Sementara, apabila rasanya cocok dan menjadi kegemaran masyarakat setempat, kemungkinan makanan ini untuk menjadi "makanan khas" terbuka lebar. Pamornya akan meroket di ranah industri wisata kuliner, untuk menawarkan suatu pengalaman yang berbeda pada wisatawan yang datang.

Karena itulah, bagi para penjual makanan, membuka diri untuk petualangan rasa dari pembeli tampaknya merupakan hal yang positif. Kalau memang dirasa enak, kenapa tak mencoba ditawarkan pula ke pelanggan lain? Jangan-jangan justru dapat menjadi suatu pilihan makanan unik yang baru, bukan?

Baca juga artikel terkait MIROSO atau tulisan lainnya dari Rizkie Nurindiani

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Rizkie Nurindiani
Editor: Nuran Wibisono