tirto.id - Matahari belum terlihat penampakannya, namun ribuan personel Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) telah berkumpul di Stasiun Tanjung Priok. Hari itu, Minggu (1/11/2026), mereka bersiap menindak Kampung Bahari, Jakarta Utara.
Kampung Bahari sendiri sudah dikenal sebagai kawasan yang terkenal karena tawuran dan peredaran gelap narkotika sejak 2005. Aksi kepolisian kali ini pun merupakan aksi kesekian kalinya oleh kepolisian sejak awal tahun 2000-an itu. Aksi perlawanan menjadi hal yang kerap terjadi saat penyergapan di Kampung Bahari. Hal ini pun telah diantisipasi oleh aparat dalam penindakan yang dimulai pukul 05.30 WIB itu.
"Jadi itu kemarin penggerebekannya dibagi dua tim. Sebagian itu nyerbu lewat perkampungan naik motor. Nah itu satu KRL memang disediakan dari pihak KAI untuk diisi penuh seluruh gerbong sama anggota kepolisian," kata Ferdy yang merupakan seorang tim multimedia Dittipidnarkoba Bareskrim saat dihubungi reporter Tirto, Senin (2/11/2026).
Cara penyergapan yang berbeda dengan KRL ini menjadi trik tersendiri, meskipun tak sepenuhnya berhasil. Kereta hanya dijalankan sekitar 5-7 menit hingga berhenti di tengah Kampung Bahari.
Lalu, penyerangan dimulai dari kelompok orang yang diduga bagian dari peredaran gelap narkoba. Batu hingga petasan diarahkan kepada para aparat yang turun dari kereta.
Ferdy mengatakan, operasi tetap difokuskan pada penggerebekan. Sebab, penyerangan memang kerap menjadi cara pengecoh untuk membuyarkan fokus penindakan dari kelompok jaringan narkoba di Kampung Bahari.
Sejumlah wartawan pun sudah mengikuti sejak awal rencana penyergapan di Stasiun Tanjung Priok. Kesaksian dari seorang jurnalis bernama Ello menunjukkan bahwa saat kereta mulai jalan, baru tiga menit pun sudah terlihat sejumlah orang berlarian.
"Nah, dari gangnya awal awal itu yang dari Stasiun Tanjung Priok, itu mereka sudah ada yang lihat-lihat tuh yang nongkrong di bantaran rel. Sudah ada yang lihat-lihat pada saat kereta polisi, kereta yang di-charter oleh polisi itu lewat. Nah, mereka pada kabur," tutur Ello kepada reporter Tirto.
Saat kereta berhenti dan dihujani serangan batu serta pertasan, Ello pun mengaku tak bisa dengan jelas melihat wajah para pelaku. Namun, dia memastikan kebanyakan adalah anak-anak muda.
Timpukan batu dan serangan petasan itu pun tak bisa dielakkan Ello. Punggungnya ikut terkena timpukan batu, meski dia sudah berada di belakang barisan anggota Brimob.
Kata Ello, penggerebekan kemudian tetap berlanjut dari bedeng pinggir rel hingga ke pemukiman warga. Kata dia, kawasan ini bukan area padat penduduk, tetapi kawasan perumahan seperti laiknya di Kampung Ambon, Jakarta Barat.
Saat penggerebekan dimulai, warga yang ada diminta aparat kepolisian untuk masuk ke dalam rumahnya. Bahkan, seorang bapak yang akan mengantarkan istrinya pergi pun harus menunda sampai giat penindakan selesai dilakukan.
Menurut Ello, warga memang ramai karena hari Minggu. Kendati demikian, penggerebekan yang dilakukan pun tak menjadi hal aneh bagi mereka, melainkan sudah menjadi tontonan biasa.
Jurnalis salah satu stasiun TV itu mengaku, memang penindakan yang dilakukan kepolisian bersama BNN kali ini berbeda. Serangannya lebih ringan dibandingkan penindakan sebelumnya yang hanya dilakukan pihak BNNP DKI Jakarta beberapa waktu lalu.
"Sebelumnya perlawanannya ya itu tembak-tembakan dengan petasan, lempar batu, petugas juga sempat kewalahanlah, kewalahan banget malah. Ya karena karena sudah diserang itu dari di jalan di area Martadinata itu polisi sudah diserang, sampai masuk ke dalam," ucap Ello.
Kali ini, kata dia, bandar pun tak ada yang didapat. Namun, kepolisian berhasil menyita berbagai jenis narkoba, alat produksi, senjata tajam, alat hisap (bronk), bahkan senjata api (senpi).
Dalam operasi tersebut, polisi mengaku telah menangkap 27 orang. Kapolda Metro Jaya, Komjen Dadang Hartanto, mengatakan bahwa penggerebekan tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin kepolisian untuk membersihkan kawasan yang menjadi tempat peredaran narkoba.
Sebelum operasi, polisi telah melakukan pemetaan terhadap sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat aktivitas para pengedar.
Dadang mengatakan, operasi dilakukan dengan menyisir sejumlah jalan kecil dan gang di kawasan Kampung Bahari. Petugas gabungan juga telah mengantisipasi kemungkinan para pelaku melarikan diri dari lokasi yang menjadi sasaran penggerebekan.
"Kampung Ambon, Boncos, dan hari ini di Bahari memang sudah lama saya warning dari media kemarin. Dari hasil mapping itu kita sudah tahu mereka mau lari ke mana," kata Dadang, Minggu (1/11/2026).
Ia menyebut polisi tidak menemukan barang bukti dalam jumlah signifikan dari hasil penyisiran tersebut. Meski demikian, petugas tetap mengamankan sejumlah barang bukti narkoba, senjata, dan data lain yang akan ditindaklanjuti.
"Pelaku-pelakunya kita sudah paham, mereka melarikan diri, tapi kan ada titiknya tempat-tempatnya," ujarnya.
Indikasi Bocornya Rencana Penggerebekan Kampung Bahari
Peran dari 27 orang yang ditangkap memang belum diungkap pihak kepolisian karena pemeriksaan mendalam masih dilakukan hingga kini. Namun, tak bisa dipungkiri Kapolda Metro Jaya, Komjen Dadang Hartanto, bahwa sejumlah bandar yang sudah menjadi target sasaran justru berhasil melarikan diri.
Ello selaku wartawan yang ikut dalam penggerebekan pun menceritakan mengenai bocoran dari warga sekitar. Bocornya rencana penggerebekan diakui warga kepada para wartawan yang tengah berada di sebuah warung usai penggerebekan.
Seorang ibu yang mengaku sebagai warga asli Kampung Bahari mengungkap, pukul 04.00 WIB, para bandar itu sudah mendapat peringatan. Mereka kemudian bergegas melarikan diri usai pemberitahuan itu.
"Wah, Abang, Abang mah telat, baru gerenbeknya pagi, orang mereka pada dari dari jam 04.00, dari jam 04.00 pagi aja tuh mereka rumahnya udah pada digedor-gedor rumah-rumah bandar, dia suruh keluar, suruh keluar, suruh keluar," kata Ello saat menceritakan kembali kalimat seorang ibu kepadanya usai penggerebekan.

Diakui Ello, memang berkemungkinan ada cepu yang membocorkan aksi penggerebekan sehingga para bandar dapat menyelamatkan diri. Bahkan, dari gang pertama saat kereta melintas pun orang-orang yang berlarian diduga menghubungi rekan-rekannya untuk menyelamatkan diri.
Kebocoran itu, kata dia, juga sudah terlihat dari perlawanan yang tidak seberapa dibandingkan saat penangkapan Bos Gendut, salah satu bandar narkoba dan target penyergapan BNNP dua bulan lalu. Ello mengungkap bahwa saat penyergapan Bos Gendut, perlawanan dengan senpi terjadi saat rumah target disatroni dan ketika aparat menuju keluar Kampung Bahari.
Ditambahkan Ello, memang jaringan narkoba Kampung Bahari memiliki mata-mata yang merupakan warga sekitar. Selain itu, mereka punya CCTV di berbagai titik yang dapat dengan mudah melihat orang-orang mencurigakan.
Di sisi lain, Ferdy tak menampik kemungkinan bocornya upaya penggerebekan itu sebelum aparat datang. Sebab, rumah warga yang diduga ditinggali para bandar memang kosong dan hal ini juga terjadi di Kampung Ambon saat penindakan beberapa waktu lalu.
"Kalau dibilang bocor, kemungkinan iya karena nyampe di lokasi itu semuanya udah kosong, bedeng-bedeng yang di sini tuh udah kosong. Terus rumah-rumah yang dijadikan target itu rata-rata kosong," ungkap Ferdy.
Walaupun terindikasi bocor, kendati demikian dipastikan Ferdy bahwa aparat tak gentar melakukan penindakan. Bahkan, KAI dan Pemprov juga turut mendukung penindakan ini dengan membongkar seluruh bangunan liar yang berada di rel kereta di wilayah Kampung Bahari.
"Jadi hari ini semuanya bersih. Jadi udah enggak ada lagi lah lapak-lapak bedeng di sepanjang jalur rel kereta Kampung Bahari," tutur Ferdy.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, pun memberikan dukungan sepenuhnya kepada polisi untuk memberantas narkoba, khususnya di Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
“Pemerintah DKI Jakarta memberikan support sepenuhnya, dukungan sepenuhnya, kepada Polri yang sedang memberantas, mengambil tindakan tegas, perang terhadap narkoba. Apa yang dilakukan di Kampung Bahari, tentunya Pemerintah DKI Jakarta memberikan support sepenuhnya untuk itu,” ucap Pramono di Balai Kota, Jakarta, dikutip dari Antara.
Dia pun berharap upaya memerangi narkoba tidak dilakukan secara setengah-setengah. Pihaknya bahkan menegaskan akan bekerja sama dan mendukung dalam upaya pemberantasan narkoba di Jakarta.

Intimidasi di Kampung Bahari dan Kerawanannya
Sebagai wartawan yang memang ditugaskan meliput di seluruh wilayah Jakarta Utara, Ello menggambarkan bagaimana Kampung Bahari. Kawasan ini diakuinya memang terkenal "berbahaya".
Menurut Ello, kawasan ini memang tidak bisa diliput begitu saja tanpa adanya aparat yang melakukan kegiatan. Ancamannya sangat besar karena intimidasi dari kelompok jaringan narkoba berkemungkinan terjadi.
"Bisa dibilang Bronx, apa ya? Kita aja, kita ajakan anak kita aja tuh anak wilayah aja. itu enggak enggak enggak berani untuk liputan di situ. Enggak berani untuk liputan situ, kecuali kalau misalnya ada polisi, ya. Kalau misalnya ada polisi, kita baru baru PD-lah," kata Ello.
Dalam penindakan di Kampung Bahari Minggu (1/11/2026), bahkan intimidasi kepada wartawan terjadi. Seorang jurnalis salah satu TV mendapatkan intimidasi saat akan melakukan laporan langsung.
Saat itu, aparat memang sudah membubarkan diri dari lokasi kejadian. Namun, kewajiban pelaporan langsung mengharuskan wartawan tersebut tetap di lokasi.
Seorang warga kemudian menegur wartawan itu untuk menghentikan pelaporan langsung. Orang yang tidak diketahui identitasnya itu meminta tidak adanya pengambilan gambar apapun.
"Kalau misalnya polisi pergi, ya udah kita mendingan ikut pergi aja, jangan nahan di situ. Karena di situ tuh ada orang asing aja, itu udah pasti langsung diituin tuh, diintimidasi kayak macam ditanya-tanya, 'Lu, ngapain lu di sini? Lu nyari siapa?' Segala macam," ujar Ello.
Meski begitu, Ello mengaku tak ada persiapan khusus saat akan meliput aksi penggerebekan. Perlindungan pengamanan pun tidak digunakan karena memang pemberitahuan adanya penggerebekan itu terbilang dadakan kepada wartawan.
Di sisi lain, Ello mengungkap bahwa tak semua warga di Kampung Bahari terlibat dalam jaringan narkoba. Sejumlah warga bekerja melaut karena memang kawasan dekat pelabuhan dan pesisir.
"Kalau yang pernah gua dengar, sih, ada yang sebagai nelayan ada, sebagai pekerja, sebagai pelaut itu, itu juga ada. Ada yang jadi penjual, kayak kan di dekat situ kan ada pasar, tuh, ada juga yang jualan juga di pasar, enggak semuanya, enggak semuanya narkoba, penjual narkoba," tutur Ello.
Dia pun menilai, pembenahan kawasan Kampung Bahari diharapkan perlu dilakukan agar menjadi lebih baik. Sejauh ini, tindak lanjut dari penataan itu pun masih terus diupayakan pihak terkait.

Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































