tirto.id - Nilai tukar rupiah menguat tipis pada pembukaan perdagangan Selasa (3/11/2026) ke level Rp18.149 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mata uang Garuda naik 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya, Senin (2/11), yang berada di level Rp18.156 per dolar AS.
Meski mencatatkan penguatan pada awal perdagangan, pergerakan rupiah masih dibayangi sejumlah sentimen eksternal dan domestik.
Analis menilai peluang diplomasi antara Iran dan AS, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang perlu dicermati pasar.
Sebelumnya, rupiah mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Senin dengan turun 9 poin atau 0,05 persen dari posisi penutupan sebelumnya, yakni Rp18.147 per dolar AS, menjadi Rp18.156 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, menyebut pergerakan rupiah dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik, terutama peluang berlangsungnya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat.
“Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui sambungan telepon pada hari Sabtu (31/10) bahwa ia lebih memilih untuk memberikan lebih banyak waktu bagi diplomasi sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan tindakan militer,” ujar Ibrahim dikutip Antara, Senin (2/11/2026).
Prospek pembicaraan lanjutan antara pihak-pihak yang terlibat konflik memberikan sedikit kelegaan bagi pasar. Namun, hal ini tetap dipandang sebagai risiko penting karena Trump sebelumnya telah mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer apabila proses negosiasi tidak membuahkan hasil.
Selain itu, pejabat Iran dan Qatar dilaporkan telah melakukan diskusi selama tiga hari berturut-turut untuk mencari jalan keluar dari konflik.
Teheran menyatakan masih membuka peluang diplomasi, tetapi pada saat yang sama tetap bersiap mempertahankan diri. Qatar sendiri berupaya menjadi penengah dalam pembahasan usulan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi perhatian pasar energi karena merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak.
“Jalur perairan tersebut tetap menjadi perhatian utama bagi pasar energi. Serangan terhadap kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman serta asuransi,” jelas Ibrahim.
Di luar faktor geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter AS. Ibrahim menyoroti pernyataan bernada hawkish dari dua pejabat The Fed yang mengisyaratkan perlunya pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.
Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, disebut menginginkan setidaknya dua kali kenaikan suku bunga sedangkan Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, juga mengharapkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Musalem menilai kebijakan moneter yang berlaku saat ini masih terlalu longgar.
Sikap tersebut menjadi perhatian karena kenaikan suku bunga AS dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar. Jika imbal hasil aset di AS meningkat, investor berpotensi mengalihkan dana ke pasar tersebut sehingga dapat menambah tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.
Risiko Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan dan Proyeksi Kenaikan BI-Rate
Di tengah dinamika sentimen eksternal tersebut, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi muncul dari pelebaran defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD).
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, mengingatkan bahwa pelebaran CAD dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar, terutama ketika ketidakpastian global meningkat.
Faisal menyebut sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, antara lain ketegangan geopolitik, sikap hawkish The Fed, serta potensi perubahan klasifikasi Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Berbagai risiko tersebut diperkirakan masih membayangi pasar setidaknya hingga semester I 2027.
"Faktor-faktor tersebut dapat semakin memperkuat sentimen risk-off dan memicu arus modal keluar [capital outflow] lebih lanjut," kata Faisal.
Tim ekonom Permata Bank memperkirakan CAD Indonesia akan melebar menjadi 2,49 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi 0,09 persen terhadap PDB pada 2025. Proyeksi defisit transaksi berjalan pada 2027 juga diperkirakan masih berada di kisaran 2,49 persen terhadap PDB.
Dari sisi kebijakan moneter domestik, tim ekonom Permata Bank memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan BI-Rate satu kali lagi menjadi 6,00 persen sebelum akhir 2026. Suku bunga tersebut diperkirakan dipertahankan sepanjang 2027.
Namun, Faisal melihat masih ada kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan apabila ketidakpastian eksternal dan domestik meningkat secara signifikan. Dalam kondisi tersebut, BI dinilai memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga setidaknya 50 basis poin pada 2027.
Editor: Prihatini Wahyuningtyas
Masuk tirto.id






































