Menuju konten utama

AS Serang Pulau Qeshm Iran, Harga Minyak Kembali Naik

Langkah ini langsung membangkitkan kekhawatiran pelaku pasar akan eskalasi konflik serta ancaman gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

AS Serang Pulau Qeshm Iran, Harga Minyak Kembali Naik
Gambar ini yang diposting di akun X Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menunjukkan kapal tanker minyak mentah Centuries, yang terakhir berlabuh di Venezuela, saat ditangkap oleh Penjaga Pantai AS pada 20 Desember 2025. Amerika Serikat "menangkap" sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela pada 20 Desember, serangan terbaru dalam kampanye tekanan terhadap Caracas, kata pemerintah AS. Ini adalah kali kedua dalam dua minggu pasukan AS mencegat sebuah kapal tanker di wilayah tersebut, dan terjadi beberapa hari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan blokade "kapal minyak yang dikenai sanksi" yang menuju dan meninggalkan Venezuela. (Foto oleh Handout / Departemen Keamanan Dalam Negeri AS / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pasar energi global kembali bergejolak. Harga minyak mentah terpantau merangkak naik pada perdagangan awal di Asia, Selasa (3/11/2026), menyusul laporan aksi militer Amerika Serikat yang menggempur Pulau Qeshm di Iran.

Langkah ini langsung membangkitkan kekhawatiran pelaku pasar akan eskalasi konflik yang sudah memasuki bulan kedelapan serta ancaman gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data perdagangan per pukul 01:04 GMT, kontrak berjangka minyak mentah Brent mencatat kenaikan 48 sen (0,5 persen) ke level 105,25 dolar AS per barel. Tren serupa juga dialami minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang beralih naik 47 sen (0,5 persen) menjadi 96,93 dolar AS per barel.

Pergerakan ini terjadi sehari setelah Brent sempat mengalami tekanan jual tajam dan ditutup melemah 8,66 dolar AS atau 7,63 persen di level 104,77 dolar AS per barel pada Senin kemarin.

The Wall Street Journal, dengan mengutip sejumlah sumber internal pejabat AS, melaporkan bahwa serangan ke Pulau Qeshm tersebut dilancarkan dengan dalih pertahanan.

Beberapa pejabat menyebut operasi itu bertujuan mencegah militer Iran leluasa menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi jalur vital Selat Hormuz.

"Laporan tersebut kembali menambahkan premi risiko ke dalam harga minyak. Justru ketika pasar mulai memperhitungkan jalur diplomatik yang lebih baik, pengingat akan aktivitas militer yang sedang berlangsung ini telah mengubah nada pasar," ujar Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, dikutip dari Reuters.

Di tengah situasi yang memanas ini, dinamika diplomasi tetap berjalan. Pihak Teheran menyatakan pada hari Senin bahwa komunikasi dengan Washington untuk mencari jalan keluar perang masih berlanjut.

Pernyataan itu disampaikan menyusul serangkaian perundingan dengan mediator Qatar yang melahirkan proposal baru, meski belum membuahkan hasil.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada hari Senin (2/11/2026) melontarkan keraguan ihwal rencana kelanjutan serangan militer terhadap Iran, sekaligus membuka peluang tercapainya sebuah kesepakatan damai.

Tekanan politik domestik turut membayangi langkah pemerintah AS, mengingat eskalasi perang sejak akhir Februari lalu telah mendongkrak harga bensin yang memberatkan para pemilih di tengah momentum pemilihan sela (midterm elections) AS.

Konflik berkepanjangan ini terbukti telah memangkas drastis arus lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menyuplai sekitar seperlima kebutuhan minyak mentah dan gas alam dunia.

Kendati demikian, sinyal perdamaian sempat muncul setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah memberikan kewenangan khusus kepada pemerintah untuk mengawal perundingan damai.

Selain fokus pada Timur Tengah, perhatian geopolitik pekan ini juga tertuju ke Abu Dhabi. Amerika Serikat dijadwalkan mempertemukan delegasi Ukraina dan Rusia pada 10–11 November mendatang guna membahas penghentian perang, perjanjian keamanan pascaperang, serta langkah-langkah deeskalasi.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher