Bongkar Jaringan JAD & ISIS, Densus 88 akan Bertemu Liaison Officer

Oleh: Adi Briantika - 24 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Densus 88 akan mengundang pihak Liaison Officer untuk mengungkap jaringan teroris JAD dan ISIS, salah satunya terkait penyaluran dana.
tirto.id - Jajaran Densus 88 akan bertemu dengan mitra pengimbang (counterpart) untuk mengungkap jaringan terorisme Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terhubung dengan ISIS, salah satu yang akan didalami ialah aliran dana.

Sebab JAD di Indonesia mendapatkan uang operasionalisasi dari Saefulah, penyalur dana dari lima negara.

"Densus 88 sudah menyampaikan para perwakilan Kedubes yang ada di Indonesia, ada Liaison Officer (petugas penghubung) yang diundang untuk mengomunikasikan terkait jaringan terorisme," ujar Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (24/7/2019).

Pihak Densus merencanakan pertemuan itu pada pekan ini. Nantinya, akan menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk mengusut aliran dana tersebut. Saefulah mendapatkan kiriman uang dari 12 orang.

Ke-12 orang itu mengirimkan dana sejak Maret 2016 hingga September 2017. Total dana adalah 28.921.89 dolar AS yang dikirim melalui Western Union.

Dana itu digunakan untuk operasionalisasi JAD dan diterima oleh kaki tangan Saefulah yakni Novendri. Pengirim uang kepada Saefulah antara lain:

1.Yahya Abdul Karim dari Trinidad & Tobago (4 kali);
2. Fawaaz Ali dari Trinidad & Tobago;
3. Keberina Deonarine dari Trinidad & Tobago;
4. Ahmed Afrah dari Maldives;
5. Ricky Mohammed dari Trinidad & Tobago (2 kali);
6. Ian Marvin Bailey dari Trinidad & Tobago;

7. Pedro Manuel Morales Mendoza dari Venezuela;
8. Mehboob Suliman dari Jerman;
9. Simouh Ilyas dari Jerman;
10. Muslih Ali dari Maldives;
11. Furkan Cinar dari Trinidad & Tobago;
12. Jonius Ondie Jahali dari Malaysia.


Uang yang diterima Saefulah, ujar Dedi, diberikan lagi kepada kaki tangannya yaitu Novendri. Duit itu digunakan untuk operasionalisasi JAD. Saefulah juga mengatur perjalanan Muhammad Aulia dan 11 orang lainnya ke Khorasan, Afghanistan.

Khorasan diduga sebagai lokasi menetapnya Saefulah saat ini. Tetapi, Aulia Cs dideportasi di Bangkok pada 13 Juni 2019, kemudian ditangkap di Bandara Kualanamu, Medan, oleh Densus 88 Antiteror.

Polisi juga masih memburu Abu Saidah, pria suruhan Saeful guna bertemu dengan Novendri di Mal Botani Bogor pada September 2018, untuk memberikan Rp18 juta.

Lantas Rp16 juta dari uang itu Novendri serahkan ke pemimpin JAD Bekasi yakni Bondan untuk pembuatan bom guna melakukan aksi teror pada demonstrasi 21-22 Mei lalu di depan kantor Badan Pengawas Pemilu, tapi dalam kurun waktu 8-14 Mei mereka diringkus polisi.

Saefulah juga menyuruh Novendri memberikan dana ke Mujahidin Indonesia Timur (MIT) untuk keberlangsungan kelompok yang berada di Poso itu.

Selanjutnya, Saefulah juga berencana mengirimkan uang kepada anggota JAD Kalimantan Timur, Yoga, untuk membeli senjata dari Filipina dan diselundupkan ke Indonesia. Yoga yang diringkus pada Juni 2019 itu berperan sebagai perantara JAD Indonesia dan jaringan teroris Filipina di Malaysia.


Baca juga artikel terkait JARINGAN TERORIS atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight